Yang Muda yang Berjaya

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011.

TRAGIS! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kekalahan Andi Alifian Mallarangeng pada pemilihan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Minggu (23/5) lalu.

Betapa tidak, Andi Mallarangeng, yang katanya mendapatkan restu dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mengiklankan dirinya, ditambah dengan berbagai berita mengenai berbalik arahnya sebagian pendukung dan anggota tim sukses Anas Urbaningrum ke kubu Andi Mallarangeng, ternyata hanya memperoleh 82 suara (16%) pada putaran I.

Pada putaran II, meski suara dukungan Andi Mallarangeng sudah dialihkan ke kubu Marzuki Alie, ternyata Anas Urbaningrum tetap menang dengan perolehan suara yang meyakinkan, 280 suara (53%) berbanding 248 (47%),tulis harian Seputar Indonesia dalam headline berjudul “Suara Hati Menangkan Anas”(24/5). Para pengamat politik tentunya memiliki analisis berbeda atas kemenangan Anas Urbaningrum.

Bisa saja ini menandakan betapa demokrasi masih hidup di negeri ini dan Demokrat adalah contoh partai yang dapat melaksanakan demokrasi internal secara apik. Pengamat politik J Kristiadi menyebut kemenangan Anas adalah juga kemenangan SBY karena SBY membiarkan proses pemilihan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu berlangsung demokratis. Namun, jika kita amati secara seksama, tampak juga upaya SBY agar Andi Mallarangeng dapat memenangi pemilihan tersebut secara aklamasi.

Seperti diberitakan Radio Elshinta Minggu siang (23/5) langsung dari Kota Baru Parahyangan tempat berlangsungnya Kongres Nasional II Partai Demokrat, ada ajakan SBY agar pemilihan ketua umum itu dilaksanakan dengan cara musyawarah mufakat yang berarti secara aklamasi untuk menghindari voting. Imbauan SBY tersebut tidak digubris para peserta kongres, khususnya para elite partai dari daerah yang memiliki hak suara.

Apakah ini berarti legitimasi SBY mulai terkikis di perpolitikan nasional dan juga di Partai Demokrat, hanya dia yang dapat merasakannya. SBY dapat saja sesumbar bahwa justru dia yang menginginkan proses demokratis berjalan baik di Partai Demokrat. Namun,bila kita melihat raut wajahnya yang muram saat kongres, sampai-sampai harus dijemput saat secara aklamasi kongres memutuskan memilih SBY kembali sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, tak bisa dipungkiri betapa tidak bahagianya dia pada proses voting tersebut.

Hal yang menarik adalah,salah seorang pendukung Anas Urbaningrum, Achmad Mubarok,tanpa basi-basi mengatakan bahwa terjadi perpecahan di keluarga Cikeas (rumah kediaman SBY) soal dukung mendukung ini. Konon, ipar-ipar SBY dan juga sang ibu mertua, Ibu Sarwo Edhie Wibowo, kurang berkenan jika Andi Mallarangeng menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, entah apa alasannya.

Tapi yang pasti, kalimat bertuah Andi Mallarangeng pada Pemilu Presiden 2009 yang menyepelekan calon Presiden Jusuf Kalla dengan kalimat “Belum saatnya orang Bugis jadi pemimpin,” ternyata menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Jangankan menjadi presiden atau wakil presiden terpilih, jadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat pun Andi Mallarangeng gagal terpilih.

Kemenangan Anas Urbaningrum menunjukkan bahwa kini eranya politisi pusat juga memperhatikan aspirasi politik elite partai asal daerah yang menginginkan otonomi penuh untuk mengelola partai secara terdesentralisasi, khususnya dalam menentukan bakal calon kepala daerah yang diusung Partai Demokrat.

Dengan kata lain, kemenangan Anas adalah kumulatif dari kecanggihan politiknya dalam mengelola isu politik, memperkuat akar di dalam partai melalui jaringan organisasi yang dia bangun bersama para pendukungnya, dan tentunya dukungan dari pinisepuh keluarga Cikeas.

Era Orang Muda
Lepas dari perbedaan analisis atas kemenangan Anas tersebut, paling tidak ini menunjukkan betapa era kini dan mendatang adalah eranya orang muda untuk memimpin partai atau menjadi pemimpin bangsa. Kalau saja Anas pandai memainkan posisinya sebagai pemimpin partai segitiga biru ini, bukan mustahil dia dapat menjadi calon wakil presiden atau bahkan calon presiden pada Pemilu Presiden 2014.

Pada tahap awal Anas harus membuktikan, politik kepemimpinannya agak berbeda dengan SBY. Anas harus menunjukkan, membangun partai tidak cukup dengan politik pencitraan,melainkan dengan membangun sistem di internal partai yang lebih baik.Politik sektarian yang mengutamakan para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk masuk jajaran pengurus Partai Demokrat perlu dihindari.

Tekanan pada ideologi nasionalisme juga harus lebih mengemuka dibandingkan ideologi Islam agar wajah Partai Demokrat tidak berubah drastis. Pada tahap berikutnya, Anas juga harus membuktikan bahwa dirinya mampu menggalang kekuatan koalisi partai melalui kecanggihannya berkiprah di dalam Sekretariat Gabungan partai-partai pendukung pemerintah.

Namun, untuk itu tentunya Anas harus diberi otoritas oleh SBY agar dia dapat mempertahankan posisi tawar-menawar Partai Demokrat di Sekretariat Gabungan tetap kuat dalam berhadapan dengan partai-partai anggota koalisi lainnya, khususnya Partai Golkar. Tahap akhir dari pencalonan dirinya untuk maju menjadi calon presiden/wakil presiden tergantung pada suara di Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Rekam jejak Anas Urbaningrum dalam empat tahun ke depan tentunya juga akan dilihat apakah dia akan menjadi pemimpin yang mumpuni ataukah akan jadi politikus pecundang. Jalan menuju istana tentunya tetap berat bagi Anas karena ada juga orang-orang muda yang tentunya akan muncul pada Pilpres 2014.Bukan mustahil Mahfud MD juga akan diajukan PKB sebagai capres.

Di sebagian kalangan cendekiawan sendiri, termasuk penulis, menjagokan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai Capres 2014.Terlepas dari berbagai kritik dan hujatan keras terhadap Sri Mulyani terkait perannya dalam pemberian dana talangan ke Bank Century, dia adalah orang yang jujur, bersih, tidak berpolitik,dan tidak pernah menggunakan otoritasnya sebagai menteri untuk keuntungan pribadi dan keluarganya.

Jika Sri Mulyani maju menjadi calon presiden, memang akan banyak orang-orang partai atau kelompok bisnis yang ingin menjegalnya karena Sri Mulyani amat mengharamkan kompromi politik untuk kepentingan individu,kelompok,keluarga,apalagi partai politik. Mudah-mudahan kita akan menjadi saksi sejarah bagaimana orang-orang muda akan bertarung pada Pilpres 2014 mendatang.Kata kuncinya ialah: hanya orang yang jujur, bersih, berpikir dan bertindak untuk kemajuan bangsalah yang akan terpilih menjadi presiden/wakil presiden pada 2014 mendatang! (*)

Dimuat di Seputar Indonesia, 25 Mei 2010

0 Responses to “Yang Muda yang Berjaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: