Gapailah Bintang- Bintang di Langit

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

KITA berdua saja, duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput—kau entah memesan apa. Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras—kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk. Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya memesan rasa lapar yang asing itu.” (Sapardi Djoko Damono, “Di Restoran”, 1991)

Artikel ini sengaja saya mulai dengan kutipan sajak “restoran” karya Sapardi Djoko Damono, seorang penulis puisi yang amat andal, juga seorang dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Sajak itu bagian dari kata pengantar Sapardi pada buku Membaca Indonesia, hasil suntingan Soegeng Sarjadi dan Sukardi Rinakit terbitan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Jakarta, Januari 2005.

Intinya, Sapardi mempertanyakan mengapa program aksi kebijakan yang dilakukan para pengambil keputusan sering kali berwajah keras, diskriminatif dan tidak manusiawi? Mengapa, ujar Sapardi, para politisi kerap menempatkan kita, rakyat, sebagai objek dan dalam kedudukan yang lebih rendah? Mungkin hati mereka beku. Padahal mereka berkuasa karena suara rakyat, vox populi vox dei (suara rakyat suaraTuhan).

Ungkapan Sapardi itu begitu sarat akan makna apalagi jika kita kaitkan dengan Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia.Tema besar ultah tahun ini ialah “Bersatu, Bangkit dan Maju”.

Sayang, ini diawali dengan dilupakannya lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan sebelum pidato kenegaraan itu dibacakan. Padahal, ada bait-bait yang penuh makna dari lagu kebangsaan itu, antara lain, “Bangunlah Jiwanya/ bangunlah badannya/untuk Indonesia Raya.” Pada pidato itu Presiden antara lain menyatakan,“Sebagai bangsa, kita bertekad mulai tahun ini lebih bersatu, kemudian bangkit dan maju.

Hanya dengan persatuan bangsa, kita akan selamat dari berbagai ujian, lalu bangkit menuju kehidupan bangsa yang lebih aman, damai, dan sejahtera.” Presiden juga menekankan bahwa di saat Indonesia ingin bangkit, dunia kini kembali diterpa gelombang krisis, karena itu kita harus bersatu, bangkit dan bekerja keras untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju. Angan-angan untuk bersatu, bangkit dan maju itu, dulu juga pernah diungkapkan Presiden Soekarno pada pidatonya yang amat bersejarah pada 1 Juni 1945,yakni pidato lahirnya Pancasila.

“Negara yang akan kita bangun ini adalah negara kebangsaan, bukan negara agama, atau negara suku.” Karena itu ideologi yang kita anut hingga kini adalah Pancasila,walau yang kita kenal kini berbeda dengan Pancasila asli galian Bung Karno. Pada bagian lain dari pidato yang sama Bung Karno menyatakan,”Di dalam Indonesia merdeka itu kita merdekakan rakyat kita!” Dari adanya persatuan itu, jika boleh saya kaitkan, kita dapat berangan- angan yang tinggi mengenai masa depan negeri ini, seperti ajaran Bung Karno kepada para pemuda dan pemudi Indonesia dalam pidatonya “Gapailah bintang-bintang di Langit.

”Tanpa persatuan dan kebangkitan kembali nasionalisme Indonesia, tidak mungkin kita akan maju. Rasa nasionalisme atau kecintaan kita pada Tanah Air yang tinggi pula yang memungkinkan kita, bangsa Indonesia, melangkahkan kaki dalam krisis demi krisis dan berani melawan arus yang terjadi di dunia dan pada tingkatan domestik Indonesia, melalui pidato Bung Karno yang juga amat penuh makna. “Tahun vivere peri coloso (Tavip)”, yakni tahun yang menyerempet- nyerempet bahaya.

Meski eranya berbeda, adalah kenyataan bahwa kita harus berani menyerempet- nyerempet bahaya demi kejayaan nasional Indonesia. Sayang, apa yang diungkapkan Presiden SBY tersebut, seperti dikatakan Sukardi Rinakit, masih lebih tampak sebagai retorika dan belum diwujudkan dalam perubahan paradigma pembangunan nasional yang nyata.

Meski alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 sudah menyatakan adalah tugas negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraan umum, ikut serta dalam ketertiban dunia, kenyataannya masih banyaknya anak-anak Indonesia yang cerdas tapi miskin, tidak mendapatkan pendidikan yang layak, kesejahteraan rakyat juga masih menjadi impian, dan keikutsertaan kita dalam menciptakan ketertiban dunia masih amat terbatas.

Negeri ini masih terpuruk dalam jurang ekonomi yang amat dalam, kebangkitannya pun amat terbatas, karena itu kemajuannya juga terbatas. Antara elite politik dan rakyat masih terdapat jurang yang amat dalam. Kepentingan politik elite belum sama dengan kepentingan elite massa.

Ini menunjukkan puisi Sapardi di atas amat bermakna, ibaratnya duduk di restoran yang sama, apa yang dipesan dan dimakan rakyat berbeda dengan apa yang dipesan dan dimakan para elite politik. Mimpi Indonesia yang bersatu, bangkit dan maju, bukanlah impian semusim.Ia sudah ada sejak Boedi Oetomo lahir pada 20 Mei 1908, bahkan sejak era Sriwijaya dan Majapahit. Persatuan juga diwujudkan melalui Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928, yang kemudian melangkah pada proklamasi kemerdekaan RI,17 Agustus 1945.

Akankah mimpi-mimpi kita terwujud? Mari kita simak satu per satu kata ’bersatu’, ’bangkit’ dan ’maju’. Kenyataan yang kita hadapi saat ini memang bertolak belakang dengan mimpi-mimpi kita yang indah itu.Tengoklah apa yang nyata di lapangan. Nuansa persatuan kini semakin pupus dengan semakin tingginya ego pribadi, suku, dan golongan. Rasa keindonesiaan bukan hanya pupus di tingkat elite politik, tetapi juga massa.

Konflik pascapilkada, walau sedikit, menunjukkan betapa berbagai ego di atas masih berbenturan. Konflik politik pascapemilu legislatif dan pemilu presiden, walau tidak menjurus pada kekerasan, menunjukkan bahwa kita masih menghadapi tantangan yang amat berat untuk menonjolkan keindonesiaan kita. Impian untuk bangkit juga lebih merupakan retorika jika kita hanya menunggu keajaiban pulihnya krisis ekonomi dunia.

Tanpa langkah yang berani “menyerempet-nyerempet bahaya”, yakni program ekonomi yang benar-benar bernuansa kerakyatan dan tidak mau didikte dari luar, kebangkitan Indonesia tampaknya sulit diwujudkan. Selera para elite politik dalam membuat menu program aksi kebijakan, menyitir ungkapan Sapardi,“ sering kali berwajah keras, diskriminatif, dan tidak manusiawi.

”Jika demikian adanya, mana mungkin elite politik dan rakyat dapat duduk berdampingan di sebuah “restoran” bernama Indonesia, memesan dan memakan hidangan yang memberi semangat, demi kemajuan bangsa. Kemajuan memang tidak akan dicapai jika kita tidak bersatu dan bangkit bersama.

Jika demikian adanya, sulit bagi kita, bangsa Indonesia,untuk “menggapai bintang-bintang di langit.” Selamat ulang tahun yang ke-64 Kemerdekaan RI,“Bangunlah jiwanya/bangunlah badannya/ untuk Indonesia Raya.” Jayalah negeriku, Jayalah bangsaku! (*)

Seputar Indonesia, Selasa, 18 Agustus 2009

0 Responses to “Gapailah Bintang- Bintang di Langit”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: