Tokoh Muda Versus Tokoh Tua

Oleh: Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PEMILU presiden/wakil presiden langsung (pilpres) masih empat tahun lagi.Namun, partai-partai politik tampaknya sudah mulai mempertimbangkan jago-jago yang akan mereka tampilkan pada Pilpres 2014.

Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai calon presiden dari kaum muda memiliki kans memenangi Pilpres 2014. Karena itu, tokoh muda harus sudah mulai berani tampil berkompetisi dengan tokoh tua. Jika Megawati, Prabowo, dan Wiranto maju lagi,mereka sulit menang lantaran pemilih menilai mereka sebagai bagian dari stok lama (Seputar Indonesia,3 Mei 2010). Pernyataan Muhtadi itu ada benarnya walau masih perlu diberi catatan. Para pemilih, terutama generasi muda,tentu akan lebih tertarik memberikan suara mereka kepada orang-orang muda ketimbang kepada tokoh tua.Namun,tokoh muda juga jangan terbuai begitu saja oleh penilaian Muhtadi karena mereka juga harus telah membuktikan suatukarya politik bagi bangsa ini untuk dapat benar-benar diperhitungkan sebagai calon pemimpin bangsa.

Tengok misalnya Bung Karno dan Bung Hatta.Kedua tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia itu masih terbilang muda saat Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) menetapkan keduanya sebagai presiden dan wakil presiden pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Bung Karno masih berusia 44 tahun (lahir 6 Juni 1901) dan Bung Hatta 43 tahun (lahir 12 Agustus 1902). Namun, kedua bapak pendiri bangsa dan proklamator Kemerdekaan RI tersebut sudah malang melintang dalam politik lebih dari separuh usia sebelumnya, bahkan pernah masuk penjara sebagai tahanan politik pada era pemerintahan kolonial Belanda.

Kedua beliau juga tidak menokohkan diri, melainkan sebenar-benarnya tokoh muda bangsa saat itu yang diakui oleh segenap bangsa Indonesia, baik dari kalangan muda maupun tua.

Bukan Faktor Usia
Menjadi calon presiden pada 2014 bukan sekadar faktor usia yang menentukan.Juga bukan karena polesan lembaga konsultan politik yang canggih sekalipun. Dia harus benar-benar memiliki karakter sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki moral politik baik,berdedikasi kepada bangsa dan negara, cakap memimpin, memiliki pengetahuan yang luas tentang persoalan bangsa dan bagaimana visinya untuk kemajuan bangsa ke depan, serta tentunya memiliki pengalaman politik yang cukup lama dan baik pula.

Tokoh muda memang memiliki kelebihan karena dapat menjadi medan magnet yang baik kepada para pemilih muda.Namun rekam jejak dan pengalaman politik juga penting.Para pemilih muda dan tua tentu juga ada yang memiliki referensi untuk memilih tokoh setengah baya atau tua yang dianggap memiliki kecakapan memimpin, berpengetahuan luas, punya pengalaman politik yang menyebabkannya tidak mudah patah semangat, dan tentu memiliki rekam jejak yang baik di mata pemilih. Calon presiden pada 2014 dapat saja datang dari berbagai usia dan bidang kehidupan.Dia bisa datang dari kalangan pegawai negeri, aktivis politik,pengusaha,mantan militer/polisi,LSM atau bidang kehidupan lain.

Usia mereka juga bisa di atas 40 tahun dan di bawah 50 tahun atau lebih dari 50 tahun asalkan tidak tua renta dan tidak lagi memiliki kesehatan fisik dan rohani. Beberapa tokoh partai bukan mustahil tetap berkeinginan untuk maju bertanding pada Pilpres 2014. Sebut saja Aburizal Bakrie dari Partai Golkar, Surya Paloh yang jika memungkinkan akan mendirikan Partai Nasional Demokrat atau Prabowo Subianto dari Gerindra.Namun kecil kemungkinannya Megawati Soekarnoputri dan Wiranto maju kembali karena faktor usia dan kekalahan dua kali pada pilpres sebelumnya. Dua tokoh yang mungkin saja akan dijagokan Partai Demokrat ialah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi (Purn) Sutanto atau Menko Polhukam saat ini Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto.

Presiden RI bukan posisi sembarangan. Jabatan itu jangan pula dijadikan pertaruhan politik untuk memilih seorang calon pemimpin hanya atas dasar usia.Tantangan yang dihadapi negeri ini amat banyak. Dia harus mampu menyelesaikan persoalan pendidikan menengah atas di Tanah Air yang amburadul. Dia harus mampu memperhitungkan berapa jumlah anak-anak Indonesia yang terpaksa putus sekolah dan akan menjadi dewasa pada 2015 saat globalisasi ekonomi mulai diterapkan secara konsisten di negara maju dan akan juga berlaku di negara berkembang pada 2020. Seorang Presiden RI mendatang juga harus dapat menemukan jalan keluar bagaimana memanfaatkan anak-anak Indonesia yang memiliki gagasan besar di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seperti di bidang komputer dan robotik.

Mereka bukan hanya butuh penghargaan dan diterima di kantor presiden semata,melainkan juga butuh perhatian pemerintah untuk bagaimana mereka dapat berbuat lebih banyak lagi bagi bangsa kita ke depan. Seorang Presiden RI juga harus peduli pada bagaimana agar sumber daya manusia Indonesia yang melimpah ini, dengan beragam jenjang pendidikan dan keterampilannya, dapat berguna bagi bangsa ini dan bukan ditelantarkan. Di negara yang menganut sistem liberal sekalipun, perhatian terhadap masa depan anak-anak bangsa sangat diperhatikan. Kita tentu masih ingat kampanye Bill Clinton saat bertarung menjadi presiden di Amerika Serikat (AS) lalu yang bukan saja memfokuskan pada bidang ekonomi,melainkan juga agar anak-anak AS dapat maju selama 100 tahun mendatang.

Kita juga lihat bagaimana komputer dan jaringan internet akan diberikan kepada anak-anak AS agar mereka dapat bersaing dengan anak-anak dari bangsa lain. Belum lagi persoalan pertahanan keamanan, pertanian dan perikanan, kelautan yang semuanya membutuhkan perhatian dan bukan sekadar slogan dalam kampanye presiden. Pertanyaannya, apakah dalam waktu empat tahun akan ada tokoh-tokoh muda Indonesia yang benar-benar memiliki keterampilan komprehensif dan bukan hanya sebagai pembual politik? Jawabannya tentu ada, tetapi belum tentu dia berada di pusaran politik Indonesia saat ini.

Tidaklah salah jika kita mengajukan gagasan, bagaimana jika calon presiden RI, berapa pun usianya, harus pernah memiliki pengalaman sebagai mantan gubernur, mantan menteri, mantan ketua organisasi apa pun yang teruji kepemimpinannya, atau bahkan mantan usahawan kecil yang menunjukkan prestasi gemilang? Memang ini masih gagasan yang elitis seperti pendekatan Plato masa lalu, tetapi mungkinkah pemimpin bangsa akan datang dari orang kebanyakan yang tidak memiliki kecakapan politik dan pengalaman kehidupan yang memadai? Wallahu a’lam.(*)

Dimuat di Seputar Indonesia, 4 Mei 2010

0 Responses to “Tokoh Muda Versus Tokoh Tua”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: