Format Baru Setgab Koalisi

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Enam partai politik yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi Parpol Pendukung Pemerintah akhirnya menandatangani kontrak baru koalisi. Penandatanganan yang dilakukan para pimpinan parpol di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Boediono itu menandai komitmen baru parpol meningkatkan kinerja pemerintahan hasil Pemilu 2009.

Apakah akan lebih efektif? Penandatanganan nota kesepakatan baru enam parpol koalisi tersebut mengakhiri spekulasi bakal dikeluarkannya Partai Keadilan Sejahtera dari Setgab Koalisi. Seperti saya kemukakan sebelumnya (Setgab di Ujung Tanduk, dalam SINDO, 2/3), Presiden SBY berkepentingan untuk mempertahankan formasi parpol koalisi pendukungnya betapa pun “bandelnya”Partai Golkar dan PKS di Senayan.

Bagi SBY,bahkan tidak menjadi soal,apakah koalisi parpol pendukungnya benar-benar efektif dalam mendukung, atau sebaliknya, justru mengganggu kinerja pemerintahannya. Penjelasan atas hal ini tidak semata-mata terkait sosok personal Presiden SBY yang lebih berorientasi kompromi dan sejauh mungkin menghindari konflik betapa pun hal itu berdampak pada kinerja pemerintahan yang cenderung transaksional.

Jauh lebih penting dari soal kinerja, SBY mempertahankan formasi koalisi pertama- tama dan terutama adalah dalam rangka pencitraan diri sebagai pemimpin yang merangkul berbagai perbedaan politik.

Tidak Berani
Secara normatif butir-butir kesepakatan baru seperti diungkap berbagai media barangkali memang lebih baik dari materi kesepakatan dalam format Setgab Koalisi sebelumnya. Sekurang-kurangnya Presiden SBY memperoleh komitmen baru dari enam parpol pendukung untuk mengawal pemerintahannya hingga Pemilu 2014.

Namun di sisi lain, sulit dibantah, baik Partai Demokrat maupun lima parpol koalisi lainnya, tampaknya tidak berani merumuskan koridor terkait isu-isu politik dan kebijakan strategis yang acapkali menjadi sumber konflik di antara parpol anggota koalisi.

Padahal, kesepakatan terkait garis-garis besar isu strategis itu diperlukan untuk mengikat komitmen parpol anggota koalisi, sehingga arah kebijakan pemerintahan pun menjadi lebih jelas dalam sisa waktu tiga setengah tahun pemerintahan SBY. Barangkali di sinilah letak dilema Presiden SBY.

Di satu pihak secara retorik membutuhkan koalisi parpol yang loyal mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah. Namun di sisi lain, tidak berani merumuskan apa saja ruang lingkup isu strategis yang memerlukan dukungan politik dari parpol koalisi di DPR.

Karena itu, sebenarnya relatif tidak ada substansi yang benar-benar baru di balik format Setgab Koalisi yang ditandatangani pimpinan parpol awal pekan ini, kecuali sekadar penyegaran atas komitmen normatif enam parpol terhadap pemerintahan SBYBoediono.

Masih Cek Kosong
Dalam bahasa yang lain, para pimpinan parpol koalisi sebenarnya masih menandatangani “cek kosong” yang isinya tetap bisa ditafsirkan berbeda-beda oleh parpol anggota koalisi. Itu artinya potensi konflik di antarparpol pendukung SBY masih tetap besar karena desain koalisi relatif tak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Karena tidak ada kesepakatan terkait garis besar ruang lingkup isu strategis yang harus dikawal bersama oleh parpol koalisi, potensi konflik sewaktu- waktu bisa muncul dan melahirkan ketegangan politik baru dalam relasi Presiden dan DPR seperti terjadi ketika Golkar, PKS,dan PPP melawan koalisi dalam kasus Bank Century.

Meskipun ada klausul yang menyatakan bahwa parpol yang berbeda pandangan dengan Setgab diminta keluar dari koalisi, hal itu sama sekali tidak menjamin berkurangnya sikap kritis dan bahkan “perlawanan” Golkar dan PKS terhadap pemerintahan SBYBoediono.

Bagi dua parpol yang bandel ini,harga beberapa kursi kabinet yang mereka peroleh tentu terlalu “murah”untuk dipertukarkan dengan potensi kerugian parpol akibat berkurangnya dukungan elektoral hanya karena bersikap “yes man”terhadap pemerintah.

Selain itu, format baru koalisi, sekurang-kurangnya seperti diwartakan berbagai media, juga tidak secara tegas merumuskan bentuk sanksi yang diterima parpol bila berbeda sikap politik dengan Setgab Koalisi.

Terkait hal ini, materi kontrak baru hanya menyatakan bahwa pelanggaran atas kesepakatan akan berbuah sanksi. Tidak begitu jelas, apa yang dimaksudkan sebagai “pelanggaran”dan apa bentuk sanksi yang dikenakan bagi parpol yang melanggarnya.

Saling Membutuhkan
Pertanyaannya, mengapa Golkar atau PKS tidak ditendang saja dari koalisi jika tidak ada jaminan bahwa kedua parpol tersebut secara permanen mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah? Atau,mengapa Golkar dan PKS tidak mundur saja dari koalisi dan bergabung ke kubu oposisi?

Di luar kebutuhan Presiden SBY untuk mencitrakan diri sebagai pemimpin yang merangkul semua,Golkar dan PKS berkepentingan pula memanfaatkan Setgab Koalisi sebagai ruang untuk turut meraup rezeki kekuasaan yang lebih melimpah ketimbang jika mereka berada di luar koalisi.

Sudah lazim diketahui,para pejabat publik dari parpol—seperti menteri, anggota parlemen, kepala daerah—dapat diibaratkan sebagai “ATM”bagi parpol mereka masing-masing. Jadi, baik SBY maupun parpol koalisi pada dasarnya saling membutuhkan di antara mereka.

Karena itu, format baru koalisi sebenarnya tak lebih dari strategi SBY untuk meredam kekecewaan para petinggi Partai Demokrat lainnya yang pernah berilusi mengenai kocok ulang koalisi dan perombakan kabinet.

Itu artinya, ke depan kita tak hanya masih akan menyaksikan konflik dan ketegangan politik dalam relasi Presiden-DPR, tetapi juga berbagai langkah politik SBY yang justru memenjara dirinya sendiri.●

Dimuat di Seputar Indonesia, 25 Mei 2011

0 Responses to “Format Baru Setgab Koalisi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d bloggers like this: