Duet Matahari dan Rembulan

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

KONGRES III Partai Amanat Nasional (PAN) di Batam, Kepulauan Riau, 8–9 Januari 2010, akhirnya memilih secara aklamasi Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum DPP PAN periode 2010–2015 menggantikan Soetrisno Bachir.

Terpilihnya Hatta merupakan sebuah antiklimaks setelah sebelumnya dua orang yang bertarung,Hatta Rajasa dan Dradjad H Wibowo,sama-sama telah membacakan visi dan misi mereka sebagai calon Ketua Umum PAN. Demi kesatuan partai, Dradjad H Wibowo akhirnya ditunjuk oleh Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Amien Rais sebagai Wakil Ketua Umum DPP PAN, sedangkan Taufik Kurniawan menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PAN menggantikan Zulkifli Hasan.

Hasil Kongres III PAN tidak mengejutkan saya karena sebelumnya di sela-sela acara diskusi di sebuah stasiun televisi Jakarta dua minggu lalu, Amien Rais sudah mengungkapkan kepada saya bahwa ia ingin PAN tetap bersatu di bawah duet kepemimpinan Hatta Rajasa sebagai Ketua Umum DPP PAN didampingi Dradjad H Wibowo sebagai Wakil Ketua Umum DPP PAN.

Amien Rais mengibaratkan duet itu sebagai duet “matahari dan rembulan”. Cara aklamasi untuk memilih ketua umum partai memang demokratis, tetapi amat berbau Orde Baru (Orba). Di masa Orba, Soeharto selalu terpilih menjadi Presiden RI secara aklamasi tanpa saingan politik dari siapa pun. Calonnya pun hanya satu,yaitu Soeharto.Namun, cara PAN memilih ketua umumnya yang baru ini patut dimaklumi. Ini semua demi kesatuan partai.

Peran Amien Rais
Amien Rais sebagai pendiri dan Ketua Umum DPP PAN pertama amat berperan pada Kongres III PAN tersebut.Pada Kongres II PAN lima tahun lalu, Amien Rais pula yang amat berperan agar Soetrisno Bachir terpilih sebagai Ketua Umum DPP PAN menggantikan dirinya, dengan mengalahkan calon kuat lainnya, Fuad Bawazier, yang kini menjadi aktivis Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Saat itu,Hatta Rajasa mundur dari pencalonan dan memilih mengabdikan dirinya sebagai Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Indonesia Bersatu I di bawah duet Susilo Bambang Yudhoyono- Jusuf Kalla. Amien Rais memang identik dengan PAN dan PAN identik dengan Amien Rais. Di awal Reformasi, tak sedikit kalangan cendekiawan, agamawan,dan aktivis mahasiswa yang mendukung Amien Rais untuk menjadi calon pemimpin bangsa masa depan.

Awalnya mereka mendirikan Mara atau MAR,singkatan dari Majelis Amanat Rakyat, tetapi bisa juga diplesetkan menjadi Majelis Amien Rais atau Mohammad Amien Rais. Launching Mara dilakukan di sebuah hotel mewah, Hotel Borobudur, Jakarta. MAR kemudian menjelma menjadi Partai Amanat Nasional (PAN) menjelang Pemilu 1999. Para pendiri PAN adalah kaum cendekiawan dan juga aktivis organisasi Islam modern, Muhammadiyah. Namun, secara resmi Muhammadiyah bukanlah pendiri ataupun pendukung PAN.

Hanya mantan tokoh dan aktivis muda Muhammadiyah saja yang aktif di PAN, tanpa dukungan organisasi Muhammadiyah. Dalam perjalanannya,dua kali terjadi perpecahan di dalam PAN. Pertama antara tokoh partai yang berasal dari Muhammadiyah dengan kalangan cendekiawan muda kampus dan nonkampus yang ditandai dengan mundurnya Faisal Basri dan kawan-kawan dari PAN.

Perpecahan kedua terjadi menjelang Pemilu 2004, antara generasi muda Muhammadyah dan aktivis PAN generasi politisi PAN yang lebih tua.Ini mengakibatkan generasi muda Muhammadiyah di bawah Imam Addaruqutni keluar dari PAN dan mendirikan Partai Matahari Bangsa.

Belajar dari dua kali perpecahan itu, Amien Rais tak ingin PAN pecah kembali.Selain itu PAN juga membutuhkan kalangan cendekiawan muda untuk tetap aktif di partai. Tidaklah mengherankan jika gagasan duet Hatta Rajasa dan Dradjad H Wibowo muncul di benak Amien Rais.

Independen atau Habis
Di bawah kepemimpinan Soetrisno Bachir,PAN berusaha tetap survivepada Pemilu 2009.Meski tak lagi didukung oleh kalangan muda Muhammadiyah, Soetrisno Bachir berusaha menggaet kalangan artis untuk menjadi calon legislatif dari PAN.Upaya ini tampaknya berhasil, PAN tetap eksis di parlemen.

Saat ini terjadi simbiosis mutualisme antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan partai-partai politik pendukungnya. Di satu sisi SBY membutuhkan dukungan koalisi partainya agar tidak diganggu di parlemen, terlebih lagi terkait dengan kasus Bank Century. Sebaliknya, partai-partai tetap ingin dekat dengan kekuasaan agar akses ke sumber finansial partai tetap terjaga.

Jika mereka berada di pihak oposisi, ada ketakutan akses ke penyandang dana akan berkurang. Persoalannya ialah bagaimana partai-partai koalisi seperti PAN dapat tetap independen walau berada di koalisi.Upaya PAN, Golkar, dan PKS untuk independen dalam kasus Bank Century telah mendapatkan tantangan ketika SBY secara tegas menyatakan bahwa ia akan mengevaluasi kembali kontrak-kontrak politiknya dengan partai-partai koalisi, termasuk dengan PAN.

Pernyataan SBY itu dilontarkan karena selama ini Partai Golkar, PAN, PKS termasuk partai-partai yang berusaha independen dalam Pansus Hak Angket DPR terkait dengan skandal Bank Century. Bukan mustahil ketiga partai tersebut berusaha untuk tetap mendapatkan dukungan dari para konstituen partainya.Namun bukan mustahil pula ini didorong oleh motif politik untuk mencari keseimbangan politik baru di kabinet.

Satu hal yang paling mengkhawatirkan ialah jika sepak terjang mereka di Pansus Hak Angket soal Bank Century didasari motif politik untuk mendapatkan keuntungan politik darinya.Bukan mustahil ini akan juga mengabaikan idealisme partai. Jika ini terjadi, bukan mustahil dukungan para pemilih terhadap partai-partai yang melepaskan idealismenya akan menurun pada Pemilu Legislatif 2014.

Kini paling tidak sudah dua partai politik, Partai Golkar dan PAN,yang ketua umum terpilihnya sangat dekat dengan SBY. Ini dapat menimbulkan kesan bahwa kedua partai itu sudah terkooptasi oleh kekuasaan SBY. Kita lihat, partai mana lagi yang akan melakukan kongres atau muktamar partai yang hasilnya amat mirip dengan Golkar dan PAN?

Kita juga akan lihat apakah mereka dapat menjaga jarak dengan kekuasaan, bersifat independen dalam langkah-langkah politiknya, atau malah benar-benar terkooptasi? Jika yang terakhir yang terjadi, partai-partai ini akan sulit mendapatkan dukungan pada Pemilu 2014 mendatang. Daripada mendukung atau memilih partai yang membeo pada kekuasaan, lebih baik mendukung partai utama pendukung penguasa.(*)


Sumber: Seputar Indonesia, 12 Januari 2010

0 Responses to “Duet Matahari dan Rembulan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: