Refleksi Gejolak Hubungan Indonesia-Malaysia

Oleh: Dr. A Eby Hara, MA
Dosen Tamu COLGIS, Universiti Utara Malaysia (UUM), Sintok Kedah, Malaysia dan Ketua PC AIPI Jember

Sungguh susah bagi orang Indonesia yang tinggal di Malaysia untuk menulis hubungan Indonesia-Malaysia pada suasana psikologis seperti sekarang ini. Kalau hendak objektif menuliskan keadaan hubungan yang selalu beriak itu, salah-salah akan dituduh tidak nasionalis lagi.

Kalau hendak menulis yang terlihat nasionalis, itu akan bertentangan dengan apa yang dia pahami tentang hubungan itu. Namun, bagaimanapun sesuatu mesti dikatakan tentang hubungan dua negara serumpun ini. Kalau tidak,hal-hal yang tidak produktif akan terus terjadi. Emosi masyarakat diombang-ambingkan para politisi.Media terus membuat sensasi supaya laku. Para demonstran terus marah tidak jelas arahnya, bahkan cenderung merendahkan bangsanya sendiri.

Berbagai pihak, NGOs, pengamat politik, politisi mulai dari anggota DPR sampai Presiden memanfaatkan suasana ini untuk modal politik atau popularitas masing-masing. Di negeri yang dibanggakan karena kebebasan pers dan demokrasinya ini semakin susah membedakan mana yang esensial dan mana yang artifisial dalam hubungan kedua tetangga ini.

Kalau ada berita yang miring sedikit tentang Malaysia, masyarakat marah tanpa perlu lagi mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.Misalnya dalam penangkapan tiga orang anggota DKP di perairan kepulauan Riau,tidak pernah ada yang mengusut dengan pasti. Tetapi, itu semua tidak penting karena yang penting adalah kita telah dihina, dilecehkan, dan dipermalukan sehingga harga diri sebagai negara besar sudah hancur dan kedaulatan sudah diinjak-injak.

Memburuknya Citra Malaysia
Sebenarnya hubungan kedua negara berpotensi untuk terus baik dan saling menguntungkan. Keduanya bisa menjadi negara penting dan contoh bagi kemajuan negara berkembang dan demokrasi di dunia. Mereka mewarisi kultur, bahasa,sejarah yang sama,bahkan peradaban yang pernah besar di masa lampau. Namun, cita-cita itu dikhawatirkan akan sirna bersama dengan gelombang demonstrasi terhadap Malaysia.

Bila sebelumnya pandangan terhadap negeri itu netral, dalam 10 tahun belakangan terjadi proses pencitraan negatif terhadap Malaysia. Proses pencitraan itu sangat cepat karena ditunjang oleh media.Malaysia dianggap negara pencuri, Malingsia, suka menyiksa para TKW, menginjak dan melanggar kedaulatan RI, tidak hormat kepada Indonesia yang besar dan berwibawa.

Proses ini bergulir terus dan masyarakat pun sering mengonsumsinya mentahmentah karena kemasan berita itu menyentuh perasaan nasionalisme terdalam bangsa Indonesia. Seperti hari-hari ini, kita lihat betapa mudahnya kesimpulan diambil dalam pernyataan-pernyataan elite pembuat opini di media massa. Tengok saja kasus penangkapan tiga anggota DKP yang baru saja meledak itu.

Media pun tidak ingin berita ini cepat hilang. Maka untuk membangkitkan kemarahan disebutkan perlakuan tidak manusiawi terhadap anggota DKP. Salah satu anggota DKP dikatakan hampir pingsan,demikian juga makan yang dua kali sehari yang diberikan kepada DKP yang ditahan karena bulan puasa juga dianggap melanggar HAM.

Walaupun sudah ada penjelasan Dubes Malaysia bahwa tidak mungkin mereka dilakukan semena-mena karena ada prosedur hukum di sana, penjelasan ini tidak penting karena suasana anti sudah berkembang luas. Bagi orang Indonesia, pernyataan yang membela Malaysia bukan saja dianggap tidak populer dan tidak mendapat tempat, tetapi juga tidak nasionalis.

Ajang Cari Popularitas
Proses pembentukan sikap anti-Malaysia menjadi lebih mantap karena para politisi mempunyai agenda masing-masing dengan menunggangi kasus-kasus ini. Salah satunya tentu saja untuk menaikkan popularitas dan menunjukkan dirinya paling lantang dan nasionalis di mata masyarakat.Sudah jelas bahwa para politisi terutama di DPR semakin merosot popularitasnya karena kegagalan menyuarakan masalah-masalah penting seperti korupsi.Karena itu,mereka perlu terlihat populer.

Dulu pemerintah yang menggunakan politik luar negeri untuk mengalihkan persoalan politik di dalam negeri seperti yang dilakukan Soekarno terhadap Malaysia dalam konfrontasi. Maka sekarang politisi yang menggunakan isu politik luar negeri untuk menjaga popularitas politik dan perannya. Cara meningkatkan popularitas itu juga ditampilkan dengan menunjukkan siapa yang lebih nasionalis dan lantang.

Ini muncul dalam berbagai pandangan yang misalnya menuding kualitas diplomasi terlalu lembek atau meminta Presiden mengevaluasi kinerja Menlu.Anggota DPR bahkan mengusulkan untuk segera menggunakan hak interpelasi untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas lembeknya diplomasi walaupun kemudian dianggap tidak perlu.

Bukan itu saja,Presiden pun dalam suasana demikian ikut mengambil untuk dengan memanggil Menlu dan menanyakan kenapa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) lambat menangani hal ini. Seolaholah dia ingin mengatakan kepada khalayak bahwa ini semua kesalahan stafnya.Dalam suasana demikian, Kemlu yang selalu melangkah mengikuti prosedur diplomatik juga menjadi serbasalah.

Mereka merasa sudah melakukan yang terbaik dan tidak lembek karena definisi lembek itu pun tidak jelas. Namun,ini tidak penting mesti ada korban yang disalahkan dan dianggap kurang sigap.Akhirnya Kemlu mengambil tindakan yang sekadar memuaskan tuntutan suasana psikologis masyarakat ini.

Reaksi Masyarakat Malaysia
Di balik semua ini, masih ada harapan untuk terus membina hubungan dan kerja sama. Untungnya– dan begitulah orang Melayu umumnya dalam kesedihan pun mesti ada “untungnya”–suasana psikologis masyarakat Indonesia itu tidak diikuti masyarakat Malaysia. Kemarahan boleh terjadi di Indonesia, dan kejengkelan berlanjut. Di negeri jiran ini hanya sedikit yang bereaksi keras dan seperti biasa mungkin mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Berita penangkapan tiga orang Indonesia dan protesprotes di Jakarta ditulis ala kadarnya seperti berita biasa.Hanya berita pelepasan tujuh nelayan Malaysia yang diangkat sisi humanisnya saat mereka diterima keluarga dan penduduk kampung nelayan tempat mereka tinggal dengan isak tangis,rasa haru,dan syukur. Tiadanya tanggapan ini mungkin karena jalur ekspresi bebas tidak ada di Malaysia.

Namun,dalam dunia global dan informasi dapat diperoleh dari mana saja, hal ini bukan alasan. Sekurangnya di sini kita dapat melihat bagaimana orang-orang Malaysia memberi komentar terhadap kasus ini secara online. Dalam komentar-komentar online itu, mereka yang betul asli Malaysia yang dapat dilihat dari bahasanya, tidak emosional, tapi datar saja. Orang Malaysia sudah semakin terbiasa dengan kemarahan orang Indonesia dan sudah paham duduk perkaranya.

Mereka juga tidak terlalu dipusingkan dengan berbagai ancaman di Tanah Air dan menganggap semua ini permainan media. Pandangan mereka itu mungkin contoh yang terlalu kecil dan dapat dipertanyakan.Tetapi, rasanya ketenangan itu mewakili suasana hati masyarakat Malaysia umumnya.

Ini mewakili hanya mereka yang peduli,yang tidak peduli dengan masalah ini lebih banyak lagi.Mereka ini sibuk dengan kerja- kerja mereka masing-masing untuk kemajuan negara mereka sehingga tak sempat memikirkan hal demikian. Paling-paling nanti mereka tanya kepada orang-orang Indonesia, apa yang telah terjadi.(*)

Dimuat di Seputar Indonesia, 1 September 2010

0 Responses to “Refleksi Gejolak Hubungan Indonesia-Malaysia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: