Generasi Baru Pelaku Teror

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011.

Dua tahun setelah Tragedi Bom JW Marriott II, negeri yang kita cintai ini kembali disemarakkan oleh aksi teror bom.

Meski kekuatannya jauh lebih kecil, paket bom buku yang dikirim ke beberapa orang terkenal, Maret lalu; bom di Masjid Al- Dzikra, Kompleks Mapolresta Cirebon (15/4); dan bom yang berdaya ledak tinggi namun belum sempat meledak di jalur pipa gas dekat Gereja Christ Cathedral, Gading Serpong, Tangerang (21/4) sungguh membuat orang terhenyak. Beberapa perkembangan yang diulas dalam laporan International Crisis Group (ICG Report) terbitan April 2011 ini menunjukkan perkembangan yang sangat memprihatinkan.

Aksi bom bunuh diri di masjid dalam lingkungan Polri ternyata dilakukan oleh kelompok- kelompok kecil teroris seperti kelompok Muchamad Syarif yang tidak ada kaitannya dengan kelompok besar lama pelaku teror bom. Semakin kecil jaringan bom bunuh diri ini, semakin sulit aparat keamanan untuk mengamati gerak-gerik pelaku teror. Khazanah pengetahuan Polri maupun aparat intelijen negara masih terpaku pada pelaku-pelaku lama.

Sisi lain yang memprihatinkan, jika di masa lalu pelaku teror bom adalah orang biasa, kini kelompok-kelompok pelaku teror bom sudah mulai merambah ke kalangan anakanak muda terdidik. Bukan saja siswa SMA, melainkan juga berupaya untuk merekrut mahasiswa, terlebih lagi dari golongan orang-orang yang berada.Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh jaringan terorisme internasional yang menggunakan kaum terdidik untuk menjadi teroris seperti pelaku serangan ke Gedung Kembar World Trade Center (WTC) di New York, 11 September 2001, kini juga mulai terjadi di Indonesia.

Ini berarti janji untuk menjadi ”pengantin” yang akan ditemani 70 bidadari setelah melakukan aksi bom bunuh diri kini juga meracuni pikiran anak-anak muda terdidik. Mereka yang direkrut ada juga yang terhipnosis tanpa sadar, dicekoki pikiran untuk membangun Negara Islam Indonesia (NII), ditipu agar menyerahkan uang kaderisasi dan sumbangan bulanan yang jumlahnya tidak sedikit. Terorisme memang tidak identik dengan Islam atau agama apa pun, karena semua agama tentu menentang aksi pembunuhan massal dengan jalan bom bunuh diri.

Namun kekosongan pikiran dan mudahnya anak-anak muda terdidik dihipnosis untuk direkrut menjadi orang-orang yang berpikiran dan berperilaku radikal tentu membangunkan kita semua,betapa aksi teror itu juga akan pada diri keluarga kita. Jika kita kaji lagi mengapa aksi teror pada tingkat internasional terjadi, paling tidak ada beberapa faktor yang memengaruhi. Pertama,itu adalah serangan balik (blow-back) dari kelompok yang dulu didanai dan dilatih oleh agen intelijen asing, terutama Amerika Serikat (AS).

Awalnya mereka digunakan AS untuk melemahkan dan mengusir Uni Soviet dari bumi Afghanistan pada akhir 1970-an. Setelah Perang Dingin usai, justru mereka menyerang kepentingan AS karena satu-satunya negara adidaya di dunia itu dianggap melakukan politik luar negeri yang tidak menguntungkan Palestina dan negara-negara Islam. Jadilah mereka musuh utama AS.Karena melawan AS tidak mungkin dilakukan melalui cara-cara konvensional (perang), mereka menempuh cara-cara inkonvensional, yakni melalui teror.

Itulah sebabnya ancaman terorisme masuk dalam kategori ancaman yang tidak simetris atau tidak seimbang, karena dilakukan oleh kelompok bukan negara yang tidak memiliki kekuatan militer, melainkan hanya kekuatan pikiran dan strategi dan taktik teror. Dalam kaitannya dengan aksi teror di Indonesia, awalnya yang dilakukan oleh kelompok besar teroris adalah menghancurkan kepentingan AS, sekutunya, dan para sahabatnya (baca: kaki tangannya).

Ini bisa dilihat dari aksi Bom Bali I dan II serta Bom Marriott I dan II.Namun kini aksi teror mereka justru dilakukan di dalam masjid dan justru mengenai orangorang muslim yang akan menunaikan ibadah wajib, salat Jumat. Di sini kemudian muncul analisis baru mengenai kegiatan terorisme seperti yang dilansir ICG atau juga analisis mengenai timbulnya aliran Syekh Siti Jenar yang konon mengagungkan kekekalan hidup setelah mati.Maksudnya, agar cepat dapat hidup kekal setelah mati, maka mereka mempercepatnya dengan melakukan bunuh diri.

Berbagai Kelemahan
Munculnya generasi baru pelaku teror bom menunjukkan betapa lemah atau lengahnya kita semua dalam mengantisipasi cara-cara baru tersebut. Pertama, dari sisi pemerintah, tiadanya ketegasan dalam menindak kelompok- kelompok garis keras agama menjadikan negeri ini bagaikan ladang yang amat subur bagi para pelaku teror. Kita kadang mengelus dada, mengapa kelompok yang jelasjelas berani menantang kedaulatan negara dengan katakata, ”Jika berani membubarkan kami, kami akan menjatuhkan presiden yang sedang berkuasa,” bukannya ditindak tegas karena akan melakukan perbuatan makar, malah didiamkan saja.

Kedua,ketidaksigapan aparat, termasuk intelijen dan Densus 88, yang lebih banyak datang setelah peristiwa teror bom terjadi dan bukan melakukan pencegahan, menyebabkan negeri ini bagaikan kisah dalam film-film India yang polisinya baru datang setelah aksi kekerasan atau melawan hukum terjadi. Ketiga, para ulama dan pemuka agama, khususnya Islam, juga kurang gigih dalam melakukan syiar Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian alam).

Arus utama pemikiran Islam kini semakin tergerus oleh aliran-aliran yang melenceng dari ajaran agama Islam yang menyuburkan sikap dan tindakan radikal.Pemahaman Islam melalui akal sehat semakin lama semakin memudar. Keempat, pendidikan kewarganegaraan juga tampaknya tak lagi mampu membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada Tanah Air (passionate love to our country), tapi sudah menjadi pelajaran hafalan yang tidak bermakna bagi anak-anak muda.

Bayangkan, bagaimana mungkin seorang warga negara dapat merusak negaranya sendiri melalui teror bom terhadap sesama anak bangsa, jika ia benar-benar meresapi apa arti bangunan negara Indonesia yang kita cintai ini. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam membina anakanak didik kita. Kelima, bangunan bertetangga kita juga tidak lagi diresapi oleh kegotong-royongan demi kedamaian lingkungan bersama, melainkan sudah menjurus pada individualisme yang tak acuh kepada lingkungan.

Tak mengherankan bila para pelaku teror sudah berani tinggal di lingkungan padat dari kalangan masyarakat tak berpunya yang dulu kepedulian pada lingkungannya amat tinggi. Apa yang diungkapkan Romli Atmasasmita, guru besar hukum pidana Universitas Padjadjaran, dalam artikelnya di harian ini (25/4) benar. Perang melawan terorisme tak cukup melalui jalur hukum semata! Ini harus dilakukan secara komprehensif dari semua lini, pendidikan, pembangunan sosial ekonomi, bahu membahu antara aparat dan rakyat seperti saat menumpas DI/TII pada 1950-an dan tentunya mengubah UU Antiterorisme menjadi UU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Terorisme.

Menjaga anak-anak muda terdidik agar tidak menjadi radikal sesat juga harus dimulai dari dalam rumah,bukan hanya di sekolah atau kampus. Tanpa pendekatan yang komprehensif, jangan harap deradikalisasi pikiran dan tindakan anak-anak muda dapat dilakukan. Ladang subur bagi benih-benih terorisme harus cepat ditiadakan, jika kita tidak ingin negeri ini menjadi tempat persemaian generasi pelaku teror.

Dimuat di Seputar Indonesia, 26 April 2011

0 Responses to “Generasi Baru Pelaku Teror”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d bloggers like this: