Setelah Rakornas Partai Demokrat Usai

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011.

Partai Demokrat benar-benar sedang dilanda krisis internal yang amat berat. Upaya untuk mengonsolidasi, memperbaiki, dan meningkatkan kinerja partai bukanlah sesuatu yang mudah, meski rapat koordinasi nasional (rakornas) sudah berlangsung di Sentul International Conference Center, Bogor, Jawa Barat,Sabtu–Minggu (23- 24 Juli 2011).

Partai berlambang segitiga biru ini seakan tidak berdaya untuk menyelesaikan persoalan internalnya sampai-sampai salah satu spanduk yang tersebar di sepanjang jalan dari Jakarta ke Sentul berbunyi: ”Ya Allah, jauhkan kami dari fitnah,buruk sangka, dan adu domba.

”Doa saja tidak cukup jika jajaran di dalam Partai Demokrat tidak sungguh- sungguh berkeinginan mengambil langkah-langkah terukur dan terarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendera partai itu.

Spanduk lain yang berbunyi: ”Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga” atau ”Berbenah hari ini, berhasil hari esok” juga kurang tepat dipajang di berbagai tempat, karena kalimat-kalimat itu lebih pantas ditujukan kepada para kader partai, bukan khalayak luas.

Kepanikan di internal partai tampaknya melandasi mengapa Rakornas Partai Demokrat dilakukan. Kita semua tahu bahwa kasus dugaan korupsi yang dilakukan mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M Nazaruddin benar-benar mengharubirukan jajaran Partai Demokrat.

Kasus Nazaruddin juga menyeret kader-kader lain di Partai Demokrat yang menurut Nazaruddin juga menerima aliran dana dari korupsi tersebut. Satu hal yang amat menohok Partai Demokrat adalah ucapan Nazaruddin yang menuduh Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menggunakan dana APBN untuk memenangi pertarungan memperebutkan kursi ketua umum partai saat Kongres II Partai Demokrat di Bandung tahun lalu.

Belum lagi soal Nazaruddin usai,muncul pula kasus Andi Nurpati yang diduga memalsukan surat Mahkamah Konstitusi terkait Pemilu Legislatif 2009. Satu hal yang menarik dari Rakornas Partai Demokrat ialah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie tidak hadir dalam acara penutupan rakornas.

Hal kedua yang menarik, Rekomendasi Sentul yang berisi 10 butir dibacakan oleh Jhonny Allen Marbun, kader partai yang diduga juga terkait kasus korupsi. Lebih lucu lagi, dari 10 butir yang antara lain berisi pembersihan partai dari kaderkader yang diduga melakukan korupsi, tidak ada satu pun yang menyebut nama Nazaruddin.

Ucapan Anas Urbaningrum yang mengatakan bahwa Partai Demokrat ”telah tutup buku”dalam kasus Nazaruddin justru mengundang pertanyaan, karena selama ini justru kasus ini yang memperburuk citra partai di mata masyarakat.Di dalam rakornas ini tidak ada hal-hal yang konkret mengenai bagaimana partai akan melakukan bersihbersih diri.

Semua yang tertuang dalam rekomendasi hanyalah kalimat-kalimat normatif yang sudah sering didengar khalayak luas. Hasil Rakornas Partai Demokrat memang sebuah antiklimaks. Tidak sedikit orang yang berharap bahwa apa yang dihasilkan dalam rakornas yang memakan biaya sekitar Rp5 miliar itu benar-benar merekomendasikan sesuatu yang konkret.

Kader yang sudah dipecat dari jabatan bendahara umum partai dan bahkan dari keanggotaan Partai Demokrat, M Nazaruddin, posisinya tidak digantikan oleh kader partai yang lain. Tampaknya partai begitu takut terjadi pergantian struktur kepengurusan DPP Partai Demokrat.

Isu mengenai pergantian ketua umum atau kongres luar biasa (KLB) juga amat ditabukan karena jajaran Partai khawatir efek politiknya akan sangat meluas. Dari sisi Ketua Dewan Pembina,kekhawatiran itu muncul karena jika Partai Demokrat melakukan pergantian ketua umum partai di tengah jalan, Partai Demokrat membuka kotak pandora yang memungkinkan seorang presiden yang sedang menjabat diganti di tengah jalan sebelum masa baktinya berakhir.

Namun, dukungan SBY terhadap Anas Urbaningrum bisa juga menimbulkan komplikasi politik internal jika ternyata tuduhan Nazaruddin bahwa Anas menggunakan dana APBN untuk pemenangan dirinya pada kongres tahun lalu adalah benar.Ini bukan saja mencoreng citra partai, melainkan partai juga bisa dibubarkan karena perbuatan melanggar hukum tersebut.

Anas tentu memiliki tugas yang teramat berat bukan dalam mengonsolidasi para kader partai,melainkan untuk meyakinkan publik, terutama di jajaran Partai Demokrat bahwa dirinya bersih dan karena itu memiliki otoritas untuk melakukan pembersihan di jajaran partai.

Acara penutupan Rakornas Partai Demokrat yang terasa hambar itu menunjukkan sesungguhnya masih ada ketidakpercayaan di antara faksifaksi di dalam partai. Pidato Anas yang tenang, tiadanya tepuk tangan yang membahana saat ia berpidato, dan wajahwajah yang tanpa ekspresi dari para peserta rakornas saat pidato berlangsung,n menunjukkan masih ada problem internal yang tidak bisa dituntaskan oleh rakornas itu.

Bukan mustahil masih ada api dalam sekam di dalam tubuh partai penguasa itu. Rakornas memang bukan ajang untuk menggoyang Anas.Tanpa adanya upaya untuk membicarakan persoalan partai dari hati ke hati di antara para kader partai dari semua faksi yang ada, konsolidasi partainya hanyalah semu belaka. Jika konsolidasi sesungguhnya tidak terjadi, jangan harap perbaikan dari dalam partai dan peningkatan kinerja partai menjadi suatu kenyataan.

Dimuat di Seputar Indonesia, 26 Juli 2011

0 Responses to “Setelah Rakornas Partai Demokrat Usai”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: