Melangkah Maju Setelah 100 Hari

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PROGRAM100 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II baru saja usai 28 Januari 2010 lalu. Dari sisi pemerintah, semua program dapat dijalankan dengan baik tanpa ada rapor merah dari salah satu kementerian pun.

Penilaian publik juga beragam, ada yang menilai positif, ada yang negatif,ada pula yang menyambutnya dengan demonstrasi massa seperti yang terjadi di beberapa kota di Indonesia.Namun, kita secara jujur harus mengakui,program 100 hari kabinet itu memang berhasil baik karena sebagian besar berupa penyiapan kebijakan atau aturan hukum yang akan menjadi dasar bagi kegiatan pemerintah lebih lanjut,yakni program 1 tahun (P-1-T) atau program 5 tahun (P-5-T).

Demonstrasi yang terjadi di beberapa kota besar juga berjalan secara damai walau ada riak-riak kecil seperti yang terjadi di depan Istana Merdeka, Jalan Diponegoro, Jakarta, atau di Kota Makassar. Sayangnya dari pihak pemerintah pun ada juga yang masih sinis menyatakan bahwa sebuah pemerintahan jangan hanya dilihat dari program 100 hari pertama, melainkansecarakeseluruhanselamalima tahun.

Pertanyaannya ialah, kalau tidak mau dinilai negatif dalam program 100 harinya,mengapa pula pemerintah dulu gembar-gembor soal program tersebut? Program 100 hari pertama memang menjadi amat penting jika ada kebijakan pemerintah yang sangat signifikan memengaruhi hajat hidup orang banyak dan bukan hanya berupa cetak biru rencana kerja pemerintah satu atau lima tahun ke depan.

Mari kita tengok kembali bagaimana Franklin Delano Roosevelt yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pada 1932 mencanangkan program 100 hari yang menghasilkan New Deal antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja di AS. Di antara program 100 hari pemerintahan Franklin Delano Roosevelt yang paling tersohor ialah diterapkannya kebijakan Social Security yang hingga kini masih berlaku di Negeri Paman Sam tersebut.

Saat itu dunia sedang dilanda resesi ekonomi yang juga memengaruhi kinerja ekonomi AS.Resesi atau ada juga yang menyebutnya depresi mengakibatkan pemerintah harus membuat keputusan politik yang dapat mengangkat kembali ekonomi AS. Melalui tawaran penerapan Social Security tersebut,yakni adanya jaminan sosial bagi mereka yang menganggur, ekonomi AS sedikit demi sedikit naik kembali.

Lain Padang, Lain Belalang
Apa yang terjadi di AS 78 tahun lalu amat berbeda dengan di Indonesia. Hingga kini Indonesia belum menerapkan Social Security meski aturan mengenai itu sudah ada dan digagas oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kalaupun ingin diterapkan, kita juga mesti memiliki aturan penerapannya yang benar-benar baik agar tidak membuat rakyat Indonesia menjadi malas dan berbudaya peminta-minta.

Sistem perpajakan kita juga belum dapat menjangkau semua warga negara walau program intensif reformasi perpajakan (Pintar – Program Intensif Tax Reform) sudah dijalankan sejak Kabinet Indonesia Bersatu I. Satu hal yang menarik ialah adanya pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk membereskan mereka yang menunggak pajak. Jika program ini dijalankan secara baik, tanpa pandang bulu, dan tidak ada motif politik yang berbau “tekan menekan politik”, hasilnya tentunya akan sangat menakjubkan.

Penerimaan pajak negara mungkin bisa naik. Namun tampaknya kebijakan memberesi para penunggak pajak ini lebih didorong oleh motif persaingan politik ketimbang politik kebijakan murni. Bukan mustahil gembar-gembor mengenai hal ini dikaitkan dengan persoalanpribadi antara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Aburizal Bakrie yang kebetulan menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar.

SBY tampaknya ingin menekan Partai Golkar agar tidak macam-macam dalam soal skandal Bank Century yang kemungkinan menuju ke pemakzulan terhadap Wakil Presiden Boediono dan pencopotan Menkeu Sri Mulyani Indrawati.Kalau memang itu dasar dari kebijakan pemberesan para penunggak pajak, hasilnya pasti jauh panggang dari api. Jika kita tarik lebih lanjut, sesungguhnya kabinet tak perlu sesumbar soal gebrakan 100 hari pemerintahan tersebut karena presidennya tetap SBY.

Kabinet tinggal melanjutkan saja apa yang telah dijalankan lima tahun sebelumnya, yang buruk diperbaiki, yang telah baik semakin ditingkatkan. Setelah program 100 hari usai, tampak jelas betapa pemerintah masih gamang untuk terus melaju ke tingkat penerapan dari rencana program yang telah disiapkan pada 100 hari pertama itu.Apa yang terjadi justru lagi-lagi politisasi program pemerintah di dalam suasana perpolitikan yang terkait dengan skandal Bank Century.

Kita tahu, pemakzulan memang bukan suatu yang diharamkan di dalam konstitusi kita, tapi hal itu sulit dilakukan. Jika semua anggota Partai Demokrat saja tidak hadir pada pengajuan oleh DPR untuk memakzulkan Presiden,Wakil Presiden atau keduanya sekaligus,itu sudah tidak mencapai kuorum 2/3 anggota DPR yang mendukung pemakzulan dari 2/3 anggota DPR yang hadir seperti yang diamanatkan Pasal 7B ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 45 yang sudah diamendemen).

Hari-hari setelah program 100 hari seharusnya diisi oleh kegiatan yang konkret dan bermanfaat bagi rakyat. Retorika politik atau megaphone politics yang mengancam lawan/ mitra politik yang berseberangan atau komunikasi melankolik yang bersendu-sendu agar mendapat simpati rakyat melalui media massa ala SBY sebaiknya bukan lagi the name of the game dalam menjalankan pemerintahan ke depan.(*)

Seputar Indonesia, 2 Februari 2010

0 Responses to “Melangkah Maju Setelah 100 Hari”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

%d bloggers like this: