Menanti Hasil Munas Partai Golkar

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

CITRA Partai Golkar di mata masyarakat masih campur baur. Ada yang memandang Golkar sebagai partai yang harus bertanggung jawab atas kebobrokan politik dan ekonomi di era Orde Baru.

Karena itu, partai ini dinilai tak layak lagi hidup di era Reformasi. Ada yang memandang Partai Golkar adalah satu-satunya partai perekat kemajemukan bangsa dan memiliki sumber daya manusia yang lebih baik dibandingkan dengan partai-partai politik lainnya.

Ada pula yang memandang Partai Golkar hanya melakukan perubahan politik yang amat minim, dari Golongan Fungsional (Functional Group) di era Orde Baru, menjadi partai politik pada awal era Reformasi. Dulu Golkar merasa beruntung tidak menyandang nama sebagai partai politik karena pencitraan yang buruk pada partai politik.

Namun, Golkar harus menjelma menjadi partai jika ingin mengikuti pemilu di era Reformasi. Institusionalisasi internal pada diri Partai Golkar memang terus berkembang di era Reformasi. Dulu Golkar memiliki tiga jalur organisasi yang dikenal dengan nama ABG, yaitu ABRI, Birokrasi dan Golkar (tiga Kino dalam, yakni Kosgoro, MKGR,dan Soksi).

Kini organisasi Partai Golkar tidak lagi mengenal tiga jalur tersebut. Namun, budaya politik di dalam Partai Golkar tampaknya belum berubah banyak. Karena itu, Partai Golkar amat sulit untuk melakukan pendekatan politik ke bawah sebagai akibat dari ketergantungan pada organisasi pemerintahan dan ABRI pada masa lalu.

Nuansa politik masa lalu tentunya harus diubah jika Partai Golkar ingin tetap hidup,tumbuh, dan berkembang. Penguatan akar-akar politik ke bawah harus dilakukan melalui pendekatan baru yang lebih demokratis, bukan melalui kebijakan pemerintah seperti ”politik massa mengambang”,”politik keharusan”bagi pegawai negeri sipil untuk menjadi anggota Golkar, dan ”politik pecah belah” pemerintahan Orde Baru terhadap para pesaing politik Golkar.

Tatapan politik Partai Golkar ke masa depan tentunya harus menjadi pertimbangan dalam Munas VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau, 5-8 Oktober 2009. Pada Munas itu bukan hanya persoalan pemilihan ketua umum Partai Golkar yang lebih mengemuka, melainkan bagaimana ketua umum terpilih nantinya dapat membawa Partai Golkar kembali pada kejayaannya.

Lima tahun ke depan merupakan titik paling kritis bagi perkembangan partai-partai politik yang mendasari dirinya pada karisma ketua umum partai atau ketua dewan pembinanya, seperti yang akan terjadi pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat.Pada situasi itu,Partai Golkar harus dapat merebut kembali simpati masyarakat pada Pemilu 2014 mendatang.

Jika tidak, nasib partai berlambang beringin ini akan semakin terpuruk dan akhirnya mati. Antara harapan masyarakat dan dinamika internal Partai Golkar tampaknya terdapat jurang amat dalam. Ketika masyarakat masih berharap Partai Golkar dapat memainkan peran positifnya dalam sistem politik Indonesia yang telah berlangsung secara demokratis, dinamika politik di dalam tubuh Partai Golkar masih bertumpu pada politik kekuasaan yang berbasis uang dan intervensi politik dari luar.

Tengok saja isu politik yang berkembang pada pemilihan ketua umum Partai Golkar yang masih didominasi oleh ”gizi” (baca: uang) yang dimiliki para kandidat ketua umum,ketimbang visi dan misi mereka.Kandidat yang memiliki ”gizi”, jaringan politik dan dukungan politik dari atas yang kuat, diduga memiliki kesempatan tertinggi untuk terpilih menjadi ketua umum Partai Golkar.

Tentu ini berarti Aburizal Bakrie merupakan kandidat terkuat ketua umum Golkar jika dibandingkan dengan Surya Paloh,Tommy Soeharto, dan Yuddy Chrisnandi. Kesadaran politik di dalam Partai Golkar belum beranjak pada bagaimana partai ini memiliki rencana politik jangka pendek, menengah, dan panjang untuk kembali menjadi primadona politik di era Reformasi.

Kemanjaan politik dan perlindungan politik pada orang yang sedang berkuasa merupakan budaya politik yang amat rapuh yang masih dimiliki partai ini. Kewiraswastaan politik belum berkembang. Karena itu, bangunan akar politik Partai Golkar di era Reformasi bukannya semakin kokoh, melainkan semakin rapuh.

Para pengurus Partai Golkar sepatutnya sadar bahwa partai berlambang pohon beringin ini berada pada batas cakrawala politik yang amat menentukan. Untuk keluar dari ”terowongan politik yang amat gelap” dan melihat secercah sinar di ujung terowongan itu Partai Golkar seyogianya mulai berbenah diri.

Kesempatan politik itu terbuka lebar bagi Partai Golkar, di tengah partaipartai politik yang berasaskan nasionalisme sekuler lainnya sedang mengalami regenerasi politik yang belum menunjukkan kepastian politik, seperti yang dialami PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Hanura.

Pengalamanburukpadapemilupemilu legislatif dan presiden di era Reformasi sepatutnya menjadi pemecut bagi Partai Golkar untuk bangkit, tumbuh, dan berkembang. Berbagai langkah tampaknya harus dilakukan partai ini.

Antara lain, pertama, pemilihan ketua umum Partai Golkar harus di dasari pada visi, misi, dan rekam jejak para kandidatnya agar Golkar tidak memiliki ketua umum yang dipandang masih memiliki masalah, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun hukum; kedua, Partai Golkar harus menata kembali jaringan organisasi partai yang tidak lagi manja pada struktur organisasi pemerintahan dari pusat sampai daerah, serta pada jaringan militersepertipadamasalalu; ketiga, pendekatan merit system dan bukan ”asas kekeluargaan”dalam pemilihan pengurus Partai Golkar di pusat dan daerah harus lebih mengemuka; keempat, organisasi Partai Golkar harus merupakan perpaduan positif antara asas desentralisasi serta kemandirian politik dan ekonomi. Demokrasi masih berkembang dalam tubuh Partai Golkar.

Hingga saat ini, Golkar merupakan satusatunya partai politik yang memiliki kans terbesar dalam mengembangkan demokrasi di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Namun,jika Golkar terjerembab pada pendekatan patron-client relationshipantara pengurus pusat dan daerah, serta di dalam jajaran organisasi Golkar di pusat dan daerah, partai ini tidak akan mampu menjadikan para pengurusnya sebagai kekuatan politik yang mandiri, juga menyatu dalam visi dan misi partai ke depan.

Politik uang juga masih mengemuka di dalam sistem ini. Alih-alih menatap masa depan yang lebih cerah,para pengurus Partai Golkar tampaknya lebih terfokus pada bagaimana mendapatkan, menjalankan, dan mempertahankan jabatan melalui pendekatan kekuasaan dan uang di dalam dan di luar Golkar .

Visi dan misi para kandidat ketua umum Partai Golkar juga masih belum beranjak pada persoalan ideologiPancasila, NKRI,dan UUD 1945, bukan pada bagaimana tiga hal itu diterapkan dalam kebijakan membangun Indonesia ke depan di tengah dinamika politik nasional dan internasional yang berkembang dinamis. Reformasi internal bukan dominasi sektor keamanan semata seperti di tubuh TNI dan Polri.

Adalah suatu keniscayaan partai-partai politik juga melakukan reformasi internal, berbenah diri, dan memiliki visi yang jelas mengenai bangunan keindonesiaan masa depan dan bagaimana negeri ini bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi dan kehinaan sosial politik masa kini.

Partai Golkar seharusnya memegang peran utama dan menjadi contoh di dalam melakukan reformasi internal tersebut. Semua pihak dalam Partai Golkar niscaya akan memahami, betapa pentingnya pembenahan internal di tubuh Partai Golkar. Persoalannya ialah, siapa yang akan menjadi ujung tombak dari perubahan itu?

Apakah ketua umum Partai Golkar yang terpilih nantinya menjadi ujung tombak perubahan atau hanya ingin mengabdi pada kekuasaan yang lebih tinggi, yaitu presiden? Hanya dia dan Dia yang dapat menjawabnya.(*)

Seputar Indonesia, Selasa, 06 Oktober 2009

0 Responses to “Menanti Hasil Munas Partai Golkar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: