Problematik Konfederasi Parpol

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AII Periode 2008-2011.

MENGANTISIPASI kemungkinan ditingkatkannya ambang batas parlemen (parliamentary threshold) menjadi 5% pada Pemilu Legislatif 2014, partai-partai menengah dan bawah kini berwacana membentuk konfederasi.

Ada yang ingin membangun konfederasi di antara partai yang memiliki kesamaan ideologi seperti nasionalisme dan marhaenisme. Ada yang mendasarinya atas dasar basis massa Islam seperti yang dilakukan Partai Amanat Nasional. Ada pula partaipartai kecil seperti Partai Bintang Reformasi (PBR) yang ingin bergabung dengan partai besar seperti ke Partai Golkar.

Konfederasi partai mungkin juga terjadi sebagai akibat dari ada upaya partai menengah misalnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang ingin merentangkan sayap dukungannya bukan saja ke kalangan massa nonmuslim, melainkan juga ke massa Islam yang bernaung di Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, satu hal yang menarik, konfederasi partai juga terjadi akibat mundurnya dukungan partai atau organisasi massa dari satu partai dan kemudian ingin bergabung ke partai lain.

Tak Mudah
Pembentukan konfederasi partai memang suatu yang positif jika kita ingin menyederhanakan jumlah partai politik di Indonesia secara alamiah.Namun,hal itu bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Ada beberapa alasan untuk mendukung kesimpulan penulis tersebut. Pertama, dalam sejarah politik Indonesia, perpecahan partai lebih menonjol ketimbang pembentukan konfederasi.

Contohnya, konfederasi organisasi massa Islam dalam wadah Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) yang di era penjajahan Jepang dikenal dengan Al-Majlikul a’la Muslimin Indonesia justru terpecah menjadi sempalan partai-partai Islam, Masyumi, NU,Perti,PSII,dan sebagainya, yang maju sendiri-sendiri pada Pemilu 1955.Perpecahan juga fenomena yang terus berkembang dalam politik Indonesia di era Reformasi.

Tidak sedikit partai-partai politik muncul dari sempalan Golkar, PDI,PPP saat kran politik bagi pembentukan partai terbuka lebar di era 1998 sampai sekarang. Kedua,konfederasi politik biasanya terjadi akibat politik paksaan dari penguasa ketimbang atas dasar keinginan sendiri. Terbentuknya Masyumi pada era penjajahan Jepang adalah contoh di mana penguasa kolonial saat itu menginginkan agar konfederasi kekuatan Islam dapat digabungkan sehingga mudah untuk diatur.

Pada era Orde Baru,fusi partai-partai Islam ke dalamPPPdanfusipartai- partainasionalis dan Kristiani ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) adalah juga atas kebijakan yang memaksa dari rezim Orde Baru. Ketiga,konfederasi secara sukarela yang agak berhasil,walau dengan manipulasi politik para politisi militer Orde Baru, adalah pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 1964.

Sekber Golkar memang dibentuk oleh para perwira menengah militer Orde Baru yang mengajak ormas-ormas Islam dan nasionalis untuk bergabung melawan kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu. Suka atau tidak, Sekber Golkar adalah bagian dari adu kekuatan politik antara TNI AD dan PKI.Dalam perjalanan sejarahnya kita tahu satu persatu ormas, termasuk ormas Islam, yang kemudian mengundurkan diri dari Sekber Golkar.

Patut pula dicatat bahwa soliditas Golkar pada era Orde Baru bukan hanya ditopang oleh militer dan pegawai negeri serta kelompok-kelompok induk organisasi (Soksi, MKGR, dan Kosgoro), melainkan juga akibat dari kuatnya patron politik di tangan Soeharto. Keempat,konfederasi politik di era reformasi bukan baru sekali ini saja diwacanakan oleh Eros Djarot atau Hatta Rajasa.Sebelumnya juga ada keinginan untuk membentuk konfederasi politik menjelang Pemilu 2004 dan 2009.

Tapi, kegagalan selalu terjadi saat penentuan posisi siapa yang menjadi ketua umum, sekretaris jenderal, atau pengurus teras partai lainnya. Para elite partai selalu mendasari besar kecilnya partai dari sisi hasil pemilu legislatif.Namun,tak ada pertanyaan apakah dukungan konstituen tersebut solid atau tidak, apakah para pendukung mereka juga setuju bila partainya bergabung dalam konfederasi politik dengan partai-partai lain. Kelima, konfederasi partaipartai politik lebih didasari oleh kepentingan politik elite ketimbang kepentingan massa pendukung.

Rakyat tetap hanya sebagai pelengkap penderita di dalam sistem politik Indonesia. Rakyat hanya dibutuhkan untuk mendapatkan dukungan politik bagi partai politik atau pemberi legitimasi pada kekuasaan, tapi setelah itu dilupakan. Keenam, konfederasi memang akan berhasil jika partai-partai kecil bergabung ke partai besar.Namun, yang terjadi sesungguhnya bukan konfederasi politik,melainkan akuisisi politik partai besar terhadap partai-partai lebih kecil.

Jika konfederasi partai politik terjadi di antara partai-partai berkekuatan sama, dapat dipastikan bahwa usianya tidak akan sampai seumur jagung. Kalaupun lebih panjang dari itu, jika tidak ditopang oleh ideologi yang sama dan kepemimpinan yang kuat, konfederasi partai politik itu hanya akan terus diwarnai oleh pertarungan politik internal.

Sekali lagi, konfederasi partai politik adalah bagian dari survival partai-partai politik yang tidak mungkin hidup lagi jika mereka bertarung sendiri-sendiri. Itu pun agar para elite partainya tetap eksis di dalam panggung politik Indonesia dan bukan karena ingin memperjuangkan kepentingan rakyat.Tak heran jika konfederasi partai politik ini disikapi secara hati-hati oleh kalangan pengamat politik. Kita harus ingat “Jas Merah” Bung Karno: “Jangan sekalisekali melupakan sejarah!”(*)

Dimuat di Sepuar Indonesia, 6 Juli 2010

0 Responses to “Problematik Konfederasi Parpol”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

July 2010
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: