Secercah Harapan bagi Pendewasaan Politik Bangsa

Oleh: Firman Noor, MA
Dosen IlmuPolitik UI, Kandidat PhD dari HUSS, University of Exeter (UK)

Hingar-bingar Kasus Bank Century memberikan banyak pelajaran bagi bangsa kita. Dalam konteks kehidupan politik,khususnya hubungan legislatif dan eksekutif,beragam kesimpulan dan analisis dapat ditarik daripadanya.

Salah satunya adalah pendewasaan politik politisi yang berpotensi besar dapat membawa secercah harapan bagi pematangan demokrasi kita.

Makna Koalisi
Dari kasus Bank Century ini,secara politik koalisi telah dimaknai secara jauh lebih profesional dan substansial.Koalisi bukan lagi dimaknai sekadar memperjuangkan kepentingan kelompok apalagi individu namun diartikan sebagai sarana untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Hal ini tentu saja sebuah langkah besar bagi kehidupan politik bangsa. Masa lalu politik kita sebenarnya telah demikian terang benderang memberikan pelajaran bahwa sebuah sistem akan membusuk dan binasa bilamana bangsa ini menjadikan orang sebagai penjuru dan bukan pada kepentingan arus bawah.

Contoh kasus Pemerintahan Pak Harto adalah bukti paling gamblang bagaimana kesetiaan terhadap figur telah menyebabkan kerusakan politik yang sistemik. Semua elemen politik bangsa, termasuk lembaga-lembaga politik dijadikan mesin untuk membela dan menjalankan segenap titahnya. Konstruksi pemerintahan otoriter itu yang secara substansial tidak mendengar nurani rakyat, terbukti menjadi “bom waktu politik”. Pelajaran berharga dari Bung Karno setali tiga uang. Dengan mengondisikan kehidupan negara sebagai sebuah meja makan besar, seorang bapak harus dihormati apapun yang dilakukannya. Dampaknya, kritik menjadi macet dan sistem politik dan ekonomi pun mengalami kerusakan berat.

Dari Bung Karno dan Pak Harto bangsa kita telah belajar bahwa politik bangsa hendaknya dibangun dalam semangat membela kepentingan bersama, terutama kepentingan rakyat sebagai pemegang saham terbesar atas eksistensi kita sebagai sebuah bangsa.Artinya, bangsa ini harus melihat politik sebagai ajang dan sarana terhormat untuk memperjuangkan kepentingan yang lebih besar.Sebagaimana Presiden Kennedy katakan bahwa letak kemuliaan seorang politikus adalah karena mereka berurusan dengan upaya memperjuangkan kepentingan orang banyak. Di samping itu, sebenarnya tidak ada yang aneh dari pemaknaan koalisi yang diperbesar ini.

Secara teoritis hal ini disebabkan, dalam sistem presidensial keterpisahan antara legislatif dan eksekutif adalah sebuah hal yang mutlak.Dalam kondisi demikian komitmen dan manuver politik yang terjadi di dalam sayap eksekutif amat bisa berbeda dengan komitmen dan kepentingan strategis yang terjadi di sayap legislatif. Di satu sisi situasi tersebut memang memberikan peluang besar terjadinya deadlock yang menghambat jalannya pemerintahan, mengingat keberbedaan sumber legitimasi dan suasana kebatinan di antara dua lembaga itu.Namun, di sisi lain kondisi ini juga memberikan kesempatan bagi partaipartai di kedua lembaga itu memainkan “peran ganda” secara profesional. Intinya mereka dapat saling dukung dan kontrol yang jauh lebih “garang” dan apa adanya, yang sebenarnya dapat membuat pemerintah lebih aspiratif.

Dalam konteks empiris, dalam situasi sedemikian adalah sesuatu yang lazim jika menteri-menteri di dalam kabinet “berseberangan” atau memiliki posisi yang tidak sama dengan partainya di legislatif. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, beberapa orang presiden dari Partai Demokrat mengangkat menteri dari kalangan Republikan, dan sebaliknya. Contoh terbaru tentu saja Presiden Obama yang memasukan beberapa Republikan dalam kabinetnya, di antaranya Robert Gates (Menteri Pertahanan) dan Ray LaHood (Menteri Transportasi). Namun, tentu saja di parlemen Presiden Demokrat akan tetap terus mendapat kritik tajam dari kelompok Republikan sebagai oposisi terbesar, dan begitu pula sebaliknya.

Contoh Prancis lebih unik lagi. Di sini dikenal konsep kohabitasi, di mana seorang presiden terpilih dapat mengangkat pimpinan pemerintahannya sendiri (perdana menteri) dari partai yang mayoritas di parlemen meskipun berbeda partai. Demikianlah Presiden Mitterrand dari Socialist Party (PS) yang kiri bersedia mengangkat Jacques Chirac dari Rally for the Republic (RPR) yang berhaluan Gaullist sebagai perdana menteri dalam kabinetnya. Begitu pula sebaliknya, manakala Chirac mengangkat Lionel Jospin (PS) sebagai perdana menteri pada masa kepresidenannya. Dengan kohabitasi, Prancis telah merasionalkan pemerintah dan konsep koalisi dengan melihatnya sebagai cara efektif memperjuangkan kepentingan rakyat dan bukan mutlakmutlakan demi mendukung seorang figur semata, sepopuler apapun dia.

Sikap Presiden

Di sisi lain, harapan itu juga muncul dari sikap presiden yang tidak mudah terbakar emosi meski beberapa politisi debutan yang pendek visi pendukungnya telah demikian kebakaran jenggot. Salah satu indikasi pendeknya visi politik mereka yang kebakaran jenggot itu adalah sikap siap menggusur mereka yang justru memiliki nurani (yang justru berpotensi menyelamatkan muka presiden) dan menambah jatah kursi menteri bagi mereka yang dipandang baik hanya karena sikapnya yang loyal. Sikap SBY ini patut diapresiasi meski tentu saja sebagai makhluk politik tentulah beliau juga berhitung.

Kehilangan Partai Golkar, PKS, dan PPP dalam koalisinya jelas akan tidak saja secara teori akan mendekatkan pemerintahan pada kondisi yang ditakutkan oleh Juan Linz,berupa deadlock,namun akan menjauhkan presiden dari beberapa elemen politik penting di Tanah Air. Partai Golkar walau mengalami penurunan suara tetaplah kekuatan politik berpengaruh dengan jaringan kepartaian yang demikian memadai. Sementara PKS merupakan sumber “legitimasi moral” bagi Pemerintahan SBY yang belum tergantikan.

Adapun PPP merupakan sumber legitimasi terutama kalangan loyalis politik Islam generasi tua di masyarakat yang tidak dapat dinafikan pengaruhnya, sekecil apa pun pengaruh itu. Kehilangan ketiganya merupakan harga yang terlampau mahal bagi sebuah kasus yang demikian jelas.Apalagi ibarat hari,perjalanan Pemerintahan SBY sejatinya belum beranjak jauh dari sarapan pagi.

Di sisi lain, mempertahankan mereka tidak saja akan membantu mewaraskan sistem politik bangsa yang telah lama terjebak dalam politik figur,namun juga secara praktis tetap akan memberikan peluang besar dalam membantunya menyelesaikan persoalan-persoalan lain di masa datang mengingat dia masih memiliki tabungan politik yang cukup besar.Kondisi ini secara substantif dapat memberikan preseden tentang kearifan seorang presiden dalam menyikapi dan memaknai koalisi yang dibangunnya secara proporsional.

Untuk Rakyat
Sebuah komentar akhir Ketua DPR Marzuki Alie setelah terjadinya voting bahwa kemenangan sejati adalah miliki rakyat benar adanya. Karena, memang penjuru akhir setiap “perang argumen”dalam DPR adalah untuk rakyat. Hal ini hanya dapat dengan enteng dilakukan jika sejak awal para politisi telah meninggalkan jauh-jauh jaket kepentingan eksklusif dan menggantikan dengan baju kepentingan rakyat. Sebagaimana yang dikatakan Bung Karno bahwa kesetiaan seorang politikus harus berakhir manakala dirinya telah menyentuh domain kenegaraan yang daripadanya nasib seluruh rakyat menjadi tanggung jawabnya.

Manakala situasi ini secara kontinu terjadi, harapan akan munculnya pemerintahan berkualitas kerakyatan dapat makin terbuka lebar. Lebih dari itu, Indonesia adalah negara yang tengah dalam sebuah proses untuk menjadi besar. Peluang itu akan semakin terbuka jika bangsa ini mampu membuktikan untuk tetap bersatu, rasional, dan jujur dalam mengelola kehidupan politiknya menuju kedewasaan. Politik yang dewasa mungkin bukan segalanya namun segalanya akan sulit diraih jika politik bangsa ini tidak pernah dewasa.(*)

Dimuat di Seputar Indonesia, 10 Maret 2010

1 Response to “Secercah Harapan bagi Pendewasaan Politik Bangsa”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d bloggers like this: