Pendekatan PDIP dan PD

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Inisiatif Ketua Dewan Penasehat PDI Perjuangan (PDIP), Taufiq Kiemas, untuk mendekat ke Partai Demokrat (PD), kini sudah menampakkan secercah sinar di ujung terowongan yang gelap. Upaya tak kunjung lelah itu sebenarnya sudah lama dilakukan, khususnya paskapemilu 9 April lalu.

Kini kita masih meraba, bagaimana posisi Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang adalah istri Taufiq sendiri. Kabar beredar di antara insan pers adalah, “Megawati pada posisi tidak mau menolak, namun tidak juga mau meminta, alias masih menunggu akankah datang pinangan dari kubu SBY yang adalah Ketua Dewan Pembina PD.”

Analisis yang berkembang selama ini ialah, posisi PDIP ibarat makan buah simalakama. Jika masuk ke dalam kabinet, kenyamanan kekuasaan dan ekonomi tentunya diraih. Namun, tentunya tak sedikit pendukung partai yang amat kecewa dengan keputusan politik itu. Jika tetap di luar kabinet, prestise politik akan tetap disandangnya, para pendukungnya tetap setia pada partai, kebangkitan partai pada Pemilu 2014 masih mungkin.

Mengambil posisi pada situasi yang serba tidak pasti ini memang bukanlah suatu yang amat mudah. Perhitungan yang berakhir pada nasib memakan buah simalakama itu tentu juga membutuhkan suatu perhitungan politik yang amat canggih. Masuk kabinet dengan perolehan dua, tiga, atau lima kursi di kabinet, memang menyenangkan, walau tak sebanding dengan jumlah kursi PDIP di parlemen yang menempati nomor tiga setelah PD dan Partai Golkar.

Yakin PDIP akan dipinang oleh PD untuk masuk kabinet, kini beredar isu ada lima nama tokoh muda PDI-P yang akan masuk ke kabinet, yaitu Pramono Anung yang kini menjabat sebagai Sekjen DPP PDIP, Tjahjo Kumolo sang Ketua Fraksi di DPR, Puan Maharani yang pengalaman politiknya seumur jagung, Rini Soemarno sang mantan Menteri Perindustrian , dan eksekutif muda, Gita Wirjawan. Persoalannya, bagaimana internal PDIP sendiri, apakah tidak terjadi saling sodok berebut jabatan menteri.

Sampai kini, belum ada pinangan resmi PD. Bagi PD dan SBY, memasukkan PDIP ke kabinet bukanlah suatu impian semusim, demi menjaga dukungan parlemen lebih kuat bagi pasangan SBY-Boediono. Angan-angan SBY ialah bagaimana kembali memiliki hubungan yang mesra dengan Megawati setelah muncul persoalan pribadi di antara keduanya, khususnya di akhir masa kepresiden Megawati dan menjelang Pilpres 2004. Ini menjadi dasar perhitungan politik lain dari PD untuk mendekati PDIP.

Namun, semua ini lagi-lagi tergantung pada apakah Megawati sudah legowo untuk menerima kenyataan politik kekalahan dua kali dari SBY pada pilpres 2004 dan 2009. Terlebih lagi, adalah kenyataan bahwa saat berpidato mengantar gugatan PDIP terhadap hasil Pilpres 2009, Megawati sampai terbata-bata berharap agar Mahkamah Konstitusi imparsial, tak memiliki interes politik, dan bersikap adil dalam memutuskan perkara pilpres ini.

Gagal atau kalah dalam pertarungan politik adalah hal biasa. Namun, bergabung dalam satu kubu dengan SBY tampaknya masih merupakan hal tak mudah bagi Megawati. Hingga kini, Megawati belum membuat pernyataan menerima kekalahan pada Pilpres 2009 ini, suatu yang tidak dilakukannya pada Pilpres 2004. Ini tentunya masih menjadi ganjalan bagi masuknya PDIP ke kabinet. Tanpa itu, pinangan SBY dan PD kepada PDIP untuk bergabung ke kabinet juga sulit dilakukan.

Evolusi suatu perkawinan politik antara dua partai yang selama ini bersaing keras baik di pemilu maupun pilpres tampaknya masih menghadapi berbagai rintangan. Kita belum tahu apakah badai politik yang dialami internal PDIP, khususnya antara Megawati dan Taufiq yang posisinya bertolak belakang, akan berlalu. Kita juga tidak tahu persis apakah pertarungan yang amat dahsyat di kubu PDIP, khususnya antara mereka yang masih idealis yang bertumpu pada citra diri Megawati dan kubu realis/pragmatis di bawah Taufiq, berakhir pada kemenangan kelompok idealis atau realis/pragmatis.

Langkah PDIP dan PD mendekatkan diri pastinya membawa konsekuensi politik sampingan. PDIP dipandang sebagai partai yang ‘melompat ke atas gerbong koalisi partai pendukung SBY-Boediono, tanpa bersusah payah atau berkeringat.’ Ini suatu yang amat buruk bagi citra partai berlambang Banteng, yang mencirikan keberanian, pendirian kuat dan semangat tanpa menyerah. Konsekuensi politik lainnya ialah, para pendukung PDIP tentunya bertanya-tanya, lalu apa artinya persaingan politik di pemilu dan pilpres jika akhirnya bergabung dalam koalisi dengan pesaing politiknya.

Pastinya, PDIP kini bagaikan berada di dalam ‘Sirkuit Kemelut’ berkepanjangan tak berkesudahan. Partai ini juga bagaikan berada di dalam ‘Rumah Kaca’ yang transparan, sehingga berbagai kalangan amat mudah memantaunya. Pertanyaannya ialah, apakah Megawati-dulu ibarat ‘Gadis Jujur’, kemudian menjadi ‘Iron Lady’ kokoh pendiriannya-akan luluh menjadi ‘Bidadari yang dikutuk Dewa dan akhirnya menjadi burung kenari’ akibat perubahan drastis sikap politiknya? Hanya Mega yang dapat menjawab, apakah ‘pdkt’ PDIP dan PD itu akan menjadi kenyataan!

Sumber: Celah (Inilah.com) 10/08/2009

0 Responses to “Pendekatan PDIP dan PD”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: