Antara Nuklir Israel dan Iran

Oleh: Drs. M. Hamdan Basyar, M.Si
Peneliti Utama LIPI dan Wakil Sekretaris Jenderal PP AIPI

Menarik, pengumuman Menteri Infrastruktur Israel, Uzi Landau, yang menyebutkan Israel akan mengembangkan pembangkit nuklir untuk kepentingan listrik. Mengapa menarik? Selama ini Israel tidak pernah mau membuka kegiatan pengembangan nuklirnya. Mereka sengaja menutupinya dengan berbagai dalih. Padahal, dunia internasional mengetahui bahwa Israel sudah lama mengembangkan nuklir, bahkan mereka dianggap sudah mempunyai senjata nuklir.

Adalah Ehud Olmert, yang waktu itu menjabat sebagai perdana menteri Israel , mengeluarkan pernyataan dalam suatu kunjungannya ke Jerman bahwa Israel memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pejabat Israel lainnya. Sebagian politisi Israel mengkritik tajam pernyataan Olmert tersebut, bahkan ada yang menuntutnya untuk mundur dari perdana menteri.

Pernyataan Olmert itu merupakan pengakuan pertama tentang adanya senjata nuklir dari pejabat tinggi Israel . Sebelumnya, ada pernyataan dari Mordechai Vanunu, seorang teknisi yang bekerja di reaktor nuklir Demona , Israel . Vanunu yang bekerja di sana, antara tahun 1976 hingga 1985 itu membuka rahasia keberadaan reaktor nuklir Israel di Demona, Negev, Israel selatan. Tak lama kemudian, dia diculik oleh agen Mossad dan dijatuhi hukuman 18 tahun. Kini, Vanunu telah bebas, tapi tidak dapat keluar dari Israel .

Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa Israel mulai mengembangkan proyeknya pada 1956 atas bantuan Pemerintah Prancis. Pada 1960, Israel berhasil memproduksi hulu ledak nuklir pertamanya. Diperkirakan, saat ini Israel mempunyai sekitar 200 hulu ledak nuklir (bandingkan dengan India yang mempunyai 150 kepala nuklir dan Pakistan yang mempunyai 60 kepala nuklir). Ketiga negara itu tidak mau menandatangani NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), suatu perjanjian pengaturan persebaran nuklir.

Mereka berargumentasi bahwa NPT hanya menciptakan kelompok kecil ‘pemilik nuklir’ dan kelompok besar ‘bukan pemilik nuklir’ dengan batasan adanya percobaan senjata nuklir sebelum tahun 1967. NPT tidak pernah menjelaskan alasan prinsip dari perbedaan itu yang berkaitan dengan bahaya senjata nuklir. Israel juga tidak pernah mau mengizinkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk melakukan inspeksi di reaktor nuklirnya.

Dunia Arab berusaha mendekati Uni Eropa untuk mendukung upaya memaksa Israel menjelaskan kepada dunia internasional tentang pengembangan nuklir yang mereka lakukan. Usaha itu, misalnya, dilakukan dengan adanya surat Sekjen Liga Arab kepada Menteri Luar Negeri Swedia, Carl Bildt, yang menjabat sebagai presiden Uni Eropa. Surat yang dikirim Agustus 2009 lalu itu, berisi desakan Liga Arab agar Uni Eropa mendukung resolusi negara-negara Arab yang berjudul ‘Kemampuan Nuklir Israel’ yang disampaikan dalam sidang IAEA.

Hasil pemungutan suara yang dilakukan badan nuklir PBB pada September silam itu memenangkan resolusi negara-negara Arab. Perbandingan suara yang mendukung dan menentang resolusi sangat tipis, yakni 49:45. Ada 16 suara yang abstain. Itu menandakan kuatnya lobi Israel di IAEA. Tapi akhirnya, dengan resolusi itu, Israel didesak untuk menyetujui aturan yang ada dalam NPT. Artinya, negeri zionis itu harus menempatkan semua tempat pengembangan nuklirnya di bawah pengawasan PBB.

Maka, pengumuman Menteri Infrastruktur Israel , Landau, tentang rencana pengembangan nuklir itu, hanyalah pengakuan ‘resmi’ dari seorang pejabat Israel . Mereka sengaja men-disclosed masalah nuklir, agar dunia memahami kepentingan Israel akan kebutuhan tenaga nuklirnya. Sudah dapat diramalkan, dunia barat yang jadi sekutu Israel akan mendukungnya.

Memang, pengembangan suatu sumber energi (termasuk nuklir) untuk kepentingan damai adalah hak suatu negara. Siapa pun mestinya diperbolehkan untuk mengembangkan nuklir, asalkan tidak membahayakan lingkungan sekitarnya. Itulah prinsip keadilan, demi kebersamaan hidup di dunia yang terbatas ini. Apa benar demikian?

Rupanya keadilan belum terjadi bila masalah nuklir Israel ini disandingkan dengan isu nuklir Iran. Negara kaum mullah ini, seakan diharamkan oleh barat untuk mengembangkan teknologi nuklir. Padahal, Iran menjelaskan bahwa pengembangan nuklirnya untuk kepentingan damai. Untuk itu, Pemerintah Iran mau melakukan penandatanganan NPT pada 1968, yang kemudian diratifikasi oleh Parlemen Iran pada 1970.

Awalnya, pengembangan nuklir Iran tersebut didukung oleh barat, terutama Amerika Serikat. Tapi, setelah revolusi Iran (1979) yang dimenangkan oleh kaum mullah, barat mengkhawatirkan pengembangan nuklir Iran. Beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB menunjukkan hal tersebut, seperti tercantum dalam resolusi No 1696 (31 Juli 2006), resolusi No 1737 (27 Desember 2006), resolusi No 1747 (24 Maret 2007), dan resolusi No 1803 (3 Maret 2008).

Dalam resolusi itu, Iran diminta untuk menghentikan program nuklirnya dan akan diberikan sanksi berat bila terus melakukan pengembangan nuklir.Tampak ada perbedaan sikap dunia barat terhadap pengembangan nuklir Israel dan nuklir Iran. Israel didukung, sedangkan Iran ditentang.

Telah dimuat di Republika, 13 Maret 2010

0 Responses to “Antara Nuklir Israel dan Iran”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d bloggers like this: