Menata Kembali Hubungan RI-Malaysia

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Indonesia dan Malaysia, meski negara serumpun, ternyata penuh dengan pernak pernik persoalan di antara keduanya. Hubungan kedua negara sejak 1957, tahun kemerdekaan Malaya, bagaikan roller coaster yang naiknya begitu lamban, namun begitu sampai ke puncaknya, langsung terjun bebas secara drastis.

Kilas balik hubungan RI-Malaysia dapat kita lihat dari betapa mesranya hubungan kedua negara saat Malaya merdeka. Saat itu, Singapura masih menjadi bagian dari Malaya. Untuk menjalin hubungan kebudayaan, Presiden Soekarno memberikan cenderamata kepada PM Tengku Abdurrahman piringan hitam Lokananta, yang antara lain berisi lagu-lagu Indonesia. Di antara kumpulan lagu itu adalah “Terang Bulan” karya Sjamsul Bahri yang kemudian disadur menjadi lagu kebangsaan Malaysia.

Antusiasme membangun hubungan yang amat mesra itu lenyap seketika saat PM Malaysia Tengku Abdurrahman ingin memasukkan Sabah dan Sarawak sebagai bagian Federasi Malaysia. Seketika itu Presiden Soekarno melontarkan politik Konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia pada 1963-1966. Slogan konfrontasi saat itu sungguh menumbuhkan rasa patriorisme di kalangan masyarakat Indonesia, yakni: ‘Ganyang Malaysia’, ‘Singkirkan Tengku Abdurrahman’, ‘Amerika kita seterika, Inggris kita linggis.’ Malaysia oleh Soekarno memang dianggap antek Neo-kolonialisme AS dan Inggris.

Untuk menambah semangat para sukarelawan yang diterjunkan ke medan perang, sebuah lagu pop patriotik pun dilantunkan oleh Titiek Puspa dan dikumandangkan ke seantero negeri, berjudul “Kalimantan Utara”. Bait lagu itu berbunyi: “Di keheningan malam ini/di kesunyian hati/di kerinduan ku begini/deritaku menanti/oh tuhan yang kuasa/oh lindungilah dia/pahlawanku di medan laga/Kalimantan Utara.”

Sejarah Konfrontasi Indonesia-Malaysia mewarisi suatu rasa benci mendalam di kedua belah pihak, terlebih lagi Indonesia. Hingga kini, jika ada persoalan kecil antara kedua negara, sudah pasti pihak Indonesia, terlebih lagi masyarakatnya, sangat marah kepada Malaysia. Persoalan antara kedua negara memang amat kompleks, dari soal klaim teritorial Sipadan-Ligitan, perselisihan perbatasan terkait dengan sumber daya alam di perairan Ambalat, soal perbatasan darat dan laut RI-Malaysia, soal TKI, pencurian kayu dari Indonesia ke Malaysia, sampai ke soal pencurian kebudayaan Indonesia.

Antara RI-Malaysia seakan-akan penuh dengan konflik, walau pada tingkatan masyarakat akar rumput sebenarnya hubungan itu baik-baik saja. Tengok misalnya perdagangan lintas batas di sekitar Entekong (Kalbar) dan Tebedu (Serawak) dan antara pulau Sebatik Selatan (RI) dan Sebatik Utara (Malaysia). Dari sisi pendidikan sesungguhnya juga sejak lama kedua negara menjalin hubungan kerjasama. Dulu kita mengirim guru dan dokter ke Malaysia, kini tidak sedikit mahasiswa Indonesia kuliah di Malaysia. Namun, seperti kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Persoalan kecil bisa jadi merusak segalanya.

Ya, memang kita masih punya masalah dengan Malaysia. Namun, semua persoalan itu sebenarnya dapat diselesaikan dengan baik, tanpa harus ribut-ribut melalui ‘Megaphone Diplomacy’, yaitu diplomasi cuap-cuap menggunakan corong media massa cetak, maya, radio dan televisi Indonesia agar didengar, dibaca, dan ditonton oleh pihak Malaysia. Kita lupa, publik Malaysia kurang memiliki akses terhadap media Indonesia, karena sensor yang begitu ketat di negeri itu.

Antara Indonesia dan Malaysia sebenarnya banyak jalur diplomatik yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan, dari tingkatan Kepala Pemerintahan, Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Panglima Angkatan Bersenjata, Kepala Staf Angkatan, institusi General Border Committee dsb. Pertemuan antar pejabat tersebut ada yang bersifat reguler, ada yang khusus, ada pula yang dilakukan di sela-sela pertemuan ASEAN.

Namun, negara kita yang diwakili pemerintah, tidak pernah serius memperjuangkan kepentingan nasional kita dari soal TKI, pembalakan liar, pencurian ikan, pemindahan tapal batas darat, sampai ke soal pencurian karya seni dan budaya. Malaysia tentunya memiliki kepentingan nasional yang juga diperjuangkan. Sayangnya dari sisi Indonesia, berbagai persoalan itu dibiarkan mengambang, bagaikan meninggalkan bom waktu. Ketika suatu peristiwa muncul, bom itu pun meledak dan Malaysia pun dijadikan kambing hitam. Kadang, ini adalah bagian ‘politik pengalihan’ atas ketidakberesan yang sedang terjadi.
Gaya berpolitik era 1960an bukan lagi cara tepat. Ungkapan ‘Ganyang Malaysia’ memang masih menyentuh kalbu, walau kadang justru membuat pilu. Di tahun 1960an saja, kala Angkatan Bersenjata kita terkuat di Asia Tenggara dengan persenjataan supramodern untuk ukuran saat itu, kita tidak dapat mencapai tujuan konfrontasi. Malaysia memang negara yang jauh lebih kecil, tapi memiliki sekutu yang kuat. Tidakkah lebih cantik dan indah, bila Indonesia-Malaysia, sebagai sesama negara pendiri ASEAN menyelesaikan persoalan yang dihadapi melalui cara yang elegan, bukan melalui adu kekuatan senjata.

Celah (Inilah.com) 31/08/2009

2 Responses to “Menata Kembali Hubungan RI-Malaysia”


  1. 1 Anjar September 23, 2009 at 8:15 am

    Hidup Indonesia..
    Hidup Malaysia..

    Hidup Perdamaian!!

  2. 2 Raditya August 12, 2010 at 8:58 pm

    mas minta referensi n rujukan nya donk saya sedang membuat skripsi tentang pengklaiman budaya RI-Malaysia….makasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: