Mohammad Jusuf Kalla

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Sosok tubuhnya pendek untuk ukuran orang Indonesia. Kumisnya mengingatkan saya pada Charlie Chaplin, komedian dunia yang tersohor pada masa lalu. Orangnya amat terbuka pada kritikan yang datang dari mana pun, terlebih lagi dari para pengamat politik dan ekonomi. Gaya bicaranya ceplas ceplos. Meski begitu, Mohammad Jusuf Kalla, atau lebih dikenal dengan JK, adalah orang yang amat ramah setulus hati, bukan basa basi politik.

Gagasan ekonomi dan politiknya amat memukau banyak pihak. Dedikasinya bagi negeri ini sungguh tak terkirakan. JK adalah orang di balik perdamaian di Poso, Maluku, Aceh dan masih tersisa adalah soal Papua. Tak heran jika ada pihak, seperti LIPI dan Universitas Tadulako, ingin memberinya gelar “Bapak Perdamaian Indonesia.” Hanya saja, karena JK seorang saudagar, ada orang yang menilainya rendah, seolah-olah para saudagar hanya mencari keuntungan pribadi.

Dari tiga calon presiden 2009, secara tatap muka saya dulu paling sering berhubungan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), khususnya saat menjadi anggota tim Reformasi Politik di era Presiden BJ Habibie, di mana SBY menjadi koordinatornya. Namun, adalah SBY pula yang mengkoordinasi dan memimpin ‘pengadilan’ terhadap tim peneliti Pusat Penelitian Politik dan Kewilayahan (PPW) LIPI saat tim peneliti berkesimpulan Reformasi Internal TNI bersifat setengah hati.

‘Pengadilannya’ pun di tempat yang sama ketika Tim Reformasi Politik era Habibie berapat, yakni Gedung Bimasena, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tim LIPI yang saya pimpin saat itu diadu domba dengan tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada pimpinan Dr Nasikun yang menyatakan “Rakyat masih mendukung Dwi-Fungsi ABRI.”

Pengadilan yang dipimpin SBY yang saat itu masih Kepala Staf Teritorial ABRI, menghadirkan Wakil Panglima ABRI Marsekal Madya Widodo AS, Kapuspen ABRI Marsekal Muda Graito Husodo, Mayjen Agus Wirahadikusuma, akademisi dan mantan aktivis mahasiswa. ABRI saat itu kurang suka dengan kesimpulan penelitian LIPI dan lebih memuja hasil tim penelitian UGM yang didanai oleh Mabes ABRI. Itu adalah awal ketidaksukaan saya pada SBY yang suka cari muka di hadapan pimpinan ABRI saat itu dan meninggalkan kawan-kawan seangkatannya (Angkatan 73) yang amat reformis.

Ketidaksukaan saya kepada SBY makin bertambah ketika dalam suatu seminar di CSIS, Jakarta, SBY mengatakan “I am a loner in the Cabinet” karena itu tak bisa berbuat banyak untuk menyelesaikan soal Papua. Bagi saya, adalah aneh jika seorang Menko Polhukam menyatakan ‘kesepian’ di kabinet dan tidak dapat berbuat banyak untuk menyelesaikan soal konflik Papua. Soal Aceh juga demikian, saya dan teman dari ProPatria pernah mengusulkan penyelesaian konflik di Aceh, agar Gubernur Abdullah Puteh diganti oleh seorang pejabat gubernur, dan tidak diberlakukan darurat militer di Aceh.

SBY yang saat itu masih Menko Polhukam dengan gayanya yang khas mengucapkan terima kasih karena ada anak-anak muda yang memberikan masukan positif soal Aceh dan berjanji akan membawa masukan kami ke sidang kabinet. Suatu janji yang tidak pernah dilakukan, dan bahkan akhirnya pemerintah menerapkan darurat militer di Aceh.

Dengan JK, saya hanya sempat bertatap muka dan berdiskusi 4 kali. Dua kali bersama para akademisi dan pengamat politik dan dua kali bersama pimpinan LIPI. Di mata saya, JK amat berbeda dengan SBY. Walau di era Presiden Megawati, JK berposisi sebagai Menko Kesra, adalah JK yang aktif menyelesaikan soal konflik di Poso, Maluku dan mengawali penyelesaian konflik Aceh.

Pengabdian JK pada negara amat tulus, siapa pun presidennya. JK tidak punya perhitungan politik apa pun, selain ingin negeri ini sejahtera dan aman. JK juga tidak peduli hasil kerjanya akan menguntungkan bosnya, apakah itu Presiden Megawati atau SBY.

Dalam dua kali pertemuan, saya antara lain mengeritik cara perusahaan listrik di Tentena milik keluarga JK yang ketika merekrut pekerja dari kalangan Islam dan Kristen tidak didahului dengan psikotest, sehingga hasilnya bukan terjadi keakraban di antara dua kelompok yang bertarung di Poso, tapi justru terjadi kerenggangan. Secara tegas JK menerima kritik itu dan akan memperbaikinya di masa depan.

Satu hal mengagumkan dari sosok pribadi JK adalah demokrat sejati. Ia menerima kekalahan pada Pilpres dengan lapang dada. Tak heran bila JK disambut bagai pahlawan ketika pulang kampung ke Makassar minggu lalu. Kini tampaknya JK sungguh amat kesepian di Kabinet. Posisi sebagai Wapres tampaknya tidak dihargai lagi. Ini tampak dari tidak diikutsertakannya JK pada rapat jarak jauh antara Presiden dan para gubernur se-Indonesia. JK juga pergi sendirian ke Banten untuk meninjau percepatan pembangunan kelistrikan, tanpa disertai satu pun menteri dan Direktur Utama PLN.

Meski nanti JK pulang kampung ke Makassar, saya akan tetap menghormati beliau sebagai pemimpin yang merakyat, tegar, demokrat sejati, dan tetap penuh perhatian pada perdamaian dan persatuan. Nama JK tetap terukir sebagai “Pahlawan Perdamaian” di negeri ini.

Sumber: Celah (Iniilah.com) 03/08/2009

1 Response to “Mohammad Jusuf Kalla”


  1. 1 Fathir August 21, 2009 at 4:21 pm

    ya pak JK memang seorang negarawan sejati,itu terlihat dari sikapnya pasca pilpres,ia menerima dngan lapng dada,meski bnyk yg menggunjingnya krna hanya mencari muka tapi saya ykin memang itu dia pak JK seorang negarawan sejati yang berusaha membuat Indonesia lebih baik, saya kecewa pak SBY terpilih hanya karena ia populer , saya sbgi rkyat menilainya sprti itu, lebih bnyk kinerja pak JK dri pd pak SBY slma msa pemerinthn 5 thn.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: