Utak-atik Pergantian Kabinet

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada kejelasan mengenai kapan pergantian kabinet diumumkan. Ibarat menanti pemutaran film di bioskop, semua masih bertajuk ”Akan Datang” atau ”Coming Soon.

”Belum jelas pula apakah Partai Gerindra benar-benar akan masuk ke kabinet menggantikan posisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan memenuhi permintaan Partai Gerindra untuk mendapatkan dua kursi di kabinet yaitu menteri pertanian dan menteri BUMN. Lebih tidak jelas lagi adalah apakah PDIP juga akan masuk ke kabinet? Segalanya masih tidak pasti karena Presiden SBY tentu amat hati-hati dalam menentukan pergantian kabinet. Suatu yang mungkin hampir pasti,Partai Golkar tampaknya tidak akan dikeluarkan dari kabinet. Jumlah 106 kursi Golkar di Parlemen tentu amat signifikan sebagai penopang pemerintah di Parlemen.

Namun,bila Partai Golkar tetap diperlukan, bukan mustahil tawar-menawar politiknya terhadap SBY akan semakin kuat.Bukan mustahil Partai Golkar meminta jatah tambahan kursi di kabinet jika tetap dibutuhkan SBY, sebagai imbalan bagi Golkar yang tetap mempertahankan pemerintahan SBY- Boedionosampai2014. Namun, SBY tidak dapat berharap banyak Partai Golkar tidak akan berbeda posisi dengan pemerintah di Parlemen seperti yang sudah tampak pada dua peristiwa besar yaitu pada kasus Bank Century dan kasus usulan pembentukan Panitia Khusus Hak Angket Pajak. Partai Golkar tentu tidak mau begitu saja menuruti perintah untuk sejalan dengan posisi pemerintah dalam isu yang krusial jika isu itu benar-benar menjadi fokus perhatian rakyat seperti dua kasus yang disebut di atas.

Biar bagaimana pun, Partai Golkar juga ingin tetap mendapatkan simpati dari para pemilihnya dalam hal-hal yang mereka anggap menjadi kepentingan publik atau orang banyak. Golkar ingin agar citra politiknya di mata publik tetap baik yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam kaitannya dengan Partai Gerindra, Presiden SBY tentu harus berhitung apakah memasukkan Gerindra ke dalam koalisi baru pemerintahan akan semakin menjadikan pemerintahan ini berjalan semakin efektif ataukah justru akan menghadapi kerikil-kerikil tajam baru, baik terkait citra politik Gerindra ataupun terkait langkah-langkah politik Partai Gerindra ke depan. Presiden SBY tampak masih berhitung keras soal itu.

Jika salah mengambil keputusan, bukan efektivitas pemerintahan yang akan dinikmati pemerintah pada 3,5 tahun mendatang, melainkan justru badai politik yang baru. Soal PDIP jelas bahwa gaya komunikasi politik SBY dalam upayanya merangkul PDIP belum berubah yaitu mengutus Hatta Rajasa untuk mendekati Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP yang sekaligus suami Megawati Soekarnoputri.Taufiq Kiemas dan putrinya, Puan Maharani, memang selalu mengatakan, PDIP menunggu lamaran SBY.Namun,kita tahu bahwa keputusan akan masuk koalisi atau tidak bukan pada diri Taufiq Kiemas dan Puan Maharani, melainkan ada di tangan Megawati.

Kita juga tahu bahwa ”sampai Lebaran kuda pun” untuk menggunakan bahasa yang sedikit puitis, PDIP tidak akan bergabung ke dalam koalisi partai pendukung SBY-Boediono. Megawati tentu tidak ingin mengubah keputusan Kongres Nasional III PDIP di Bali April 2010 yang menetapkan bahwa PDIP memilih jalur sebagai penyeimbang pemerintah. Kalau pun SBY melakukan komunikasi langsung dengan Megawati, sesuatu yang sulit untuk terjadi, belum tentu PDIP akan luluh.Ini bukan persoalan pribadi semata di antara SBY dan Megawati, melainkan juga soal jati diri PDIP yang sulit untuk digoyahkan.

Megawati bisa saja merestui masuknya kader-kader PDIP, Iman Sugema, Sri Adiningsih, dan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika ke jajaran kabinet,tapi PDIP tetap menjadi partai penyeimbang pemerintah. Nasib PKS memang belum menentu, tapi para pengurus teras partai tetap santai menghadapi isu reshufflekabinet ini. Tak ada yang hilang jika PKS harus keluar dari kabinet karena partai ini justru akan mendapatkan nama harum sebagai partai yang ”dizalimi” oleh Partai Demokrat dan SBY.Bukan mustahil jika PKS dikeluarkan dari kabinet,manuver politiknya akan jauh lebih bebas dan akan mendulang banyak simpati––bukan saja dari konstituen partainya, melainkan juga dari pemilih baru.Persoalan ini tentu akan semakin memperburuk citra Partai Demokrat dan SBY di mata rakyat.

Satu sisi yang cukup mengundang perhatian pengamat politik ialah, mengapa beberapa elite Partai Demokrat,dari Ketua Umum Anas Urbaningrum sampai ke Wakil Sekjen Saan Mustopa, semakin ”galak” dalam menekan SBY agar mengeluarkan PKS dari Sekretariat Gabungan partai pendukung SBY-Boediono.Apakah ini pertanda semakin independennya para politisi Partai Demokrat dalam berhadapan dengan SBY atau ini mengulang peristiwa pemilihan Ketua Umum DPP Partai Demokrat beberapa waktu lalu yang tidak mengindahkan keinginan SBY agar Andi Mallarangeng dipilih sebagai Ketua Umum DPP.Kita tahu Anas Urbaningrum terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat secara meyakinkan dalam dua putaran pemilihan, sesuatu yang amat dramatis saat itu.

Generasi muda di jajaran Partai Demokrat tampaknya sudah berani unjuk gigi di hadapan SBY karena masa depan Partai Demokrat berada di tangan mereka. SBY tidak mungkin diusung kembali menjadi calon presiden pada Pemilu Presiden 2014. SBY juga sudah tidak akan lagi menjadi medan magnet yang dapat menarik para pemilih seperti pada Pemilu 2004 dan 2009. Bukan karena SBY adalah wajah Partai Demokrat masa lalu,melainkan juga legitimasi politiknya di mata rakyat sudah semakin memudar. Jika analisis penulis benar, reshuffle kabinet tidak akan menimbulkan perubahan koalisi politik yang amat berarti.

Partai Golkar dan PKS akan tetap berada di dalam kabinet karena mereka adalah aset politik yang perlu dipertahankan. Risiko politiknya, PKS dan Golkar akan tetap mbalelo dalam setiap keputusan penting di kabinet, tapi pemerintahan SBY-Boediono aman sampai 2014. Namun, jika PKS benar-benar dikeluarkan dari Setgab, ini kali pertama SBY dapat mengambil keputusan strategis berani yang patut diacungi jempol walaupun risiko politiknya amatlah besar bagi citra SBY dan Partai Demokrat ke depan.

Dimuat di Seputar Indonesia, 8 Maret 2011

0 Responses to “Utak-atik Pergantian Kabinet”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: