Gus Dur, Bapak Perdamaian dan Toleransi

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

HAMPIR seminggu sudah kita kehilangan seorang ”Bapak Demokrasi, Perdamaian,Toleransi, dan Pluralisme”, Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur.

Kita tak akan lagi mendengar kata-katanya yang terus terang dan bahkan nyeleneh untuk ukuran orang Indonesia seperti ”gitu aja kok repot” atau ”DPR kok seperti taman kanak-kanak”. Kita juga tidak akan lagi membaca tulisan-tulisannya yang begitu sederhana untuk dibaca, tetapi kaya makna. Bagi sebagian orang Indonesia dari generasi tua, khususnya yang berpandangan sempit, Gus Dur mungkin dipandang sebagai orang yang terlalu berani dalam mengambil keputusan yang dapat ”memecah-belah bangsa”.

Kebijakannya untuk mengganti nama Provinsi Irian Jaya menjadi Provinsi Papua pada tahun 2000 dan menyebut orang Irian sebagai orang Papua, misalnya, menimbulkan kontroversi politik.Apalagi ketika Gus Dur,dengan keberanian yang luar biasa,bukan hanya memberi izin,melainkan juga memberi bantuan dana bagi tokoh-tokoh masyarakat Papua untuk menggelar Kongres Nasional Rakyat Papua II pada Maret 2000. Kongres itu kemudian menetapkan berdirinya Presidium Dewan Papua yang dipimpin oleh dua tokoh Papua,Theys Hiyo Eluay asal Sentani dan Tom Beanal asal Pegunungan Tengah.

Tak cuma itu, Gus Dur bahkan memperbolehkan berkibarnya bendera Bintang Kejora sebagai simbol adat Papua bersama Sangsaka Merah Putih sebagai bendera negara. Bahkan lagu Hai Tanahku Papua pun boleh didendangkan setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya.Apa yang dilakukan Gus Dur ini mirip dengan kebijakan Residen Belanda di Hollandia, J P van Echoud yang memperbolehkan tokoh Papua menggelar Kongres Nasional Papua I pada Oktober 1961 dan mengizinkan berkibarnya bendera Bintang Kejora setingkat di bawah bendera Merah Putih Biru serta didendangkannya Hai Tanahku Papua setelah lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus pada 1 Desember 1961.

Kebijakan yang amat akomodatif itu menimbulkan kedamaian di tanah Papua meski hanya berusia seumur jagung. Setelah itu, pendekatan kekerasan pun muncul kembali, berupa penangkapan terhadap para aktivis Papua Merdeka yang berujung pada terbunuhnya Theys Hiyo Eluay pada dini hari 11 November 2001 saat Gus Dur tak lagi berkuasa sebagai Presiden Keempat RI (1999–Juli 2001). Meski hanya sebentar,kebijakan Gus Dur itu telah mematri nama harumnya di tanah Papua, bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.

Bagi Gus Dur, mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tanah yang panas,Papua, bukan dengan cara-cara kekerasan militer, melainkan dengan cara-cara damai dan akomodatif. Papua sejak era kolonial Belanda memang merupakan Vergeten Aarde atau Tanah yang Dilupakan. Karena itu, perhatian penuh atas nasib rakyat Papua dan penyelesaian dengan cara-cara dialogis merupakan jalan keluar terbaik. Bukan hanya kepada rakyat Papua saja Gus Dur memberi perhatian penuh. Bagi kelompok minoritas keturunan Tionghoa, Gus Dur juga memberi ruang hidup yang lebih terhormat sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Pada era Gus Dur kebudayaan Tionghoa diakui sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Tak ada lagi dikotomi di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia mengenai pilihan antara mengambil pendekatan ”asimilasi” atau ”integrasi” seperti pada era Presiden Soekarno. Berbagai aksara China, yang pada era Presiden Soeharto amat ditabukan kecuali untuk surat kabar Indonesia beraksara China, tidak mengalami ”penghitaman” kembali oleh Kejaksaan Agung. Pertunjukan barongsai yang dulu dilarang, pada era Gus Dur juga diperbolehkan dan kelompok kesenian ini pun tumbuh bak jamur di musim hujan.

Agama Konghucu juga berkembang tanpa kekangan. Kebijakan untuk menghapus surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) bagi orang Indonesia keturunan Tionghoa juga mulai dirintis sejak era Gus Dur. Tak ada lagi sekatsekat hukum antara ”pribumi”dan ”nonpribumi”, bahkan Gus Dur mengaku, entah benar atau tidak, bahwa ada nenek moyangnya yang berasal dari China. Gus Dur juga melindungi kaum minoritas yang menganut agama atau kepercayaan di luar kelompok aliran utama agama-agama besar.

Tak mengherankan jika Gus Dur melindungi kaum Ahmadiyah yang sering dikejar-kejar dan tak diberi ruang hidup dan berkembang oleh sekelompok masyarakat tertentu yang menginginkan ”pemurnian agama”.Satu hal yang amat kontroversial, Gus Dur bahkan menjadi anggota masyarakat epistemik agama Yahudi. Bagi Gus Dur, mereka yang menganut agama samawi keturunan Nabi Ibrahim adalah bersaudara. Ini sesuai dengan rukun iman dalam Islam yang mengakui kitab-kitab Allah dari Taurat, Zabur, Injil sampai Alquran.

Ini juga sesuai dengan makna surat Al-Kafirun, ”Bagimu agamamu, bagiku agamaku,”tanpa harus mengafir-ngafirkan mereka yang tidak menganut agama Islam. Bagi generasi muda, di dalam atau di luar NU,Gus Dur juga mengajarkan prinsip nonsektarian, suatu yang amat sulit di era itu. Kebhinnekaan di dalam kesatuan bangsa Indonesia adalah sesuatu berkah Tuhan yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.Tak aneh jika kini berkembang kelompokkelompok pemuda dari berbagai agama dan suku serta ras yang berdiskusi mengenai masa depan bangsa Indonesia dan menabukan sekat-sekat eksklusivisme. Gaya Gus Dur mengajarkan demokrasi memang tidak umum.

Tidak jarang Gus Dur mengkritik atau memaki anak-anak muda yang tidak mengikuti langkahlangkah dalam gerak reformasi dan demokratisasi politik. Ini bukan ditujukan agar anak-anak muda itu sepaham dengannya,melainkan untuk menantang mereka agar kuat dalam aliran pikiran mereka masing-masing. Saya pribadi sering dag dig dug apabila muncul di acara dialog bersama Gus Dur. Ini pernah terjadi menjelang Pemilu 2004 di ANTVketika saya,Amien Rais,dan Gus Dur bersama dalam acara dialog politik. Ternyata suasana begitu cair dan bersahabat, bahkan beliau bertanya apakah sudah membaca tulisan beliau yang terakhir.

Gus Dur juga pernah mengkritik saya melalui artikelnya di harian Kompasterkait analisis politik saya mengenai sepak terjang politiknya. Artikel itu saya balas dengan artikel pula berjudul,”Jadi Peneliti Memang Sulit Gus!” yang intinya seorang peneliti politik memang tidak boleh memihak. Karena itu,meski Gus Dur mantan Presiden RI, saya berani mengkritiknya. Dalam pertemuan berikutnya, di acara dialog televisi, Gus Dur tetap bersahabat dan tak mempermasalahkan perbedaan pandangan politik itu. Suka atau tidak suka, mereka yang aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tak sepaham dengan Gus Dur sesungguhnya mendapatkan pelajaran amat berharga mengenai ”kemandirian berpolitik”.

Kini generasi muda itu semakin dewasa dalam berpolitik, contohnya Khofifah Indar Parawansa, Muhaimin Iskandar, dan Mohammad Mahfud MD. Mereka adalah anak-anak didik Gus Dur yang menikmati gemblengan politik ala Gus Dur. Kini Gus Dur telah pergi menemui Sang Khaliq.Namun, pemikirannya mengenai demokrasi,perbedaan, toleransi, dan pluralisme akan tetap abadi sepanjang zaman. Jika harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya,manusia mati meninggalkan namanya.

Diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional atau tidak,nama Gus Dur tetap ada di hati sanubari umat manusia, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga dunia. Gus Dur bukan hanya pahlawan bagi bangsa Indonesia, melainkan juga bagi dunia, khususnya pahlawan toleransi, perdamaian, dan pluralisme. Selamat jalan Gus Dur. Nama dan pemikiranmu akan tetap melekat di hati kami.(*)

Sumber: Seputar Indonesia, Selasa 05 Januari 2010

0 Responses to “Gus Dur, Bapak Perdamaian dan Toleransi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: