Insiden Lagu Indonesia Raya

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

“Indonesia Raya”, lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman, pertama kali diperkenalkan oleh sang penciptanya pada Kongres Pemoeda Indonesia, 26-28 Oktober 1928. Lagu yang terdiri atas tiga oktaf/bagian itu bukan hanya seperti yang kita kenal sekarang, melainkan ada dua bagian bait lagu yang berisi jayalah bangsaku dan juga doa bagi negeri tercinta ini. Kongres yang menghasilkan Soempah Pemoeda itu bukan hanya sepakat atas tiga hal: mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; bertanah air satu, tanah air Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, melainkan juga menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan bagi negeri yang akan merdeka itu.

Kobaran semangat kebangsaan begitu merasuk ke dalam hati sanubari para pemuda Indonesia ketika lagu Indonesia Raya itu diperdengarkan. Meski kemerdekaan saat itu belum berada di pelupuk mata, namun semangat untuk merdeka bagaikan “Api nan tak kunjung padam.” Lagu yang berirama 4/4 itu memang sangat dinamis dan bernuansa heroik, memberi semangat bagi para pemuda Indonesia untuk terus berjuang bagi kemerdekaan hakiki negeri yang bernama Indonesia ini.

Lagu ini bukan hanya mengajak kita semua untuk bangkit dan menyatu melalui bait “Bangunlah jiwanya/bangunlah badannya/untuk Indonesia Raya”, melainkan juga semangat agar “Jayalah bangsaku/jayalah negeriku”, serta bait-bait ketiga yang bernuansa doa bagi negeri ini. Sayang, sebagian besar rakyat Indonesia, bahkan sebagian pemimpinnya kini banyak yang tak mengenal lagi bagian dua dan tiga lagu yang amat sakral itu, walau kita dapat menikmatinya melalui YouTube.

Aneh tapi nyata, delapan puluh satu tahun kemudian, pada acara Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut 64 tahun Indonesia Merdeka, lagu kebangsaan itu lupa dinyanyikan sebelum pidato dibacakan, melainkan sesudahnya. Insiden tersebut amat memalukan. Pertanyaan pun bermunculan, antara lain, apakah saat gladi resik pihak kesekjenan DPR tidak melakukan latihan untuk menghitung waktu dan acara yang wajib dimasukkan.

Komentar pun bermunculan. Kawan penulis, seorang mantan aktivis mahasiswa ITB 1978 dan ketua 8EH radio ITB 1978 mengirim pesan singkat yang nadanya amat mengejek, “Mungkin mereka kebanyakan makan indomie Krar, atau mereka sudah tidak merasa sebagai bangsa Indonesia, lupa lagu kebangsaan, gila!”. Kawan itu melanjutkan, “Sebagai Warga Negara Indonesia seumur hidup, gue cuma bisa diam dan marah. Memalukan!”

‘Memalukan’ dan ‘Marah’, mungkin dua kata yang amat tepat untuk mengungkapkan isi hati seorang warga negara yang masih memiliki rasa nasionalisme Indonesia. Betapa tidak, lagu kebangsaan yang begitu sakral, dinamis dan penuh nuansa retorik serta religius, mengapa bisa terlupakan pada acara yang disiarkan langsung ke seantero negeri.

Apakah ini menunjukkan betapa sudah lunturnya rasa kebangsaan di negeri ini? Sejak berdirinya negara modern Prancis di bawah Napoleon Bonaparte pada akhir abad ke-19, nasionalisme adalah konsep yang setiap warga negara suatu negara mengidentifikasikan diri dengannya dan akan mempertahankan negeri itu dengan sepenuh hati, bahkan dengan darah dan air mata. Kepercayaan dan perasaan yang kuat pada negara (passionate identification) yang disebut nasionalisme ini, seperti juga rasa cinta lain yang bertabur dengan pengorbanan, dapat membuat seseorang apakah menjadi ‘orang terhormat’ (noble) atau ‘terhina’ (base).

Nuansa kecintaan pada seseorang atau negara dapat ditunjukkan oleh sebagian orang dalam bentuk tindakan berani dan pengorbanan diri di bawah pengaruh rasa passion ini. Ada pula yang mewujudkannya melalui cara-cara yang tidak terpuji, seperti melakukan pembunuhan massal atas pengaruh nasionalisme. Apakah nasionalisme membuat orang menjadi terhormat atau terhina, namun kepercayaan dan perasaan yang kuat itu menjadi tonggak bagi tegaknya suatu negara, seperti juga kecintaan seseorang pada sosok orang lain yang amat dicintainya.

Insiden terlupakannya lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan memang baru pertama kali ini terjadi. Lagu itu bukanlah lagu pop yang setiap saat dapat dilupakan orang. Indonesia Raya adalah lagu yang mengandung makna yang amat dalam, penuh dengan kobaran rasa passionate pada negara Republik Indonesia. Melalui lagu Indonesia Raya itu, mudah-mudahan negeri yang bernama Indonesia akan bertahan, menyatu, jaya dan kekal abadi sampai akhir zaman.

Semua itu kini terpulang pada diri kita semua sebagai sesama anak bangsa, apakah kita akan tetap menyelami makna bait-bait lagu Indonesia Raya yang amat sakral itu. Sepenggal bait “Bangunlah jiwanya/bangunlah badannya/untuk Indonesia Raya” menunjukkan, jiwa dan raga kita harus bangun dan menyatu demi kejayaan Indonesia Raya! Sebagian dari kita ternyata ada yang sudah melupakan ‘Jas Merah’ Bung Karno: “Jangan Sekali-kali (Jas) Melupakan Sejarah (Merah),” sampai-sampai lagu Indonesia Raya pun lupa dikumandangkan pada acara kenegaraan yang juga amat sakral itu.

Sumber: Celah (Inilah.com) 17 Agustus 2009

1 Response to “Insiden Lagu Indonesia Raya”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: