Bung Karno dan Bapak Bangsa

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011.

GEORGE Washington disebut sebagai Father of the Country atau Father of the Nation oleh rakyat Amerika Serikat (AS) karena jasa dan keberhasilannya sebagai komandan tentara revolusioner melawan penjajah Inggris.

Washington dan kawankawannya bukan hanya memproklamasikan kemerdekaan AS pada 4 Juli 1776, melainkan juga memberi dasar bagi suatu negara federal AS yang demokratis.Tak mengherankan jika nama Washington kemudian diabadikan sebagai nama ibu kota AS. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.”

Ungkapan itu tampaknya hanya diucapkan oleh sebagian pemimpin bangsa kita, tetapi tidak diterapkan ke dalam tindakan politik nyata. Bangsa yang terhormat adalah juga bangsa yang menghargai kebaikan para pemimpinnya dan menyimpan rapat-rapat segala aib buruk yang dimilikinya. Dalam bahasa Jawa ada ungkapan mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat tinggi-tinggi nama baik seorang pemimpin dan memendam dalam-dalam keburukannya.

Di sebuah negara yang amat egaliter dan demokratis seperti AS, justru ungkapan Jawa itu benar-benar diterapkan. Nama Washington hingga kini masih amat agung di mata rakyat AS.Washington dan kawan-kawannya merupakan kelompok oligarki positif yang membangun dasar negara modern AS dalam dua dekade setelah kemerdekaan AS dari Inggris.

Kita juga masih dapat menikmati museum yang berupa rumah, peternakan, dan pabrik pemintal tenun yang dimiliki keluarga George Washington yang terletak di kawasan teduh antara Washington DC dan negara bagian Virginia. Apa yang terjadi dengan Bung Karno tampaknya agak berbeda dengan yang dialami oleh George Washington.Bung Karno hanya diakui sebagai proklamator bersama Bung Hatta.Kedua beliau juga hanya disebut sebagai dua dari founding fathers Indonesia.

Hingga kini tidak ada upaya dari partai-partai politik, kecuali Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,yang mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta dianugerahi gelar sebagai Bapak Bangsa Indonesia. Sebagai penggali Pancasila,nasib Bung Karno juga amat tidak mengenakkan karena dituduh bukan orang pertama yang menyiapkan dasar negara kita Pancasila.

Di masa Orde Baru, ada pejabat yang bertanggung jawab di bidang pendidikan yang menyebut bahwa Mohammad Jamin atau Soepomo yang pertama mencetuskan Pancasila. Jika kita baca baik-baik Pidato Bung Karno mengenai Pancasila pada 1 Juni 1945 di depan Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tampak jelas memang Bung Karno yang pertama kali menguraikan betapa pentingnya Indonesia merdeka memiliki ideologi nasional yang menjadi pegangan hidup bangsa.

Uraian Bung Karno mengenai Pancasila amat jelas,bahwa bangsa yang akan kita bangun adalah negara kebangsaan.Tak aneh jika sila pertama dari Pancasila yang dibuat Bung Karno ialah kebangsaan atau nasionalisme.Bagi Bung Karno, Indonesia yang akan kita bangun adalah Indonesia yang “semua untuk semua”,bukan milik seseorang atau kelompok atau golongan, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia tanpa memandang asal usul etnik, agama, ras ataupun golongan.

Bangsa atau nationyang dimaksud Bung Karno adalah Indonesia yang memanjang dari Aceh di Sumatera sampai ke Irian (Papua sekarang). Namun,kebangsaan Indonesia bukanlah chauvinisme orang Prancis atau naziisme orang Jerman.Karena itu Bung Karno langsung menyatakan bahwa nasionalisme kita harus diikuti oleh internasionalisme bangsa Indonesia. Karena itu, kebangsaan bersanding dengan paham internasionalisme atau kemanusiaan sebagai sila yang kedua.

Untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, semua itu dapat diraih jika kita menerapkan musyawarah dan mufakat atau demokrasi. Karena itu Bung Karno meletakkan musyawarah atau demokrasi sebagai sila ketiga. Semua usaha kita ditujukan pada kesejahteraan umum, tak mengherankan jika kesejahteraan menjadi sila keempat Pancasila.

Orang Indonesia belum cukup menjadi manusia sejati jika tidak berketuhanan, karena itu Bung Karno menutup Pancasila dengan “ketuhanan yang berkeadaban atau ketuhanan Yang Maha Esa”. Dari lima sila itu kemudian Bung Karno memerasnya menjadi trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan Yang Maha Esa.Dari situ Bung Karno memeras lagi ketiga sila itu menjadi hanya satu: gotong royong.

Usaha untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur harus ditempuh dengan cara perjuangan, karena itu Bung Karno selalu mengingatkan bangsa Indonesia untuk terus berjuang melawan penindasan, melawan kebodohan,juga penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lain. Tragis memang.

Bung Karno bukan hanya pernah dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda karena usaha-usahanya untuk merdeka, melainkan juga oleh rezim Orde Baru di bawah Soeharto yang diberi mandat oleh Bung Karno melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 untuk menstabilkan keadaan pascaperistiwa 1 Oktober 1965.Suatu yang tragis pula, Bung Karno di akhir hayatnya tidak diperbolehkan meninggalkan Wisma Yaso yang kini menjadi Museum Pusat Sejarah TNI, bahkan hanya untuk menikmati indahnya malam di Kota Jakarta.

Perlakuan buruk bangsa kita terhadap pemimpinnya tak cukup sampai di situ. Buku-buku ajaran Bung Karno pernah juga diusahakan untuk dibakar seluruhnya oleh rezim penguasa saat itu walau anehnya rezim tersebut memperingati 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Di masa Orba, orang hanya mengenal Hari Kesaktian Pancasila dan bukan hari lahirnya pada 1 Juni 1945.

Kita bersyukur karena pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.Namun akan lebih baik lagi jika tanggal itu dijadikan tanggal resmi lahirnya Pancasila dan Bung Karno (serta Bung Hatta) dianugerahi gelar sebagai Bapak Bangsa Indonesia.

Akan lebih terhormat bagi DPR untuk memperjuangkan ini ketimbang mereka berupaya untuk mengegolkan dana aspiratif Rp15 miliar per anggota DPR yang lebih menguntungkan partaipartai mereka sendiri ketimbang kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.Apa yang diperjuangkan DPR saat ini sangat jauh dari nilainilai Pancasila itu sendiri.(*)

Dimuat di Seputar Indonesia, 8 Juni 2010

0 Responses to “Bung Karno dan Bapak Bangsa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d bloggers like this: