Transaksi Politik PDIP-Demokrat

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Mantan presiden yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputeri akhirnya menerima kunjungan politik Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo dan sejumlah pengurus lain.

Apa untung-rugi yang diperoleh jika kedua partai berkoalisi? Spekulasi politik di balik pendekatan yang dilakukan PDIP terhadap kubu calon presiden (capres) terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono, pasca-Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 sedikit demi sedikit terkuak. Partai Demokrat yang mengusung Yudhoyono memberi sinyal untuk mendukung Ketua Dewan Pertimbangan PDIP Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR periode 2009–2014.

Dukungan partai politik (parpol) terbesar hasil Pemilu 2009 tersebut diduga kuat akan melapangkan jalan bagi Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR ketiga pasca-Orde Baru setelah Amien Rais (1999–2004) dan Hidayat Nur Wahid (2004–2009). Namun, apakah dukungan itu akan bermuara pada koalisi politik antara dua seteru yang saling bersaing pada pilpres lalu tersebut, masih menjadi pertanyaan besar.

Persoalannya, jika PDIP turut bergabung ke dalam koalisi, resistensi partai-partai koalisi pendukung Yudhoyono juga cukup besar. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring misalnya telah mengingatkan agar elite politik di luar parpol koalisi tidak berselancar di atas keringat orang lain.

Keuntungan bagi Yudhoyono
Bagi Partai Demokrat, keinginan PDIP untuk menjadi bagian dari koalisi pemerintahan Yudhoyono dapat diibaratkan sebagai “durian runtuh” karena jelas akan memperbesar basis politik mereka di DPR. Dengan tambahan hampir 100 kursi PDIP di DPR, koalisi pendukung Yudhoyono, sekalipun tanpa Golkar, mencakup sekitar 75% kekuatan politik parlemen.

Itu artinya secara teoretis kebijakan-kebijakan pemerintah di DPR tidak akan banyak mengalami hambatan, apalagi kritik dan penolakan dari para legislator seperti periode sebelumnya. Keuntungan lain yang bakal diperoleh kubu Yudhoyono adalah melemahnya kekuatan oposisi di DPR karena Partai Golkar pun tampaknya cenderung lebih memilih menjadi bagian dari kekuasaan ketimbang sebagai oposisi.

Dua parpol yang mungkin tetap bertahan sebagai oposisi hanya Partai Gerindra dan Hanura, dengan total perolehan kursi yang tidak signifikan (di bawah 10%) dibandingkan kubu kekuatan pemerintah Yudhoyono–– apabila Golkar turut bergabung— yang sangat perkasa karena mencakup sekitar 90% kursi parlemen.

Apabila PDIP benar-benar bersekutu dengan pemerintahan Yudhoyono, mungkin jenderal kelahiran Pacitan ini tidak perlu repot-repot menggelar “rapat konsultasi” yang terlalu sering dengan pimpinan DPR. Realitas relasi Presiden-DPR periode 2004–2009 menunjukkan bahwa Yudhoyono sering kali harus mengambil inisiatif “rapat konsultasi” dengan pimpinan Dewan dalam rangka menjinakkan sikap oposisi beberapa parpol dan legislator.

Tak kurang dari 13 kali digelar rapat konsultasi antara Presiden dan pimpinan DPR selama hampir lima tahun terakhir, sebagian besar untuk membendung gencarnya usulan penggunaan hak interpelasi dan hak angket oleh sejumlah anggota Dewan.

Kerugian bagi PDIP
Meski demikian, keinginan sebagian elite PDIP untuk bergabung ke dalam kubu pemerintah justru bisa menjadi bumerang bagi keutuhan dan soliditas partai berlambang banteng gemuk ini. Apalagi wacana sebagai partai oposisi sudah terinternalisasi di kalangan massa pendukung dan pengurus PDIP sebagai satu-satunya pilihan partai jika Megawati kalah dalam Pilpres 2009.

Karena itu jika elite PDIP akhirnya benar-benar memilih bersekutu dengan pemerintahan Yudhoyono, jelas itu akan mengecewakan para Soekarnois yang berharap Megawati tetap konsisten dengan pilihan oposisi. Ada tiga kerugian lain yang dialami oleh PDIP. Pertama, parpol berlambang banteng gemuk ini bakal ditinggalkan oleh sebagian pendukungnya yang kemudian berdampak pada semakin kecilnya peluang bagi partai ini bersaing di pentas politik nasional pada Pemilu 2014.

Dengan kata lain, citra publik PDIP sebagai pembela wong cilik yang peduli kepentingan rakyat secara berangsur-angsur akan merosot. Kedua, sebagai parpol yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah, para elite PDIP tentu akan mengalami “kegamangan” dan disorientasi dalam menyikapi peran barunya sebagai partai pendukung pemerintah.

Hal ini tentu berdampak pada merosotnya produktivitas fraksi PDIP, baik di DPR maupun DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Ketiga, partai pimpinan Megawati ini bisa jadi akan ditinggalkan oleh sebagian pengurusnya yang mungkin lebih memilih “partai pemerintah” seperti Partai Demokrat ketimbang sekadar “partai pendukung pemerintah” seperti PDIP dan Golkar.

Kerugian Bangsa Kita
Ke arah mana PDIP berpolitik, menjadi oposisi atau berkoalisi, memang merupakan hak para elite partai ini untuk memutuskannya. Namun para elite PDIP jelas keliru kalau berpandangan bahwa massa pendukung partai dan para pengurus di tingkat bawah tidak berhak menentukan haluan partai mereka.

Karena itu kecenderungan elite PDIP untuk bersekutu dengan pemerintah dapat dikatakan sebagai pengkhianatan elite terhadap komitmen partai dan para pendukungnya. Sementara itu ditinjau dari kepentingan bangsa, kecenderungan elite PDIP bersekutu dengan pemerintah jelas tidak sehat.

Demokrasi tanpa oposisi bukanlah demokrasi dalam pengertian yang sesungguhnya. Selain itu demokrasi tanpa oposisi juga berpotensi menghasilkan pemerintahan yang kolutif dan otoriter seperti era Orde Baru sehingga mengarah pada terkuburnya demokrasi itu sendiri. Koalisi antara PDIP dan Partai Demokrat mungkin menguntungkan segelintir elite yang bergelimang kekuasaan.

Namun pilihan demikian jelas merugikan tak hanya bagi PDIP, tetapi juga bagi bangsa kita, baik dari segi perkembangan demokrasi maupun dari segi kebutuhan akan terbentuknya pemerintahan yang bersih, adil, dan akuntabel.(*)

Seputar Indonesia, Selasa 25 Agustus 2009

0 Responses to “Transaksi Politik PDIP-Demokrat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: