Cintailah Indonesia, Cintailah KPK

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

INDONESIA kini sedang menangis. Tiga kasus yang kini amat mendebarkan hati dan perasaan terkait dengan persoalan penanganan kasus-kasus korupsi.

Pertama, putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kepada salah satu eks pemilik Bank Century, Robert Tantular, yang hanya menjatuhkan vonis empat tahun penjara dan denda sebesar Rp. 50 miliar dirasa tidak adil. Sebab, kasus Bank Century pada akhirnya melibatkan dana sebesar Rp. 6,7 triliun. Kedua, kasus pemanggilan para pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh polisi terkait dugaan kasus penyalahgunaan wewenang di komisi itu.

Pada Jumat lalu (11/9), empat pimpinan KPK, yakni Chandra Hamzah, Bibit Samad Rianto, M. Jasin, dan Haryono Umar datang ke Markas Besar Polri dan diperiksa sebagai saksi. Mereka diperiksa di Mabes Polri terkait pencekalan Direktur Utama PT Masaro Radiokom Anggoro Widjaja serta pencekalan dan pencabutan cekal mantan Direktur PT Era Giat Prima Joko Tjandra. Adapun kasus ketiga amat unik, yaitu adanya petisi penolakan beberapa tokoh masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkait dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (RUU Pengadilan Tipikor).

Di mata mereka, pembahasan RUU Pengadilan Tipikor ini akan menjurus pada pelemahan penegakan hukum atas kasus-kasus korupsi. Karena itu, mereka berharap Presiden menolak RUU Pengadilan Tipikor itu pada Sidang Paripurna DPR yang akan mengesahkannya. Pada saat yang sama, Presiden diharapkan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang berisi penguatan Pengadilan Khusus Tipikor. Bukan hanya aktivis dan rakyat biasa yang gelisah dengan persoalan keadilan terhadap para pelaku korupsi ini.

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla termasuk orang pertama yang paling berang soal ini. Baginya, betapa anehnya Bank Century yang bangkrut karena pengelolaan yang tidak hati-hati itu bukannya para pelakunya dipenjara, melainkan justru bank itu disuntik dana yang aduhai banyaknya. Wapres Jusuf Kalla termasuk orang yang paling keras menentang bailout bank-bank yang akan bangkrut. Dalam suatu pertemuan dengan beberapa pengamat politik beberapa waktu lalu, Jusuf Kalla pernah mengeluarkan unek-uneknya soal ini.

Katanya, jika semua bank bermasalah diberi dana talangan, itu akan menimbulkan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kedua yang memakan dana publik sebesar Rp 200 triliun. Angka yang amat fantastik! Alih-alih adanya satu kata di jajaran pemerintahan dalam penanganan Bank Century, tampak jelas betapa posisinya bagaikan tiga lawan satu. Maksudnya, Jusuf Kalla yang menentang harus berhadapan dengan tiga kekuatan besar yang menyetujuinya, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Gubernur BI saat itu Boediono.

Kita tak tahu apakah kasus Bank Century terkait dengan adanya dana keluarga pejabat tinggi negara di bank itu atau juga terkait dengan dana politik sehingga persoalan itu menjadi amat rumit. Namun, satu hal yang pasti, penegakan hukum atas kasus Bank Century benar-benar menyentuh aspek keadilan. Mengapa pembobol bank itu hanya divonis amat rendah, sementara para pejabat yang melakukan korupsi Rp. 100 miliar atau kurang divonis lebih besar dari itu.

Mantan Menteri Kelautan Rokhmin Dahuri yang dinilai merugikan negara Rp. 14,6 miliar divonis tujuh tahun penjara. Itulah sebabnya orang kini bertanya, ada apa dengan penegakan hukum kasus-kasus korupsi tersebut? Apakah Indonesia kini mundur ke belakang dalam penanganan kasus-kasus korupsi itu? Suatu yang kemudian menimbulkan satu gerakan di antara para pegiat antikorupsi yang belakangan ini meneriakkan slogan “Cintailah Indonesia, Cintailah KPK”.

Teriakan para pegiat transparansi dan penerapan kepemerintahan yang baik itu kini semakin membahana, mengajak kita untuk menyatukan langkah mencintai negeri ini dan menyelamatkan KPK. KPK kini bukan saja institusi yang sedang diperlemah kewenangannya dalam menangani kasus-kasus korupsi, melainkan juga sedang didiskreditkan sebagai lembaga yang sarat dengan kekotoran, khususnya sejak muncul kasus Ketua KPK nonaktif Antasari Azhar, yang diduga menjadi dalang dari pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Apakah berbagai langkah pemerintah dan DPR untuk mengegolkan RUU Pengadilan Tipikor menjadi undang-undang merupakan pertanda titik balik negatif dalam menangani kasus-kasus korupsi? Jawabnya terletak pada langkah-langkah politik kedua institusi itu. Tanpa adanya transparansi dalam soal-soal yang terkait uang ini, Indonesia akan sulit mendapatkan penilaian positif dari para pelaku bisnis internasional. Sementara di era globalisasi yang penerapannya sudah semakin dekat ini, kaitan antara ekonomi, politik, dan penegakan hukum amat kental.

Pemerintahan yang bersih dan kepemerintahan yang baik (clean government dan good governance) adalah dua kata kunci bagi perbaikan Indonesia ke depan. KPK adalah benteng terakhir dari penanganan kasus-kasus korupsi di negeri ini. Meski institusi ini awalnya dibuat di dalam situasi kesementaraan, keberadaannya begitu terasa.Orang kini bertanya, mengapa KPK yang langkah-langkah awalnya begitu manis dan lancar kini justru mendapatkan rintangan dan hambatan yang datang bertubi-tubi?

UU Pengadilan Tipikor yang harus selesai pada akhir tahun ini dan diharapkan memperkuat posisi KPK kini justru memperlemah institusi yang sudah mulai merasuk ke hati sanubari masyarakat ini. Ungkapan “Cintailah Indonesia, Cintailah KPK” tampaknya bukanlah suatu slogan tanpa makna. Artinya begitu mendalam. Ini suatu ajakan jika kita mencintai Indonesia, berarti pula mencintai KPK.

Dari rasa cinta ini akan muncul rasa memiliki. Adanya sense of belonging ini akan menggerakkan kita semua untuk menyelamatkan KPK yang berarti pula bersatu melawan korupsi! (*)

Seputar Indonesia, Selasa, 15 September 2009

0 Responses to “Cintailah Indonesia, Cintailah KPK”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d bloggers like this: