Golkar di Persimpangan Jalan

Oleh: Prof. Dr. Indria Samego
Profesor Riset Perbandingan Politik LIPI

Kegagalan Partai Golkar mendominasi pemilu legislatif, 9 April 2009, dan kekalahan ketua umumnya, Jusuf Kalla, dalam pemilihan presiden pada 8 Juli 2009 telah membawa bekas “partainya penguasa Orde Baru” ini sungguh-sungguh di persimpangan jalan.

Betapa tidak, sekarang muncul dua pemikiran utama di kalangan elite partai dalam melihat masa depan partai berlambang pohon beringin ini. Pertama, agar Partai Golkar tetap dipandang sebagai sebuah kekuatan politik yang berpengaruh, sudah selayaknya bila ia tetap berada di lingkaran kekuasaan.

Golkar, menurut paham ini, tidak terbiasa sebagai kekuatan oposisi. Dalam sejarahnya, Golkar senantiasa memegang kekuasaan, atau paling tidak berada dalam sumbu politik yang mengatur republik ini. Hanya dengan cara itulah Golkar dapat melestarikan dukungan massa dalam setiap pemilu.

Kedua, pemikiran lain mengatakan bahwa elite partai tidak layak untuk mempertahankan strategi “business as usual”. Hanya karena Golkar masih menjadi satu dari tiga besar partai di samping Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), tidak semestinya paradigma lama tersebut dipertahankan.

Harus ada improvisasi dan inovasi politik yang dilakukan di luar kebiasaan partai. Salah satu yang dijadikan pertimbangan adalah bagaimana membesarkan partai tanpa harus merapat menjadi partainya penguasa, bukan partai berkuasa, sebagaimana terjadi selama ini. Hanya anak-anak muda yang belum pernah merasakan nikmatnya kekuasaanlah yang paham akan jalur baru politik Golkar ke depan.

Sebagai konsekuensi dari perbedaan pemikiran di atas, muncullah polarisasi dalam elite partai ini menjelang musyawarah nasionalnya, Oktober 2009 mendatang. Kubu pertama didominasi oleh para tokoh politik yang selama ini sudah “dibesarkan” oleh Golkar. Kelompok ini tetap menganggap bahwa menjadi bagian dari kekuasaan bukanlah sebuah dosa partai.

Apa salahnya bila hal itu berakibat positif terhadap eksistensi organisasi.Kelompok lawannya menganggap bahwa dalam era politik pasar bebas seperti sekarang, partai mesti dikelola sesuai dengan asas pasar bebas tersebut. Bersaing dan berkreasi mesti menjadi pilihan partai. Bila tidak, melemahnya dukungan massa dan proses pemunahan, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Sumber Daya Golkar
Harus diakui bahwa Partai Golkar dan kiprah politiknya masih akan tetap menjadi bahan spekulasi yang tetap menarik.Kendati dikalahkan oleh Partai Demokrat dalam pemilihan legislatif yang lalu dan hanya berbeda tipis dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai warisan Orde Baru ini tetap layak untuk diperhitungkan.

Meski perolehan kursinya di DPR menurun di bawah hasil Pemilu 2004, dari sekitar 129 menjadi 109, keberadaan Golkar dalam konstelasi kekuasaan masih layak dipertimbangkan, terutama oleh pasangan presiden dan wakil presiden terpilih, SBY-Boediono, kemampuannya untuk memasukan elemen Golkar dalam pemerintahan mendatang akan sangat memperkuat posisinya dalam menghadapi kekuasaan legislatif di Senayan.

Apalagi jika PDIP pun berhasil ditarik ke dalam lingkaran kekuasaannya—maka praktis, pemerintahan SBY-Boediono akan sangat kuat, dan notabene fungsi pengawasan DPR tinggal formalitas belaka. Selain hitung-hitungan jumlah kursi di atas,Golkar juga memiliki sumber daya manusia yang tidak bisa dianggap remeh.

Karena pengalamannya selama ini, baik dari sisi politik maupun finansial dan jaringan, mereka memiliki kelebihan dibanding sejumlah tokoh politik dari partai lainnya. Ketika sumber daya keuangan Negara kian berkurang, keberadaan para tokoh yang secara ekonomi mapan dan memiliki jaringan yang cukup kuat dalam masyarakat, khususnya para pengusaha, akan dapat dijadikan kompensasinya.

Kemudian, sebagai partainya Orde Baru, sudah barang tentu Golkar tidak mempunyai persoalan dengan keterbatasan infrastruktur. Terutama dalam hal bangunan kantor,para politisi Golkar tidak perlu memikirkannya. Ketika banyak partai lain masih harus menyewa,Partai Golkar, terutama dewan pimpinan pusatnya, sudah mempunyai tempat kerja yang sangat representatif.

Konon, jika Aburizal Bakrie terpilih sebagai ketua umum kelak, dia akan membangun markas Golkar di Slipi menjadi pusat perkantoran modern berlantai puluhan. Bisa dibayangkan, partai politik mana di Indonesia sekarang yang mempunyai kemampuan seperti itu? Kelebihan lain dari partai Golkar adalah perjalanan sejarahnya.

Bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia –minus “Perjuangan”– Golkar merupakan organisasi peserta pemilu di masa Orde Baru. Enam kali pemilu dalam era pemerintahan Soeharto,Golkar— bukan partai saat itu – senantiasa dijadikan alat kekuasaan untuk mempertontonkan demokrasi di negeri ini.

Apakah karena rakyat tidak mengetahui soal ini, atau karena mereka tidak berdaya untuk membuat pilihan sendiri, yang pasti,dari pemilu ke pemilu Golkarlah pemenangnya. Buat rakyat kebanyakan, Golkar diidentikkan dengan kekuatan politik yang selalu memihak pada pembangunan.

Dapat dipahami bila kemudian mereka seolah menjadi pemilih tradisional Golkar. Bagi mereka, sekali Golkar tetap Golkar, akan dibuktikan dalam setiap pemilu. Dengan kata lain, Golkar telah memiliki pasar politik yang jelas.

Iklim Politik Baru
Yang menjadi masalah,apakah asumsi mengenai pasar politik ini akan tetap dapat dipertahankan dalam era pemilu yang sangat liberal seperti sekarang? Demikian juga halnya dengan keberadaan tokoh partai yang mapan secara ekonomi dengan jaringan yang luas, belakangan dilihat secara skeptis dalam perspektif pembangunan Golkar.

Apakah karena mereka besar lantas akan mampu membangun Golkar, atau sebaliknya, mereka dapat tumbuh dan menjadi besar karena Golkar? Jika asumsi di atas yang diterima, maka benar kata orang bahwa siapa pun yang akan memimpin Golkar, syarat pertama dan yang paling utama adalah memiliki dukungan finansial yang sangat besar.

Ketika partai belum memiliki sumber keuangan sendiri, maka ketergantungan kepada para tokoh yang memiliki modal finansial kuat akan menjadi sebuah keniscayaan. Hanya dengandasaritulahkegiatan partai relatif mudah didanai. Apalagi untuk mengurus partai sebesar Golkar dengan struktur kepengurusan seantero Nusantara, persoalan uang menjadi sangat strategis.

Karena itulah sejumlah tokoh diusung sebagai kandidat ketua umum Golkar mendatang. Dari Aburizal Bakrie, Surya Paloh, sampai Tommy Soeharto pun disebut-sebut di dalamnya. Konsekuensinya,idealisme saja tidak cukup.Bagaimana mengelola sebuah partai hanya bermodalkan semangat?

Dalam kondisi rutin saja, biaya yang diperlukan oleh partai tidaklah kecil,apalagi dalam masa-masa menjelang pemilihan umum, sudah barang tentu para pengurus partai mulai dari pusat sampai ke struktur terendah harus bekerja keras mencari dana kampanye. Kalaupun sumber dana diharapkan dari para anggota partai yang berada di lembaga perwakilan rakyat,konsekuensinya akan merepotkan.

Mereka mesti mencari berbagai alasan agar pihak eksekutif bersedia menaikkan anggaran tambahan bagi para anggota DPR (D),atau mengurangi take home pay para wakil rakyat yang terhormat tersebut. Dua-duanya menjadi sangat merepotkan kepentingan publik dan pelembagaan partai politik.

Munculnya tokoh muda— seperti Yudi Chrisnandi dan Ferry Mursyidan Baldan—yang siap untuk memimpin Golkar ke depan dan bersaing melawan elite berbasis ekonomi kuat di atas, tentu memperkuat visi baru partai politik sekarang.Tokoh-tokoh muda ini mesti siap dengan program yang memberi harapan kepada para pendukung Golkar, seberapa jauh idealisme mereka mampu mengalahkan pragmatisme.

Lalu bila ini berhasil,maka akan muncul era kepolitikan baru, saat pelembagaan partai politik telah mulai dirasakan di negeri ini.Bukan money talks yang mengatur perolehan suara dalam pemilu, melainkan program oriented dan hubungan yang dialogis antara elite parpol dan massa pemilih.(*)

Sumber: Seputar Indonesia, Sening 24 Agustus 2009

0 Responses to “Golkar di Persimpangan Jalan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: