Fenomena Artis dan Pilkada

Oleh: Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

KETIKA Ronald Reagan yang mantan bintang film terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) mengalahkan incumbent Presiden Jimmy Carter pada Pemilu November 1979,guyonan politik yang berkembang di Indonesia saat itu adalah:

“Kapan Rano Karno?”Reagan yang dianggap tidak memiliki kecakapan politik untuk menjadi pemimpin negara adidaya sebesar AS ternyata mampu menjadi Presiden AS dalam dua periode, dari 1980 sampai 1988. Dua puluh tahun kemudian, fenomena artis,aktor film atau peragawati yang terjun ke politik adalah hal biasa di Indonesia.

Reformasi dan demokratisasi politik sejak Mei 1998 telah membuka peluang besar bagi para selebritas untuk menjadi politisi di Tanah Air,baik menjadi anggota parlemen pusat maupun daerah atau bahkan menjadi wakil kepala daerah, walau belum pada posisi puncak pemerintahan di tingkat pusat. Rano Karno yang dulu masih merupakan aktor cilik di Tanah Air, kini menjadi Wakil Bupati Tangerang.

Bukan mustahil, Rano yang kini juga memiliki posisi Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi di DPP PDIP saja diajukan sebagai bakal calon presiden atau wakil presiden yang diusung PDIP pada Pilpres 2014! Demokrasi memang tidak boleh mensyaratkan apapun,kecuali kesehatan jiwa, bagi seseorang untuk maju bertanding ke posisi puncak pemerintahan, baik sebagai bakal calon presiden/wakil presiden, gubernur/ wakil gubernur,maupun wali kota/wakil wali kota.

Demokrasi juga tidak boleh mensyaratkan hanya orang-orang dari kalangan partai politik saja yang boleh bertanding untuk jabatan-jabatan tersebut. Dengan kata lain,demokrasi tidak boleh menerapkan aturan yang diskriminatif terhadap warga negara untuk terjun ke politik,kecuali seperti yang termaktub di dalam konstitusi kita bahwa hanya partai politik atau gabungan partai politik yang boleh mengajukan bakal calon presiden/wakil presiden.

Yang terpenting bagi seseorang untuk maju ke kancah pertarungan politik adalah apakah dia sehat jasmani rohani, cakap berorganisasi, mampu mengarahkan birokrasi pemerintahan, dan akseptabilitasnya cukup tinggi di mata masyarakat. Kecakapan berorganisasi tidak harus didapat seseorang melulu melalui partai politik, melainkan dari organisasi lain, termasuk manajemen keartisan atau manajemen keperagawatian.

Namun, akan lebih baik jika sang artis sudah terlebih dahulu terjun ke politik dengan menjadi anggota partai politik sebelum dia bertarung dalam pemilu legislatif, pemilu kepala daerah (pilkada), atau bahkan pemilu presiden. Sebut saja Miing, Rieke Diah Pitaloka, dan Rano Karno yang kini menjadi anggota PDIP. Dede Yusuf yang dulu di Golkar dan kini di Partai Amanat Nasional (PAN),Wanda Hamidah yang sejak dulu aktif di PAN, serta Rachel Maryam di Partai Demokrat.

Fenomena Jupe
Kini ada beberapa artis yang bertarung untuk menduduki posisi orang nomor satu atau nomor dua di pilkada kabupaten. Misalnya, Julia Perez yang ingin menjadi bakal calon Bupati Pacitan, Jawa Timur,kota kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), peragawati senior Ratih Sanggarwati yang maju kembali untuk menjadi cabup di kota kelahirannya Ngawi, Jawa Timur, atau Ayu Azhari yang maju dalam pilkada di Sukabumi,Jawa Barat. Dari para artis yang maju tersebut, nama Julia Perez merupakan yang paling kontroversial.

Tidak sedikit organisasi pemuda,perempuan dan keagamaan di Pacitan yang tegas-tegas menentang Jupe (panggilan akrab Julia Perez) untuk menjadi bakal cabub di Pacitan. Bahkan,foto-foto Jupe yang “seronok” sempat beredar di dunia maya.Namun, Jupe tetap tenangtenang saja menanggapi prokontra pencalonan dirinya. Memang bukan kepintaran atau kebodohan yang menentukan seseorang mampu menjadi pemimpin.

Faktor luck dan kapabilitas kepemimpinan seseorang dalam mengelola daerah juga patut diperhitungkan. Sayangnya, Jupe sendiri tidak tahu Pacitan letaknya di mana dan apa permasalahan yang dihadapi penduduk Pacitan karena dia sendiri belum pernah ke sana sebelumnya. Jupe baru berkunjung ke Pacitan ketika ribut-ribut soal pencalonannya mencuat di panggung politik lokal dan nasional.

Desentralisasi dan Perempuan
Seorang aktivis perempuan yang berkecimpung di lembaga donor asing, Hanna Satrio, pernah menulis soal perempuan dan desentralisasi dengan judul Women and Desentralisation: One Step back, Two Steps Forward dalam bunga rampai soal politik lokal di Indonesia. Hanna antara lain menulis bahwa Orde Baru adalah era di mana peran perempuan dalam politik di Indonesia mengalami titik terendah. Peran itu semakin terbuka pada era Reformasi.

Namun, paling tidak ada dua kendala utama bagi perempuan terjun ke politik di tingkat lokal yaitu: pertama, kendala adat yang masih menempatkan posisi perempuan sebagai orang yang kurang diinginkan untuk terjun ke politik; kedua, kendala agama, di mana pada daerahdaerah tertentu ada tokoh-tokoh agama yang masih belum terbuka untuk menerima peran positif perempuan dalam politik.

Namun, kata Hanna, kemunduran satu langkah itu ternyata menuai kemajuan dua langkah ketika para aktivis perempuan bukan hanya aktif memperjuangkan posisi politiknya di tingkat lokal, melainkan juga pada tingkatan pusat. Lihat bagaimana kaum perempuan membentuk kaukus perempuan di parlemen (DPR), bagaimana pula mereka memperjuangkan jatah 30% perempuan di parlemen, dan posisi-posisi lainnya dalam ormas-ormas keagamaan atau non-agama.

Kini, para perempuan Indonesia, tak kecuali para artis, dapat terjun ke politik praktis di Indonesia,walau masih ada kendala internal di keluarga atau masyarakat. Fenomena artis terjun ke politik bukan soal keartisannya atau keperempuanannya, melainkan apakah partai-partai politik yang merekrutnya sudah melakukan pendidikan politik yang baik bagi para kadernya.Jika artis itu masuk ke partai politik terlebih dahulu, ditempa dan digembleng untuk menjadi politisi yang piawai, tentunya keberatan masyarakat terhadap mereka akan berkurang.

Mengandalkan keartisan atau popularitas seseorang yang diusung menjadi bakal calon pemimpin tanpa memberi bekal pengalaman politik yang baik sama saja merendahkan bakal calon tersebut dan para pemilihnya. Politik memang tidak mengenal diskriminasi gender atau jalur kehidupan seseorang. Namun, alangkah lebih baik jika artis itu adalah orang yang memiliki bekal pengetahuan yang cukup tentang daerah dan visi misi partai-partai yang mengusungnya, sebelum dia diterjunkan untuk bertarung dalam pilkada.

Namun, percaya atau tidak, sejarah telah membuktikan bahwa seorang artis dapat terpilih menjadi kepala daerah atau bahkan kepala negara/kepala pemerintahan. Kebosanan pada tingkah laku politisi yang buruk,kadang membuat para pemilih mendukung calon underdog dari kalangan artis. Jika di AS bisa,Indonesia juga bisa! (*)

Sumber: Seputar Indonesia, 27 April 2010

2 Responses to “Fenomena Artis dan Pilkada”


  1. 1 agr poer May 6, 2010 at 3:09 pm

    siapa saj boleh terjun k dnia perpolitikan asalkan dia bisa memainkan politik yg cntik,,,,,dengan itu dia bisa mendapatkan legitimasi.,.,…siapa pun yg terjun dlm perpolitikan,,,saya acungi jempol karena,,,dia sudah mempunyai motivasi untk berkmpetisi,,,,sya harpkan smua orng indonesia memiliki daya kompetisix,,,,dengan itu akan terbntuk partisipatif cultur,,,,tetpi jgn smpai jd orng yang partsptif karena d mobilisir.,,.,.lets grow up our cntry.,.,,.

  2. 2 webpage July 4, 2014 at 3:05 am

    Hi! I know this is kinda off topic nevertheless I’d figured I’d ask.
    Would you be interested in exchanging links or maybe guest authoring a blog post or vice-versa?
    My blog addresses a lot of the same subjects as yours and I feel we could greatly benefit from
    each other. If you are interested feel free to send me an e-mail.
    I look forward to hearing from you! Superb blog by the way!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: