Persimpangan Golkar

Oleh: Drs. M. Ichsan Loulembah
Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI dan
Anggota Komisi Advokasi dan Pengabdian Masyarakat PP AIPI

SETELAH pemilihan umum anggota legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres), Partai Golkar (selanjutnya disebut Golkar saja), langsung memasuki sirkuit politik yang keras.

Secara umum, ada dua gagasan yang langsung diuji, sekaligus bersaing keras. Pertama: pendapat yang terlanjur menjadi semacam ‘hukum’ bahwa, Golkar dilahirkan untuk berkuasa saja. Kedua: Golkar perlu membangun sebuah citra dengan karakter yang lebih kritis dan otonom.

Pendapat pertama mengartikan, sejarah kelahiran dan perjalanan politik partai yang awalnya didirikan sebagai ‘antitesis’ partai-partai di masa Orde lama ini dirancang semata untuk berkuasa (atau, ikut kekuasaan).

Tumpuan kelompok yang masih mengimani gagasan ini adalah ‘karya dan kekaryaan’ yang doktrinal. Kalimat pendek ini diartikan sebagai semangat berbuat dan berkarya. Politik itu adalah berbuat, bekerja, dan berkarya. Ideologi yang (kira-kira) berada dibelakangnya adalah developmentalisme.

Partai ini awalnya sekadar penopang kelompok-kelompok sipil yang capek dengan pertarungan ideologis keras dan melelahkan antarpartai di era Orde Lama ini; ingin berkiprah di setiap musim kekuasaan.

Dengan kata lain, Golkar belum memiliki karakter dan ideologi kepartaian kuat dalam menjalankan sejumlah rencana politiknya. Karena, menurut mazhab ini, penafsiran doktrin ‘karya dan kekaryaan’ adalah Golkar lebih siap dalam konstruksi politik teknokratik.

Dalam perjalanan sejak lahir, Golkar memang terus menyuplai kadernya dalam kekuasaan; sejak pemerintahan Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, sampai SB Yudhoyono.

Jika semangat teknokrasi politik ini tetap dipegang, akan jauh panggang dari api jika ada yang bisa membelokkannya menjadi partai yang otonom (apalagi oposisi, apapun artinya), dan jauh dari kekuasaan.

Inilah kira-kira inti pandangan pertama yang bertumpu pada penafsiran pragmatik bersandar pada rute kesejarahan Golkar.

Pendapat kedua, sebaliknya. Jika kelompok pertama lebih cenderung pragmatis, maka pandangan kedua menebalkan penafsiran kritis. Konsep kekuasaan diluaskan lebih deskriptif. Karena, kekuasaan dalam pandangan mereka selayaknya dilihat dalam segmen sejarah yang berubah, dan berkembang.

Jika dulu kekuasaan hanya menjadi medan pergulatan elit sosial (termasuk kaum feodal), dan pimpinan partai; politik kini memasuki pasar yang lebih luas. Dulu, para elit berperan dalam fungsi-fungsi permakelaran politik (political brokerage).

Kini, politik, dan pemilu sebagai medan pengujian pokoknya, telah memasuki pasar terbuka. Demokrasi dengan pemilu langsung merubah tantangan pasar politik dan cara-cara menghadapinya. Dan, yang terpokok; meratakan permakelaran politik dalam segala jenis.

Karena yang dibutuhkan oleh pasar politik baru adalah produk politik yang langsung dirasakan oleh konstituen. Sehingga, sebuah partai politik harus memiliki karakter yang kuat, ideologi yang jelas, serta kinerja politik yang mudah dibaca para pemilih.

Oleh kelompok yang meyakini pandangan kedua; untuk memilih menerjemahkan ‘karya dan kekaryaan’ tidak semata ikut kekuasaan, atau ikut berkuasa, dalam kekuasaan eksekutif semata.

Di mata kelompok dengan jalan kritis; kiprah dan kinerja dalam ranah kekuasaan legislatif (di parlemen) tak jauh lebih penting pula. Apalagi melihat kenyataan, jika dulu eksekutif amat dominan; kini banyak produk politik merupakan interaksi antara eksekutif dan legislatif.

Memilih kapolri, panglima TNI, gubernur BI, sampai menunjuk duta besar; dibutuhkan persetujuan parlemen. RAPBN hanya akan menjadi UU APBN setiap tahun jika melewati pembahasan yang ketat di DPR. Dan, banyak hal-hal yang intinya; karya dan kekaryaan dalam politik tidak semata dalam pusaran (dan/atau mengekor) kekuasaan eksekutif semata.

Lagipula, saat memiliki wapres (serta empat menteri) kini, suara Golkar justru merosot. Sebaliknya, saat pemerintahan Gus Dur dan Mega, saat Golkar ‘tidak berkuasa’ di eksekutif, Golkar justru memenangi pemilu.

Kemana kader-kader Golkar melewati persimpangan ini?

Sumber: Celah (inilah.com) 03/08/2009

1 Response to “Persimpangan Golkar”


  1. 1 Kombes.Com Bookmarking August 6, 2009 at 5:47 am

    Blog anda OK Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: