Kemiskinan, Utang, dan Pupusnya Kemandirian

Oleh: Prof. Dr. Bahtiar Effendy
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta dan
Dewan Pengawas PP AIPI Periode 2008-2011

Jumat lalu saya bersembahyang di Masjid Cut Nyak Dien. Sehabis salat, pemandangan rutin di pintu keluar masjid masih saja ada: banyaknya orang minta-minta, sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup siang itu.

Ini pemandangan yang tidak unik di masjid yang terletak di Jalan Kemiri itu.Di banyak masjid, hal seperti itu juga ada. Pada atau mendekati hari raya, pemandangan seperti itu semakin menyebar. Seusai ibadah, dapat kita saksikan banyak orang miskin berkerumun di pintu keluar atau kompleks masjid. Menjelang hari raya tiba,banyak orang berpunya menyedekahkan hartanya, mungkin membagikan zakatnya, untuk fakir miskin yang jumlahnya banyak. Saking banyaknya, ditambahkan dengan cara pembagian yang semrawut, pernah peristiwa pembagian sedekah tersebut mendatangkan kurban. Sedekah adalah baik.

Agama mengajarkan bahwa tangan yang di atas lebih baik dari yang di bawah. Namun, dalam konteks yang diceritakan di atas, pemandangan itu menimbulkan kesan bahwa yang tengah berlangsung adalah cermin dari apa yang disebut the culture of poverty (budaya kemiskinan). Ini kesan yang tidak mengenakkan, menyedihkan, dan sampai tingkat tertentu bersifat degrading (merendahkan). Akan tetapi, ditambah dengan apa yang dilakukan oleh negara melalui proyek Bantuan Langsung Tunai (BLT) misalnya, rasanya sulit menghindari kesan seperti itu.Masih harus dilihat lagi, apakah kemiskinan masif yang antara lain disebabkan oleh struktur dan konfigurasi pelaku ekonomi kita sejak zaman kolonial hingga kini menumbuhkan the culture of poverty–atau sebaliknya.

Yang tampak sedikit lebih jelas adalah cara penanganan yang biasa kita lakukan untuk mengatasi masalah di atas,semisal pemberian sedekah, hanya melanggengkan budaya seperti itu. Itu semua menunjukkan bahwa banyak sekali penduduk Indonesia yang miskin–kira-kira 36 juta miskin, 9,5 juta menganggur. Sebagian dari jumlah itu miskin sekali, sehingga untuk sekedar menutupi kebutuhan makan atau minum saja mereka bergantung pada belas kasihan orang. Bahkan mereka bersedia antre atau berebut khawatir kalau-kalau rasio antara supply and demand tidak berimbang.

Ironi Negeri Kaya
Ketika saya sekolah di Columbia Falls, Montana, AS, 34 tahun silam, saya menerjemahkan lagu Koes Plus untuk mata kuliah creative writing.Yang saya pilih adalah lagu yang berbait “orang bilang tanah kita tanah surga; tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Sengaja saya memilih lagu itu karena secara emosional saya ingin memberi tahu kawan-kawan bule saya bahwa Indonesia negara kaya. Sumber daya alamnya luar biasa banyaknya. Selama ratusan tahun kekayaan Indonesia diambil paksa oleh kolonial Belanda. Setelah merdeka, untuk sekian dasawarsa– sampai sekarang bahkan, sumber daya yang melimpahitudikelolatidaksebagaimana mestinya dan dikorupsi.Meski demikian, negeri ini tidak bangkrut, tidak ambruk secara ekonomi.

Walaupun sumber daya yang tak terbarukan berkurang,pada umumnya resiliensi ekonomi masyarakat sangat kuat. Dalam kon-teks itu,ada yang bergurau bahwa tanpa pemerintahan pun ekonomi Indonesia masih tumbuh–masih ada orang yang beli makanan, pakaian,mobil dan sebagainya.Semua itu menjadi motor penggerak pertumbuhan melalui apa yang disebut consumption driven economy. Pendek kata, negara kita sungguh kaya. Ironisnya, kekayaan itu tidak sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kebanyakan. Yang justru masih tampak, antara lain, adalah peristiwa-peristiwa yang diceritakan di atas, yang mencuatkan sedang bekerjanya budaya kemiskinan.

Faktor Ekonomi
Saya sengaja memulai pembicaraan dengan sedikit menyentuh soal ekonomi, sebab satu dasawarsa terakhir ini tampaknya hal tersebut menjadi kendala besar bagi kita untuk tampil sebagai bangsa yang mandiri dan bermartabat; bangsa yang didengar meski oleh negara-negara tetangga kita sendiri; bangsa yang setidaknya masuk dalam kelompok yang oleh Fareed Zakaria disebut the rise of the rest. Sebenarnya, ekonomi hanya merupakan satu faktor di dalam menentukan tingkat kemandirian dan martabat bangsa. Ketika sebagian besar kekayaan kita dinikmati Belanda, para pahlawan dan pendiri Republik kita tidak sertamerta kehilangan kewibawaan dan kemandirian.

Sebagian besar dari mereka masih memiliki sense of self esteem dan martabat yang kuat. Pangeran Diponegoro barangkali bisa kita sebut sebagai precursor dari gerakan kemandirian dan pengembalian harga diri dan martabat Tanah Jawa.KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, dengan cara mereka sendiri mempraktikkan apa yang pada dasawarsa 1970- an oleh Johan Galtung atau Andre Gunder Frank disuarakan sebagai keharusan negara-negara satelit atau pinggiran untuk tidak berhubungan dengan negaranegara pusat atau metropol. Strategi ini dimaksudkan untuk mengembalikan kemandirian, kewibawaan, kedaulatan,dan harkat bangsa.

Didirikannya sekolah-sekolah modern, rumah sakit, atau penampungan anak yatim piatu oleh Muhammadiyah, dan pesantrenpesantren oleh Nahdlatul Ulama antara lain untuk memutus ketergantungan dengan sekolahsekolah yang dikelola oleh Belanda. Kampanye besar-besaran yang dilakukan oleh kalangan pesantren agar orang-orang Islam tidak mengikuti gaya hidup Belanda, yang bersandarkan pada diktum man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum, adalah sikap ideologis untuk mengembalikan dan mempertahankan kemandirian dan otentisitas bangsa. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah kalau meniru saja tidak boleh, apalagi bergantung. Meskipun harus juga diakui bahwa hal tersebut bukan berarti tidak boleh berhubungan atau menjalin kerja sama dengan pihak asing.

Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu,mereka tetap berinteraksi dengan kekuatankekuatan yang telah mengambil kemandirian mereka.Watak hegemonik kolonialisme telah membuat Soekarno, misalnya, untuk berkolaborasi dengan Jepang. Mohammad Hatta ke Belanda dan Soekarno ke Bandung untuk sekolah adalah dalam rangka menyiapkan kader-kader penggerak kemandirian, kebangsaan, dan kemerdekaan. Sebagaimana terbukti, pilihan atau keterpaksaan untuk bekerja sama itu tidak menghalangi Soekarno untuk menyuarakan gagasan mengenai Indonesia Merdeka. Suara ini dipertahankannya pada masa kebangkitan kebangsaan dan revolusi–bahkan sampai dia memimpin Republik hingga pertengahan 1960-an.

Demikian revolusionernya komitmen Soekarno sehingga dia berani keluar dari PBB yang dinilai merugikan kepentingan Indonesia, menggalang gerakan nonblok melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung, dan memilih untuk tidak bergantung pada utang. Barangkali tidak ada dalam sejarah Indonesia tokoh lain yang seartikulit dan senekat Soekarno di dalam meyakini arti penting harga diri dan kemandirian bangsa. Hal ini barangkali dibentuk oleh pengalamannya di masa kolonial, dan pergaulannya yang intens dengan tokoh-tokoh pergerakan, termasuk HOS Tjokroaminoto–yang bangga dengan songkok, kumis, dan seragam putihnya itu.

Jargonjargon yang dirumuskan sendiri oleh Soekarno agar Indonesia selalu waspada terhadap kekuatankekuatan nekolim,bersedia untuk berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), misalnya,merupakan bukti betapa passionate-nya Soekarno terhadap proyek kemandirian bangsa dan negara. Tentu, sikap-sikap seperti ini ada biayanya. Ditambah dengan pengelolaan pemerintahan yang tidak tepat, langkah-langkah ekstrem itu bisa mendatangkan konsekuensi- konsekuensi sosial-ekonomi dan politik yang tidak sedikit.

Akhir pemerintahan Soekarno memang tidak meninggalkan utang banyak, tapi mewariskan inflasi yang sangat tinggi (lebih dari 600%) dan penghasilan rata-rata nasional yang hanya USD80 per tahun. (Bersambung, baca lanjutannya besok)

Dimuat di Seputar Indonesia, 21 Juni 2010

0 Responses to “Kemiskinan, Utang, dan Pupusnya Kemandirian”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d bloggers like this: