Kursi Kabinet Untuk Partai Koalisi

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Tanda tanya mengenai siapa yang akan duduk di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II tampaknya masih belum terjawab, meski Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono sudah menjamin parpol koalisi akan dapat kursi. Pertanyaan ini sah karena jika jaminan itu benar pertanyaan lain pun akan menyusul: pertama, apakah 23 partai pendukung koalisi semuanya akan dapat kursi?; kedua, siapa saja wakil dari partai-partai itu yang akan duduk di kabinet; ketiga, bagaimana dengan perbandingan 65% profesional murni non-partai dan 35% profesional asal partai yang akan ada di kabinet; keempat, bagaimana pula dengan nasib Partai Golkar, PDIP dan Partai Gerindra, apakah juga akan dapat kursi di kabinet?

Ewuh pakewuh tampaknya masih menyelimuti pasangan SBY-Boediono dalam menentukan mereka yang akan masuk di kabinet ini. Bagaikan makan buah simalakama, jika semua anggota koalisi masuk kabinet, berarti sudah 23 kursi terisi. Sementara jumlah kursi di kabinet tentunya tak terlalu banyak, yakni antara 34-36 kursi. Kalau pun dibentuk struktur baru di kabinet seperti jabatan menteri muda, ini tentunya akan membebani keuangan negara. Alangkah baiknya jika anggaran yang sudah amat minim itu digunakan untuk program pembangunan yang berguna bagi rakyat ketimbang bagi pejabat.

Gagasan untuk membentuk kabinet yang lebih ramping sebenarnya sudah sering di dengungkan orang. Pembentukan kabinet bukanlah bagi-bagi kursi jabatan bagi pendukung koalisi SBY-Boediono. Kabinet juga bukan tempat untuk mencari kedudukan dan harta, melainkan amanat yang amat berat yang dipanggul para anggotanya.

Antara gagasan dan kenyataan, tidak jarang berjalan tak beriringan. Apalagi SBY, masih selalu mempertimbangkan keseimbangan kekuatan di eksekutif dan legislatif. Seolah tidak percaya diri, SBY masih terus berupaya memupuk kekuasaan melalui akuisisi politik terhadap partai yang selama ini tidak masuk dalam koalisi pendukungnya, bahkan justru mantan lawan politiknya yakni Partai Golkar, PDIP, dan Partai Gerindra.

Ruang yang tertinggal sampai 1 Oktober 2009, saat SBY akan memproklamasikan kabinet yang dibentuknya, terasa semakin sempit, sekitar dua minggu lagi. Pada masa itu tentunya partai-partai politik dan individu pimpinan terasnya, harap-harap cemas siapa saja yang akan masuk ke kabinet.

Langkah SBY untuk memerintahkan Wapres terpilih, Boediono, untuk menyiapkan struktur kabinet, pakta integritas, program aksi 100 hari pemerintahan yang baru dan program aksi lima tahun mendatang, tak terdengar gaung politiknya dibandingkan dengan siapa yang akan masuk dalam kabinet mendatang. Susunan kabinet tampaknya jauh lebih menarik untuk diperbincangkan ketimbang program aksi pemerintahan yang baru.

Alih-alih menyerap aspirasi masyarakat mengenai ‘profesionalitas’ anggota kabinet mendatang, informasi yang beredar mengenai susunan kabinet sungguh menyesakkan hati. Ini karena kabinet akan berisi para pejabat teras partai yang belum tentu memiliki profesionalitas sesuai dengan bidang yang akan diembannya di kabinet.

Hasil akhir penentuan kabinet kita harapkan akan berbeda dengan misinformasi yang beredar ke masyarakat selama ini. Kabinet yang akan dibangun mudah-mudahan sesuai dengan aspirasi rakyat banyak, yakni menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat.

Membentuk kabinet memang bukan pekerjaan mudah. SBY tentunya tak ingin mengulangi kesalahan pada masa sebelumnya yang kemudian perlu merombak kabinet dalam waktu tak terlalu lama. Penggantian kabinet, meski perlu, justru dapat menimbulkan ketidakpastian.

Indonesia kini membutuhkan campuran antara generasi tua dan penerus menyatu dalam kabinet. Ini penting agar ada peralihan generasi dan saling asah, asih, asuh. Kini terpulang pada SBY, apakah ia akan menggoreskan pena dalam sejarah Indonesia, membangun kabinet yang ramping, efisien dan profesional.

Antara harapan dan kenyataan memang seringkali berbeda. Namun tak ada salahnya jika kita berharap, “mimpi-mimpi kita mengenai Indonesia ke depan, adalah juga mimpi-mimpi SBY.” ‘Meraih mimpi’ bukan hanya judul lagu dan film yang kini sedang beredar di Jakarta, melainkan kelanjutan dari pidato Bung Karno di masa lalu “Gantungkanlah mimpi-mimpimu pada bintang-bintang di langit.” Jika dulu hanya ingin menggapai, tak ada salahnya jika kini kita akan meraihnya.

Selamat bagi SBY membentuk kabinet yang profesional, agar mimpi-mimpi kita jadi kenyataan. Karena SBY suka lagu ‘Ada Pelangi di Matamu’, tak ada salahnya jika saya sadurkan kata-kata indah dari seorang CPNS di LIPI kepada penulis yang pantas pula disampaikan kepada SBY: “Karena Tuhan maha Adil, selalu menyiapkan Pelangi setelah badai, indahnya Bulan di gelapnya malam, dan Senyum setelah tangisan. Maka berjanjilah padaku wahai Presiden SBY tuk selalu memberi yang terbaik pada rakyat, ada atau tiada tuntutan. Bentuklah kabinet yang kinerjanya dapat membuat anak-anak Indonesia tersenyum menatap masa depan mereka yang lebih cerah, setelah lama mereka dihimpit ketidakpastian akan masa depannya.”

Sumber: Celah (inilah.com) 15 September 2009

0 Responses to “Kursi Kabinet Untuk Partai Koalisi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d bloggers like this: