Golkar di Pengujung Sejarah?

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Musyawarah Nasional Partai Golongan Karya hampir selalu menarik dicermati. Apalagi Munas Golkar kali ini dilakukan pascakekalahan beruntun dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden. Masih adakah masa depan bagi parpol warisan Orde Baru ini?

Terlepas dari berbagai kritik atasnya, Partai Golkar adalah salah satu aset politik bangsa kita. Golkar merupakan partai pelopor yang menjadikan pluralitas sebagai fondasi berpolitik saat partai-partai lain cenderung mengibarkan ideologi golongan sebagai alternatif bagi Pancasila.

Selain itu, Golkar adalah parpol pertama yang benar-benar bersifat ”nasional” saat parpol-parpol lain lebih merepresentasikan etnis, agama, atau daerah dalam lanskap politik Indonesia yang beragam.

Namun, problematiknya, watak pluralistik demikian bukan lagi monopoli Golkar. Partai-partai politik baru yang tumbuh dan besar akhir-akhir ini—terutama Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan Partai Hanura—bukan hanya duplikat karena mengopi karakteristik parpol warisan Soeharto itu, tetapi sekaligus ”mengambil alih” massa pendukung partai beringin. Tak mengherankan jika cerita kegagalan Golkar di suatu daerah hampir selalu disertai kisah keberhasilan Demokrat, Gerindra, atau Hanura. Partai Demokrat bahkan mengalahkan Golkar dalam Pemilu 2009 lalu.

Perangkap pragmatisme
Uraian awal itu hendak menegaskan, masalah krusial Golkar dalam momentum munas kali ini adalah merumuskan kembali identitas, watak, dan karakteristik partai sebelum partai beringin benar-benar terkubur sebagai sejarah.

Urgensi perumusan kembali identitas Golkar tak hanya tampak dari kegamangan segenap elite partai menjelang pemilu lalu, tetapi juga terlihat dari disorientasi elite partai dalam menyikapi berbagai isu strategis bangsa. Dalam perdebatan tentang arah pengelolaan ekonomi nasional, misalnya, hampir tidak tampak visi orisinal Golkar, kecuali sekadar retorika ”kemandirian ekonomi” yang belum begitu jelas argumen, tesis, dan anatominya.

Dilemanya, tak pernah ada upaya serius segenap elite Golkar untuk mendiskusikan kembali relevansi identitas dan visi yang berlaku saat ini bagi masa depan partai. Hampir semua elite partai beringin terperangkap perdebatan artifisial tentang calon ketua umum. Perangkap lain adalah polemik terkait posisi politik Golkar, apakah hendak menjadi bagian pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau menjadi oposisi di parlemen.

Padahal, perdebatan tentang calon ketua umum dan posisi politik Golkar seharusnya dilakukan dalam kerangka visi baru Golkar yang dirumuskan kembali sesuai tuntutan dan tantangan masa depan. Karena itu, tak mengherankan jika perdebatan tentang calon ketua umum atau posisi politik Golkar cenderung kehilangan konteks sehingga yang terkesan secara publik tidak lebih sebagai pameran pragmatisme politik, yang tidak menguntungkan bagi pembentukan citra partai ini.

Kehilangan isu
Fenomena Pemilu 2009 menggambarkan dengan jelas, Golkar sebenarnya ”kehilangan isu” dibandingkan dengan, misalnya, Partai Demokrat atau Partai Gerindra. Pesan kampanye melalui berbagai media tak hanya terkesan malu-malu dalam memosisikan diri, tetapi juga tidak mampu memberi harapan baru bagi rakyat yang merindukan perubahan. Akibatnya, sebagian basis massa pendukung partai beringin beralih ke partai-partai ”duplikat Golkar” seperti Partai Demokrat, Gerindra, dan Hanura.

Di sisi lain, kesibukan Ketua Umum Jusuf Kalla sebagai wakil presiden dan Wakil Ketua Umum Agung Laksono yang menjabat Ketua DPR tak hanya menjadikan partai tak terurus dan minim konsolidasi. Lebih jauh lagi, partai beringin kehilangan patron politik di tengah kecenderungan umum partai-partai mengandalkan pencitraan figur sebagai substitusi kegagalan parpol menawarkan program politik yang jelas bagi publik.

Kecenderungan yang sama akan berlangsung pada Pemilu 2014 jika tidak ada upaya elite merumuskan kembali identitas dan visi baru partai. Itu artinya, secara berangsur tetapi pasti, Golkar berpotensi menjadi partai ”gurem” yang merangkak kembali dari bawah untuk sekadar ikut pemilu atau lolos persyaratan ambang batas parlemen yang persentasenya makin tinggi dari pemilu ke pemilu.

Membangun kepercayaan
Karena itu, sebelum terkubur dan menjadi bagian sejarah politik negeri ini, segenap elite Golkar perlu menahan diri agar tidak tergoda pada isu seputar syahwat kekuasaan belaka. Persoalan terpenting Golkar bukan memilih ketua umum atau mencari posisi politik yang tepat di hadapan pemerintahan Yudhoyono. Pekerjaan rumah terbesar partai beringin dalam munas kali ini adalah merumuskan kembali identitas dan visi partai dalam rangka memulihkan kepercayaan rakyat.

Sebagai aset politik negeri ini, segenap elite Golkar perlu merumuskan arah perubahan negeri ini 10-20 tahun ke depan, dan menimbang serta menilai kembali, misalnya, arah reformasi politik, ekonomi, dan hukum bangsa kita satu dekade terakhir. Dengan demikian, Golkar tidak sekadar bersikap reaktif terhadap berbagai isu yang bersifat politik sehari-hari, tetapi memiliki cetak-biru yang jelas untuk menilai apa saja yang salah atau keliru, serta apa pula yang sudah benar dalam pengelolaan negeri ini, sehingga perangkap salah urus negara tidak terulang kembali.

Semestinya identitas, visi, dan cetak-biru partai yang baru itulah yang menjadi produk utama Munas Golkar, yang kemudian dimandatkan kepada ketua umum dan pengurus baru untuk disosialisasikan dan diperjuangkan. Hanya saja, munas atau kongres partai-partai politik di negeri ini sering berhenti sebagai momentum pergantian ketua umum belaka. Penantian rakyat akan perubahan yang lebih baik tinggal seonggok harapan yang turut menguap bersamaan dengan berakhirnya gegap gempita munas.

Sumber: Kompas Senin, 5 Oktober 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/02492834/golkar.di.pengujung.sejarah

1 Response to “Golkar di Pengujung Sejarah?”


  1. 1 Jual Rumah October 8, 2009 at 2:26 am

    Munas golkar kali ini tampak sangat meriah…
    semoga saja kemeriahan ini bisa mendapatkan hasil yang terbaik bagi partai yang sangat berkuasa pada masa orde baru.

    dimana munas ini bisa menghasilkan ketua umum yang benar2 berbobot serta memiliki jam terbang yang sangat mumpuni…
    para kandidat telah banyak memberikan opini serta langkah2nya jika terpilih menjadi ketua umum partai beringin ini.

    semoga partai besar ini bisa membersihkan nama baiknya setelah beberapa tahun terakhir selalu dikaitkan dengan para pelaku korupsi.
    semoga saja partai ini bisa mengembalikan kepercayaan para kader agar terus berjuang untuk golkar dan negara tercinta ini.
    Rumah Murah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: