Bahrain, Libya, dan Diskriminasi Barat

Oleh: Prof. Drs. M. Riza Sihbudi
Mantan Diplomat, Pakar Politik Timur Tengah

Pergolakan politik yang tengah melanda kawasan Timur Tengah, khususnya Bahrain dan Libya,tampaknya akan semakin “panas”, terutama setelah pergolakan serupa berhasil menjatuhkan kekuasaan Zain el-Abidin ben Ali di Tunisia dan kemudian Hosni Mubarak di Mesir.

Pada saat yang bersamaan, menarik untuk memperhatikan bagaimana sikap media massa dan para elite politik negara-negara Barat terhadap krisis di kedua negara tersebut. Ada persamaan sekaligus perbedaan di antara kedua negara Arab yang tengah bergolak itu. Persamaannya adalah kedua rezim tengah menghadapi perlawanan yang cukup keras dari mayoritas rakyat sendiri. Banyak rakyat Libya yang mulai jenuh dan muak dengan gaya kepemimpinan Kolonel Muammar Khadafi yang telah memerintah Libya sejak 40 tahun silam dengan gaya otoritarianisme padang pasir.

Mereka menuntut agar segera ada suksesi dan reformasi politik guna memberikan peluang bagi kebebasan berpendapat dan berorganisasi yang selama 40 tahun dibungkam. Berbeda dengan Libya yang menganut sistem semirepublik, Kerajaan Bahrain (Kingdom of Bahrain) sepenuhnya monarki absolut.Bahrain termasuk unik. Kendati sekitar 70% warganya menganut Islam mazhab Syiah, negara ini sepenuhnya dikuasai raja-raja bermazhab Sunni.

Bahkan keluarga dinasti Khalifah yang masih berkuasa sekarang sudah bertahta sejak 1783. Namun, dibandingkan Libya, Bahrain sebenarnya relatif “lebih demokratis” dalam arti mempunyai parlemen dan partai politik pun diberi hak hidup di negeri ini kendati sepenuhnya di bawah kendali rezim Khalifah. Pertanyaannya,mengapa Barat mengambil sikap berlainan terhadap gerakan prodemokrasi di dua negara tersebut? Dalam kasus Libya,baik media massa maupun elite politik Barat sangat gamblang mendukung gerakan perlawanan, juga mengambil posisi yang jelas-jelas anti-Khadafi .

Sebagian dari mereka bahkan sudah melancarkan intervensi militer. Sebelumnya, mereka berhasil mendikte PBB untuk memberlakukan zona larangan terbang (no-fly zone) di udara Libya. Langkah ini kemudian akan diikuti dengan mempersenjatai kelompok-kelompok anti-Khadafi di dalam negeri Libya. Ada dua fenomena yang menarik. Pertama, para pemimpin Barat yang menganggap Al- Qaeda sebagai “musuh utama” dalam 10 tahun terakhir belakangan (Barat dan Al-Qaeda) justru berangkulan untuk satu tujuan yang sama, yaitu menumbangkan Khadafi .

Kedua, ketika ada indikasi kelompok anti-Khadafi bakal menderita kekalahan, Sekjen PBB buruburu menyerukan diberlakukannya gencatan senjata. Sikap oportunistis Barat–– khususnya Washington–– dalam kasus Libya tentu berkaitan erat dengan faktor ekonomi,yaitu kandungan minyak di perut bumi Libya. Setelah Irak berhasil dikuasai dan Iran belum berhasil dibuat bertekuk lutut,tampaknya kini Libya menjadi sasaran empuk berikutnya, terutama oleh kelompok Hawkish dan neokonservatif yang umumnya mengendalikan perusahaanperusahaan minyak di Amerika Serikat.

Dalam kasus sikap Barat terhadap krisis Libya, pertimbangan faktor ekonomi (minyak) ternyata lebih dikedepankan ketimbang realitas politik. Secara politis, Khadafi sekarang jelas berbeda dengan dulu.Sebelum 2003, Khadafi dikenal sebagai sosok anti-Barat. Bersama Imam Khomeini alm (Iran), Hafiz al- Asad alm (Suriah),dan Saddam Hussein alm (Irak), mereka acap disebut sebagai para pemuka Timur Tengah “penganut garis keras” dan “anti- Barat”karena termasuk “barisan” penentang politik Amerika terhadap kawasan Timur Tengah.

Namun,sejak 2003,Khadafi mengubah haluan politiknya 180 derajat. Mendadak ia menjadi “anak manis”bagi Barat.Ia mengadakan deal-deal politik dengan PM Inggris (waktu itu) Tony Blair.Konon, termasuk di dalamnya penjualan minyak Libya ke Inggris, sumbangan Khadafi kepada London School of Economics (universitas terkemuka di London) serta pembebasan “pelaku” pengeboman pesawat komersial Pan Am di Lockerbie (1988), Abdelbaset Ali al-Megrahi, yang meringkuk di penjara Skotlandia.

Pembebasan Al-Megrahi pada 2009 itu sempat membangkitkan amarah Gedung Putih. Khadafi tidak hanya berhasil memperbaiki hubungan dengan Inggris, tetapi juga dengan Italia dan Prancis. Pengakuan Saiful Islam Khadafi (putra Khadafi ) bahwa ayahnya ikut mendanai kampanye Presiden Prancis Nicolas Sarkozy sempat menimbulkan kehebohan juga. Namun, pergolakan politik di Dunia Arab ditambah ambisi Barat untuk menguasai minyak Libya membuat skenario normalisasi Barat-Libya yang berlangsung sejak delapan tahun silam menjadi berantakan.

Jarum jam seakan berputar balik. Di usianya yang sudah hampir 70 tahun, Khadafi kembali mengibarkan panji perlawanan terhadap Barat. Amerika dan sekutunya seakan tidak pernah mau belajar dari sejarah. KegagalanmerekadiIrakdan Afghanistan sepertinya belum cukup membuat mereka belajar. Akankah krisis Libya yang melibatkan kekuatan militer Barat berlarut-larut sebagaimana di Irak dan Afghanistan? Bisa jadi.

Akibatnya, rakyat sipil Libya tidak hanya menderita lantaran ditindas pasukan Khadafi , melainkan juga akan menjadi korban permainan kotor militer Amerika dan kawan-kawan. Berbeda dengan Libya, dalam menyikapi krisis politik di Bahrain,Barat justru berpihak kepada penguasa. Mereka berkepentingan melindungi dinasti Khalifah agar tidak mengalami nasib serupa dengan Ben Ali dan Mubarak.

Barat yang sudah kehilangan sekutu terpenting di Mesir dan Tunisia kini menjadikan Raja Bahrain Syeikh Hamad bin Isa al-Khalifah dan dinasti Khalifah secara keseluruhan sebagai pertaruhan terakhir. Pasalnya, jika dinasti Khalifah berhasil ditumbangkan oleh sebuah revolusi rakyat,revolusi serupa hampir pasti akan menjalar ke negara-negara lain dikawasan Teluk.

Olehkarena itu,Barat dan PBB seakanakan menutup mata terhadap masuknya ribuan pasukan Kerajaan Arab Saudi ke Bahrain untuk ikut membasmi gerakan perlawanan rakyat Bahrain. Padahal, sebagaimana rakyat Libya, rakyat di Bahrain pun mengehendaki kebebasan berpolitik. Semestinya Barat tidak berlaku diskriminatif.Tapi itulah faktanya,kemunafikan mereka kembali terlihat jelas dalam krisis politik di Libya dan Bahrain.Wallahu a’lam.●

Dimuat di Seputar Indonesia, 28 Maret 2011

0 Responses to “Bahrain, Libya, dan Diskriminasi Barat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: