Taruhan “Demokrasi” di Partai Demokrat

Oleh: Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

KONGRES II Partai Demokrat (PD) baru akan berlangsung pada 21–23 Mei 2010 di Kota Kembang Bandung.Namun, suhu politik internal di PD terkait dengan pertarungan politik untuk meraih jabatan Ketua Umum DPP PD sudah memanas.

Meski ada tiga nama yang muncul sebagai kandidat Ketua Umum PD––Andi Alifian Mallarangeng, Anas Urbaningrum, dan Marzuki Alie––, dua nama terdepan dipandang sebagai petarung paling kuat untuk menduduki posisi puncak di PD. Andi Mallarangeng (AM), karena kekuatan keuangan dan jaringan usaha konsultan politik keluarga, memasang baliho besar di bilangan Jembatan Semanggi, Jakarta, dengan foto besar bertuliskan “AM for PD No 1, Siap Melanjutkan Perjuangan.” Lokasi baliho dan gaya berkampanye AM mirip dengan ketika adik kandungnya, Rizal Mallarangeng,ingin maju menjadi calon kandidat presiden pada Pilpres 2009 yang menampilkan kata-kata bertuah: “If there is a will,there is a way(di mana ada kemauan, di situ ada jalan).

” Untuk mendongkrak popularitasnya dan mencitrakan kedekatan dirinya dengan Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),AM kerap kali mengajak Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas) pada road show politik ke berbagai daerah. Apa yang dilakukan Anas Urbaningrum (AU) lain lagi.Politisi muda PD yang berpembawaan tenang dan santun ini lebih memilih “berpolitik secara santun,bersih,saling menghormati, dan memperkuat kelembagaan partai untuk kepentingan jangka panjang” sebagai jualan politiknya.AU mungkin sudah menyadari,PD yang selama ini sangat tergantung pada citra diri SBY tak selamanya dapat bergantung pada sosok SBY semata. Citra SBY tetap penting untuk jangka pendek, tetapi memperkuat kelembagaan partai di tubuh PD merupakan suatu keniscayaan agar PD dapat survive di masa depan.

Dengan kata lain,dalam bahasa yang sederhana, politik pencitraan adalah kebutuhan politik jangka pendek pada masa lalu, sedangkan penguatan kelembagaan partai merupakan kepentingan jangka panjang ke depan agar PD dapat berfungsi sesungguh-sungguhnya partai politik dan bukan sekadar “fans clubSBY”. Apa yang dipikirkan dan akan dijalankan AU jika terpilih menjadi orang nomor satu di PD itu merupakan langkah maju. PD tidak mungkin terus-menerus mengusung nama besar SBY yang mustahil dapat dijagokan lagi sebagai capres pada Pilpres 2014.Membangun kelembagaan partai atas dasar pengembangan sistem jauh lebih berguna ketimbang terus-menerus mengusung nama besar SBY.

Selain itu, politik pencitraan yang membabi buta telah pula membuat jenuh dan muak kalangan kelas menengah bawah dan atas yang semakin kritis dalam mengemukakan pandangan-pandangan dan penilaian politiknya. Tanpa adanya akar dan bangunan kelembagaan partai yang kuat, PD akan terempas pada Pemilu 2014.

Demokrat atau Patron
Akhir dari pertarungan politik atau lebih santunnya pertandingan politik antara AM dan AU tampaknya akan sangat ditentukan oleh sikap SBY sebagai Ketua Dewan Pembina PD. Meski kubu AU mendaku (mengklaim) bahwa AU sudah mendapatkan dukungan lebih dari separuh DPD dan DPC PD dari Sabang sampai ke Merauke, sementara kubu AM mendaku telah mengantongi dukungan 70% dari mereka yang berhak memilih, semua itu tergantung pada sikap SBY.

Jika SBY menunjukkan sosok dirinya sebagai seorang “patron politik” seperti posisi Soeharto di dalam Golkar pada era Orde Baru, bukan mustahil restu politik itu akan diberikan kepada AM. Alasan politiknya,AM adalah mantan Juru Bicara (Jubir) Presiden yang amat dekat dengan SBY dan keluarganya. Sebagai mantan jubir, AM tentu lebih mudah disetir untuk memberikan konsesi-konsesi politik kepada keluarga SBY di masa depan, baik terhadap istrinya, KristianiYudhoyono,ataupun Ibas. AM juga bukan kader PD yang sejak awal berkiprah di PD. Pada pemilu legislatif 2004 AM merupakan kandidat anggota legislatif untuk daerah pemilihan DKI Jakarta (tetapi gagal) dari Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) pimpinan Riyaas Rasyid. Citranya sebagai politisi yang “lompat pagar” dari PDK ke PD mungkin menjadi titik lemah AM untuk meraih posisi puncak di PD.

Jika SBY lebih menunjukkan dirinya sebagai seorang demokrat sejati, bukan mustahil dukungan politik kepada AU akan semakin membesar karena AU adalah kader muda partai yang santun, bersih, dan memiliki segudang pengalaman politik yang memungkinkan mempertahankan PD dapat tetap berjaya di masa depan.Sebagai anak muda yang tahu diri,AU memang tidak dapat melepaskan diri 100% dari sosok SBY karena bagaimanapun AU juga berutang budi kepada SBY yang telah memberikan tempat bagi AU untuk mengembangkan diri di PD setelah ia mengundurkan diri dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan terjun ke politik menjelang Pemilu Presiden 2004. Suhu politik internal di dalam PD memang semakin memanas.

Ada isu dari kalangan internal PD sendiri bahwa politik uang dan intrik politik berupa ancaman pemecatan terhadap ketua DPC atau DPD yang mendukung AU kini mulai terjadi.Jika ini benar-benar terjadi, PD tak ubahnya seperti partai-partai politik lain yang suka melakukan politik uang dan intrikintrik politik dalam pemilihan ketua umumnya. Kita lihat saja apa yang akan terjadi pada Kongres II PD bulan depan. Jika restu politik menjadi kata kunci bagi kemenangan salah seorang kandidat ketua umum PD, ini berarti SBY lebih menempatkan dirinya sebagai patron ketimbang sebagai seorang demokrat sejati.

PD juga akan dipandang sebagai “partai tradisional”yang segalanya tergantung kepada sosok ketua dewan pembina seperti Golkar pada masa Orde Baru dan belum menjadi sebuah partai modern atau partai yang sebenarbenarnya partai politik. (*)

Seputar Indonesia, 20 April 2010

0 Responses to “Taruhan “Demokrasi” di Partai Demokrat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: