Ku Antar Indonesia ke Gerbang

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

SELEKSI, audisi, atau uji kelayakan dan kepatutan para calon menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu II mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.

Ada yang menilainya positif agar masyarakat tahu siapa-siapa saja yang akan duduk di kabinet, tapi ada pula yang mempertanyakan apakah itu benar-benar uji kelayakan? Pertanyaan itu muncul karena jika kita melakukan uji kelayakan, calon yang akan menduduki satu jabatan menteri sepatutnya lebih dari satu orang.

Ada pula yang bertanya, jika Kabinet Indonesia Bersatu yang lalu (2004–2009) benar-benar mencapai target yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengapa hanya sepertiga anggota kabinet lama yang masuk kembali ke jajaran menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu II? Lalu, siapa yang berhasil menjalankan tugas-tugas kabinet di masa lalu, Presiden SBY sendirian atau dibantu Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan para menteri?

Tugas memimpin negara kepulauan sebesar Indonesia dengan kemajemukan penduduknya bukanlah suatu yang mudah. Itu tidak dapat dilakukan oleh presiden sendirian. Karena itu dalam menjalankan tugasnya, presiden dibantu oleh seorang wakil presiden dan para menteri yang membidangi bidang-bidang khusus. Jika keberhasilan kabinet pada periode 2004– 2009 benar- benar tercapai, bukan bongkar pasang kabinet yang sepatutnya dilakukan Presiden SBY, melainkan kesinambungan anggota kabinet, dengan perombakan yang sedikit.

Upaya SBY untuk memasukkan lebih dari 60% muka-muka baru dalam Kabinet Indonesia Bersatu II justru menimbulkan dua konsekuensi. Pertama, dibutuhkan waktu cukup lama untuk konsolidasi di antara anggota kabinet; kedua, para anggota kabinet baru tentu juga harus memahami gaya memerintah Presiden SBY.

Evaluasi kinerja para menteri yang dimulai pada 100 hari pertama dan berlanjut dengan satu tahun pemerintahan SBY tentu akan membuat para menteri stres berat, apalagi kalau mereka tidak memahami apa yang diinginkan SBY, ditambah dengan kekurangpahaman mereka pada sistem birokrasi dan keuangan di tiap departemen, kementerian negara, dan kementerian koordinator.

Kerisauan masyarakat mengenai para anggota Kabinet Indonesia Bersatu II juga muncul ketika mengetahui bahwa mereka yang duduk di kabinet, kalau bukan berasal dari partai-partai pendukung SBY-Boediono, memiliki kedekatan politik dengan SBY. Kedekatan politik bisa disebabkan mereka bekas anggota tim sukses SBY-Boediono atau bagian dari keluarga elite politik yang dekat dengan SBY.

Adanya kedekatan politik itu memang bukan suatu yang ditabukan. Berhasilnya sebuah pemerintahan memang membutuhkan adanya hubungan kimiawi yang kuat antara presiden dan para pembantunya. Istilah all the president’s men/women tidak harus mengandung nilai negatif asalkan mereka benar-benar dapat bekerja secara profesional.

Namun, profesionalisme saja tidak cukup untuk menghasilkan kinerja kabinet yang prima. Ia juga membutuhkan sikap tindak yang berani mengambil risiko dari para pembantu presiden demi keberhasilan tugas dan bukan hanya menunggu perintah dari presiden. Di sini, inisiatif para pembantu presiden tetap dibutuhkan agar kabinet sukses. Sebaliknya, Presiden SBY juga jangan menganggap adanya inisiator di kabinet selain dirinya, lalu dianggapnya sebagai pesaing kuat kekuasaannya atau dianggap sebagai “Matahari Kembar”.

Tugas Berat
Hari-hari setelah pelantikan presiden dan para menteri akan dipenuhi oleh kegamangan para pembantu presiden untuk menjalankan tugas-tugas mereka. Bagi mereka yang menduduki jabatan yang sama pada kabinet sebelumnya, hal itu terasa akan lebih ringan .Namun bagi mereka yang belum pernah menduduki jabatan apa pun di pemerintahan, akan muncul keanehan keanehan tingkah laku politik mereka.

Pindah tempat dari parlemen ke kabinet juga butuh penyesuaian. Akankah ini menjadi tontonan politik yang menarik? Jawabannya, politik kadang menyenangkan dan menghibur bagi mereka yang mengamatinya. Namun politik juga kadang menjemukan. Politik birokrasi juga pastinya akan menarik untuk diamati, bukan saja antarpara menteri dan antarkementerian, melainkan juga antara presiden, wakil presiden, para menteri, dan partai-partai politik.

Tanpa memandang remeh profesionalisme para pembantu presiden, pada 100 hari pertama tentunya mereka sudah harus dapat menjabarkan 15 program Kabinet Indonesia Bersatu II ke dalam kebijakan yang konkret. Gebrakan politik untuk mencapai pertumbuhan ekonomi minimal 7% pada tahun pertama kabinet, misalnya, bukanlah tugas yang mudah.

Belum lagi pengurangan angka kemiskinan 8–10% melalui pembangunan pertanian, perdesaan,dan program prorakyat atau pengurangan pengangguran 5–6% melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan modal usaha melalui Kredit Usaha Kecil. Inisiatif politik untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan dan keamanan Indonesia juga bukan suatu yang mudah untuk dijabarkan mengingat sistem anggaran kita bukan mengacu pada program, melainkan sebaliknya program kerja kabinet amat ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang mereka miliki.

Satu hal yang harus selesai pada 2011 adalah reformasi birokrasi di seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah. Ini tentu juga tugas berat yang harus diemban menteri pendayagunaan aparatur negara. Keberhasilan kabinet akan ditentukan pula oleh seberapa lama presiden melakukan konsolidasi para anggota kabinetnya. Jika waktu yang dibutuhkan lebih dari satu tahun, ini tentu akan memengaruhi proses mencapai target yang telah dibuatnya.

Ini mungkin saja terjadi karena sebagian besar anggota kabinet adalah muka-muka baru. Inisiatif para menteri harus lebih didahulukan, sementara presiden hanya memberikan garis-garis besar arahan politiknya. Tanpa itu, para pembantu presiden hanya akan melulu menunggu perintah dari presiden, suatu yang secara politik tentu amat melelahkan dan menjemukan.

Tugas memimpin negara pada periode kedua memang amat berat bagi SBY karena ia akan dinilai oleh rakyat atas hasil-hasil kepemimpinannya selama 10 tahun ini. Jika hasilnya baik, berarti SBY telah mampu mewariskan suatu Indonesia yang lebih baik, lebih adil, lebih menghormati HAM, lebih aman, lebih makmur, dan kata lebih lainnya.

Namun jika sebaliknya yang terjadi, SBY akan dipandang kurang dapat memanfaatkan dua kali lima tahun mandat yang diberikan rakyat kepadanya. Alih-alih terus menerapkan politik pencitraan, akan lebih bermanfaat jika kerja, kerja, dan kerja lebih didahulukan ketimbang mencitrakan dirinya sebagai presiden yang santun, ramah, dan humble.

Era politik pencitraan harus sudah berakhir karena SBY tak mungkin lagi menjadi kandidat presiden pada 2014, kecuali jika UUD 1945 diamendemen kembali untuk memungkinkan hal itu terjadi. Jika itu dilakukan oleh MPR, tamat sudah era demokrasi di Indonesia. Keberhasilan Presiden SBY mengantar Indonesia ke gerbang kemajuan disegala bidang akan mengukir namanya dalam sejarah Indonesia modern bahwa seorang presiden yang dipilih secara demokratis dapat menjalankan mandat dari rakyat secara baik.

Sebaliknya, jika SBY membawa Indonesia ke gerbang kekacauan politik dan kebangkrutan ekonomi, ia pun akan terukir dalam sejarah sebagai presiden pertama di era pemilihan presiden langsung yang tak mampu menggunakan mandat rakyat secara positif. Angan-angan atau mimpi kita mengenai Indonesia yang siap bertanding di era globalisasi ekonomi dan dinamika politik internasional akan terwujud jika SBY benar-benar memanfaatkan periode kedua pemerintahannya untuk kemaslahatan rakyat. Ini bukanlah impian semusim.

Sudah sering kita berganti sistem demokrasi dari demokrasi liberal ke demokrasi terpimpin, dari demokrasi terpimpin ke demokrasi Pancasila, dan dari demokrasi Pancasila ke era Reformasi total. Namun semua itu belum mampu menjadikan Indonesia lebih kuat, makmur, adil, dan sejahtera.

Tantangan bagi para anggota kabinet ialah mereka harus membuktikan kepada rakyat bahwa jabatan yang mereka emban bukanlah suatu rezeki, melainkan suatu tugas berat membawa Indonesia ke pintu gerbang yang penuh dengan sinar kebahagiaan dan bukan Indonesia yang diselimuti mendung kesedihan.(*)

Seputar Indonesia, Selasa, 20 October 2009

0 Responses to “Ku Antar Indonesia ke Gerbang”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: