Babak Baru Dugaan Korupsi di Demokrat

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011.

Dugaan kasus korupsi yang melibatkan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin memasuki babak baru. Pada babak pertama, nama Nazaruddin dikaitkan dengan dugaan penyuapan dalam proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games XVI di Palembang yang melibatkan Sesmenpora Wafid Muharam.

Wafid ditangkap KPK pada 21 April 2011 bersama Direktur PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang dan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris. Nazaruddin adalah pendiri PT Anak Negeri dan disebut- sebut sebagai bos Mindo Rosalina Manulang, sedangkan PT DGI adalah kontraktor proyek wisma atlet dan sempat menjadi satu-satunya perusahaan swasta murni yang lolos kualifikasi tender proyek pembangunan gedung baru DPR yang amat megah itu.

Pada babak baru,nama Nazaruddin disebut-sebut sebagai anggota Komisi III dan anggota Badan Anggaran DPR yang memberikan ”uang tanda persahabatan” kepada Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi (Sekjen MK) Janedjri M Gaffar pada September 2010 sebesar 120.000 dolar Singapura atau setara Rp 830 juta.

Empat hari kemudian Ketua MK Mahfud MD memerintahkan agar uang itu dikembalikan oleh Janedjri kepada Nazaruddin dengan bukti pengembalian agar MK tidak dituduh menerima suap dari Nazaruddin. Jika kita mendengarkan pernyataan Ketua MK Mahfud MD––baik saat konferensi pers bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 20 Mei 2011 maupun saat Mahfud MD memberikan klarifikasi di Metro TV, 22 Mei 2011 malam–– kita akan terhenyak.

Laporan Mahfud MD kepada Presiden ternyata bukan baru pada 20 Mei itu. Ia sudah menceritakan kasus itu kepada SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat pada November 2010 secara lisan. ”Saat itu,” kata Mahfud MD,”Pak SBY menyatakan akan melakukan pembinaan.” Ternyata tidak ada langkah lanjut dari SBY sampai isu suap di Kemenpora terungkap ke publik.

Baru pada 10 Mei 2011,SBY menghubungi Mahfud MD di Bali dan meminta laporan tertulis. Laporan tertulis itu diserahkan Mahfud MD kepada SBY melalui Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana pada 12 Mei 2011. Baru kemudian pada 20 Mei 2011,SBY meminta penjelasan langsung dari Mahfud MD, diakhiri dengan ajakan SBY untuk melakukan konferensi pers di Istana Negara.

Perlu dikemukakan di sini bahwa surat Mahfud MD ditujukan kepada SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, bukan SBY sebagai Presiden RI. Mahfud ingin meletakkan persoalan ini sebagai persoalan etika di internal Partai Demokrat, bukan persoalan hukum, walau Mahfud siap untuk dipanggil KPK.

Ini berarti Partai Demokrat bisa saja menjatuhkan sanksi pelanggaran etika politik kepada Nazaruddin tanpa melalui proses hukum terlebih dahulu. Namun, seperti kita baca,dengar, dan lihat dari berbagai media massa, sampai saat ini masih ada tarik ulur di dalam Partai Demokrat mengenai kasus Nazaruddin itu.Ada kader Partai Demokrat, seperti Kastorius Sinaga,yang membuat pernyataan bahwa Dewan Kehormatan Partai Demokrat sudah memutuskan bahwa Nazaruddin diberi kesempatan untuk memilih satu dari dua opsi, mundur atau dipecat.

Ada kader lain seperti Ruhut Sitompul yang menyatakan bahwa Kastorius tidak memiliki tupoksi (tugas pokok dan fungsi) untuk membuat pengumuman politik semacam itu dan Kastorius sudah ditegur keras oleh partai.Ada tokoh Partai Demokrat, EE Mangindaan, yang secara terus terang meminta Nazaruddin mundur agar citra Partai Demokrat tak tercoreng.

Ada pula kader Partai Demokrat Angelina Sondakh yang membuat pernyataan pers bahwa dia dikhianati oleh teman-teman Partai Demokrat sehingga namanya disebutsebut sebagai salah satu yang terlibat kasus proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games tersebut.Terakhir, tapi penting, Nazaruddin tetap menyatakan bahwa pernyataan Mahfud MD adalah fitnah dan akan mengambil langkah hukum terhadap Mahfud MD atas pencemaran nama baiknya itu.

Kalap
Lepas dari benar dan tidaknya tuduhan suap-menyuap yang dilakukan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin tersebut tampak jelas betapa kekalapan sedang terjadi di internal Partai Demokrat.

Mengapa SBY sebagai Ketua Dewan Pembina dan Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat tidak melakukan ”pembinaan” sejak Mahfud MD melaporkan kasus itu secara lisan kepada SBY pada November 2010? Mengapa pula baru tadi malam ada keputusan resmi dari Dewan Kehormatan Partai Demokrat terhadap pelanggaran etika tersebut?

Mengapa pula kader-kader Partai Demokrat membuat pernyataan yang saling mematahkan jika tidak ingin dikatakan terjadi perpecahan di tubuh partai pemenang Pemilu Legislatif 2009 itu?

Suka atau tidak, apa pun keputusan Partai Demokrat tetap akan ada dampak buruknya terhadap partai tersebut. Namun, tetap lebih baik bagi Partai Demokrat untuk mengambil sikap tegas, paling tidak memberhentikan sementara Nazaruddin dari jabatannya sebagai Bendahara Umum DPP Partai Demokrat.

Citra partai akan lebih terjaga jika itu dilakukan secepatnya. Langkah yang lebih berani ialah apabila Partai Demokrat ternyata mengambil sikap tegas, meminta Nazaruddin mundur atau dipecat. Sikap yang amat hati-hati dari pimpinan Partai Demokrat bukan mustahil karena partai ini khawatir efek bola salju yang akan menimpa partai berlambang segitiga biru ini.

Bukan mustahil di tengah kekalapannya menjadi sasaran tuduhan suap-menyuap, Nazaruddin akan membongkar aib yang ada di tubuh Partai Demokrat, apakah soal money politics yang selama ini terjadi di tubuh partai atau soal bagaimana ia sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat telah berupaya untuk menambah pundi-pundi partai sebagai persiapan pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden pada 2014.

Sebagai seorang bendahara umum, dari faksi mana pun Nazaruddin berasal, ia tentu memikul beban yang amat berat untuk menambah pundi-pundi partai, apakah melalui sumber-sumber yang legal ataupun ilegal. Bisa saja ”uang persahabatan” diberikan oleh Nazaruddin kepada Sekjen MK Janedjri Gaffar karena Nazaruddin berharap MK dapat memenangkan calon kepala daerah dari Partai Demokrat jika ada kasus-kasus gugatan pemilu kepala daerah yang masuk ke MK.

Atau ini juga terkait soal proses legislasi di DPR mengenai anggaran buat MK karena Nazaruddin juga anggota Badan Anggaran. Bisa saja ada kaitan antara politik, kekuasaan, dan bisnis dalam kasus Nazaruddin dan Janedjri ini.Namun,keteguhan Mahfud MD yang berani menantang Nazaruddin untuk mengungkap kebobrokan yang ada di dalam MK merupakan petunjuk bahwa MK sampai saat ini masih merupakan salah satu institusi yang bersih dari kasus korupsi di negeri ini.

Ini bisa dilihat bagaimana salah satu hakim agung di MK mundur dari jabatannya karena anggota keluarganya menerima uang dari pihak yang kasusnya masuk ke MK. Kita juga masih melihat bagaimana MK terus beriklan di televisi mengenai cara berpolitik yang bersih dalam pilkada.

Kita semua berharap agar Partai Demokrat dapat menyelesaikan persoalan tuduhan pelanggaran etika politik dan kasus hukum yang menimpa kadernya ini secara baik dan jangan menaruhnya di bawah karpet.Sebagus apa pun Partai Demokrat menyembunyikan kasus-kasus dugaan korupsi yang ada di tubuhnya, akhirnya akan tercium juga ke masyarakat.

Opsinya hanya satu, selesaikan melalui tindakan yang adil dan bermartabat atau partai ini akan terjerembab ke dalam kubangan lumpur hitam yang sulit bagi partai ini membersihkan dirinya kemudian.

Para kader dan pimpinan Partai Demokrat harus melihat juga sisi lain dari hasil survei Indo Barometer yang baru saja diumumkan: citra Partai Demokrat dan SBY semakin menurun, sementara Partai Golkar dan PDIP semakin merangkak naik! 

Dimuat di Seputar Indonesia, 24 May 2011

1 Response to “Babak Baru Dugaan Korupsi di Demokrat”


  1. 1 Bantugrafis May 30, 2011 at 10:29 pm

    alhamdulillah kena getahnya…. kalo partai perilakunya “nakal” kepada sesama partai lain. pasti kena getahnya. bertaubatlah! wahai elite PD! Indonesia bukan hanya milikmu, Indonesia milik rakyat TAHU!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d bloggers like this: