PDI-P: Oposisi Atau Koalisi?

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Oposisi atau koalisi? Wacana itulah yang mewarnai berlangsungnya Kongres III Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Bali pekan ini. Sebagian elite partai mendesak agar PDI-P berkoalisi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sementara arus-bawah partai ingin mempertahankan sikap oposisi.

Spekulasi adanya perubahan sikap politik PDI-P terhadap pemerintahan Yudhoyono sebenarnya telah muncul menjelang pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II pada akhir Oktober 2009. Sejumlah elite PDI-Pi seperti Ketua Pertimbangan Partai, Taufik Kiemas, membuka peluang berkoalisi dengan kubu Partai Demokrat jika Yudhoyono menghendakinya. Namun ternyata Presiden Yudhoyono hanya mengajak Partai Golkar di luar parpol yang sejak awal mengusungnya sebagai capres Pemilu 2009.

Namun spekulasi tersebut kembali menguat ketika sejumlah elite Partai Demokrat secara terbuka menyatakan kekecewaan terhadap trio parpol koalisi di DPR, Golkar, PKS, dan PPP, yang ternyata memvonis skandal Bank Century sebagai kesalahan kebijakan pemerintah. Singkatnya, Partai Demokrat ”melirik” PDI-P dan sebagian elite partai banteng gemuk menangkap lirikan politik itu dengan penuh arti. Hanya saja, hingga menjelang Kongres Bali berlangsung, Megawati tak pernah benar-benar memberi ”sinyal” bahwa partai yang dipimpinnya akan berlabuh di pangkuan Yudhoyono.

Gamang
Sulit dipungkiri bahwa partai pimpinan Megawati dewasa ini tengah gamang secara politik. Betapa tidak, meski tampil sebagai partai pemenang Pemilu 1999 dan puteri tertua Bung Karno tersebut akhirnya menjabat sebagai Presiden RI pada 2001-2004, menyusul pemberhentian Abdurrahman Wahid oleh MPR, prestasi PDI-P setelah itu merosot terus.

Pada Pemilu 2009 PDI-P hanya berada di urutan ke-3 pemilu legislatif di bawah Demokrat dan Golkar. Sikap kritis sebagai ”partai oposisi” di DPR ternyata tak mampu memikat hati rakyat dalam pemilu legislatif. Sementara dalam pemilu presiden, Megawati yang berpasangan dengan Prabowo Subianto (Partai Gerindra) kalah telak oleh capres incumbent Yudhoyono yang memilih Boediono sebagai partner baru pengganti Jusuf Kalla.

Tarik ulur di kalangan elite PDI-P, apakah tetap beroposisi atau berkoalisi dengan pemerintahan Yudhoyono, pada dasarnya adalah manifestasi kegamangan politik yang melanda internal partai bersimbol warna merah ini. Persoalannya, pilihan apa pun tampaknya menjadi ”buah simalakama” bagi PDI-P. Bertahan sebagai oposisi ternyata gagal mendongkrat suara partai, sedangkan memilih berkoalisi kemungkinan besar bakal ditinggalkan massa pendukung di tingkat akar-rumput partai.

Ideologi Luntur
Problematik yang dihadapi oleh PDI-P pada dasarnya dihadapi pula oleh partai-partai lain di Indonesia dewasa ini. Yakni fenomena ketika bujukan dan daya tarik kekuasaan lebih menyilaukan mata para elite parpol ketimbang berpegang secara konsisten pada ideologi dan platform politik partai masing-masing. Dalam realitasnya ideologi dan platform partai acapkali tak lebih dari dokumen tertulis yang tak pernah menjadi acuan dalam perilaku para elite dan pilihan kebijakan yang diperjuangkan parpol.

Kehendak sebagian elite PDI-P, termasuk Taufik Kiemas, suami Megawati sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Partai, untuk berkoalisi dengan Yudhoyono jelas merupakan manifestasi melunturnya ideologi partai. Lebih jauh lagi, sebagai dokumen tertulis, ideologi dan platform partai hanya menjadi alat untuk meraih dukungan di satu pihak, dan kekuasaan politik di lain pihak, baik di badan legislatif maupun di eksekutif.

Dampak negatif semacam itulah tampaknya yang masih dirisaukan Megawati, sehingga sejauh ini puteri tertua Bung Karno tersebut relatif belum tergoda oleh bujukan sebagian elite PDI-P untuk bersekutu dengan pemerintahan Yudhoyono. Tanda-tanda bahwa Megawati masih bertahan dengan sikap politiknya tampak dari tidak diundangnya Presiden Yudhoyono dalam pembukaan acara akbar partai berlambang banteng gemuk ini.

Rugi Besar
Kecualin kekuasaan politik dalam bentuk misalnya kursi kabinet yang dinikmati oleh segelintir politisi, sebenarnya PDI-P dan bangsa kita tidak memperoleh apa pun jika memilih berkoalisi dengan pemerintahan Yudhoyono. Mungkin saja posisi sebagai bagian koalisi di dalam pemerintahan mempermudah partai memperoleh akses sumber-sumber ekonomi untuk pembiayaan partai.

Namun demikian ongkos politik yang harus dibayar PDI-P jelas terlalu mahal jika orientasi atau tujuan koalisi hanya untuk tujuan jangka pendek seperti itu. Jika koalisi menjadi pilihan elite PDI-P, dapat diduga partai ini makin ditinggalkan massa pendukungnya di tingkat akar-rumput. Karena itu pilihan koalisi merupakan kerugian besar bagi PDI-P sekaligus keuntungan besar bagi kubu Demokrat dan Yudhoyono.

Secara obyektif bangsa kita membutuhkan kekuatan politik yang tetap kritis dan korektif terhadap setiap kebijakan pemerintah, entah atas nama oposisi atau ”penyeimbang” seperti dilontarkan sejumlah elite PDI-P akhir-akhir ini. Sistem demokrasi yang sehat, yakni yang melembagakan mekanisme checks and balances, membutuhkan kekuatan oposisi di parlemen.

Lalu, apa yang bisa diharapkan rakyat jika hampir semua parpol di DPR menjadi bagian dari koalisi pemerintahan dan hanya memberikan ”koor” setuju atas kebijakan pemerintah? Semoga para elite PDI-P yang tengah berkongres di Bali sadar akan hal itu dan kembali ke jalan yang benar.

Dimuat dalam Seputar Indonesia, 6 April 2010

0 Responses to “PDI-P: Oposisi Atau Koalisi?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: