Demokrasi Belum Terkonsolidasi

Oleh: TA Legowo
Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi)
dan Ketua Publikasi PP AIPI

Kompleksitas pasca-Pilpres 2009 menghadirkan pertanyaan tentang kemapanan demokrasi Indonesia yang sudah dibangun selama sepuluh tahun terakhir. Sudah terkonsolidasikah demokrasi Indonesia?!

Dua pemilu sebelum 2009 menumbuhkan harapan kuat dan memberi indikasi bahwa Indonesia selanjutnya pasti mampu mengembangkan praksis demokrasi normal layaknya di negara-negara bertradisi demokrasi mapan.

Kita perlu merenungkan kembali harapan itu sebab aneka indikasi yang baik atas tradisi demokrasi itu kurang dipantulkan oleh seluruh proses Pemilu 2009. Tidak ada satu tahapan pun dalam proses itu berlangsung tanpa masalah: mulai dari persiapan pembentukan KPU baru hingga penentuan dan penetapan hasil Pemilu Legislatif maupun Pilpres 2009.

Ancaman demokratisasi
Belajar dari pengalaman banyak negara di Amerika Selatan dan Eropa bagian selatan sekitar dua dekade lalu, Linz dan Stepan (1996) mengingatkan, demokratisasi di negeri bekas otoritarian tidak bisa dipastikan akan terus bergerak maju tanpa hambatan. Sebaliknya, gerak itu mungkin tersendat, bahkan dapat berantakan.

Dalam pengalaman negara-negara lain, Snyder (2002) memperlihatkan, pemilu yang seharusnya membuahkan kedamaian dan kesejahteraan umum justru sebaliknya, mengantar pada pertumpahan darah karena kuatnya ego-politik pemimpin dan kelompok yang saling berkompetisi.

Banyak syarat harus dipenuhi untuk mencapai demokrasi yang terkonsolidasi sehingga politik—terutama pemilu—dapat mengantar masyarakat menikmati kedamaian dan kesejahteraan. Di antara syarat itu adalah tersedianya lembaga demokrasi seperti parpol, masyarakat sipil, pemilu, pemerintahan terpilih, parlemen yang fungsional, pengadilan independen, disertai aturan-aturan hukum yang adil serta jaminan kebebasan politik dan press.

Tanpa melupakan kelemahan yang menyertai, kerangka kerja politik Indonesia yang dikembangkan/berkembang selama sepuluh tahun terakhir telah menyediakan tata kelembagaan demokrasi itu. Namun harus diakui, kerangka kerja itu belum membentuk suatu sistem politik demokrasi yang utuh serta mempunyai daya laku relatif langgeng dengan kemampuan adaptasi untuk mengakomodasi tuntutan pengembangan diri yang memadai bagi masyarakat yang dilayani.

Ketidakutuhan sistem itu dipantulkan amat kuat dari banyak masalah Pemilu 2009. Banyak pihak terlibat dan mempunyai kepentingan dengan Pemilu 2009, tetapi masing-masing pihak sebenarnya belum bekerja untuk pemilu, tetapi untuk diri sendiri. Akibatnya, masalah yang menimpa satu pihak disikapi bukan sebagai masalah, tetapi keuntungan bagi lainnya.

Sebagai contoh, Pemilu Legislatif maupun Pilpres 2009 meninggalkan sejumlah masalah yang belum terselesaikan. Masalah utama adalah daftar pemilih tetap (DPT) yang jelas merugikan semua warga, Komisi Pemilihan Umum (KPU), parpol dan pasangan capres-cawapres (yang kalah maupun yang menang), dan seterusnya. Namun, tidak semua pihak menanggapi masalah ini dengan sikap yang sama.

DPT bermasalah mungkin merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan peserta pemilu tertentu, misalnya. Namun, ini tidak berarti peserta yang memenangi pemilu terbebas dari masalah ini. Paling kurang, catatan publik tentang pemilu yang tidak beres akan terus menyertai pemenang pemilu dalam menjalankan kekuasaan yang diraihnya.

Tiga dimensi konsolidasi
Masalah pemilu, khususnya dan politik umumnya harus diselesaikan (dikerjakan) dengan sikap dan perilaku yang mengacu pada solidaritas kedaulatan rakyat. Dalam pemahaman ini, rakyat harus menjadi alasan utama dan satu-satunya mengapa politik dan pemilu harus diselenggarakan dengan memenuhi dan mematuhi kaidah-kaidah demokrasi.

Dengan pemahaman itu, sistem politik demokrasi dapat terbangun karena yang diperjuangkan bukan lagi meraih dan menikmati kekuasaan, tetapi melayani dan memperjuangkan pemenuhan kebutuhan dan kepentingan rakyat.

Dengan acuan itu, demokrasi Indonesia amat mungkin untuk terkonsolidasi. Linz dan Stepan memberi ukuran operasional untuk menilai demokrasi yang terkonsolidasi, yakni saat ”democracy has become the only game in town”.

Menjadikan demokrasi satu-satunya aturan main dalam politik tidak cukup dengan membangun dan menata lembaga-lembaga demokrasi, tetapi harus dilengkapi kombinasi tiga faktor: sikap, perilaku demokratis, dan penghormatan pada konstitusi.

Sikap demokratis akan terwujud saat benak masyarakat umumnya dan elite politik meyakini, prosedur serta lembaga demokrasi merupakan satu-satunya cara memadai untuk pengaturan kehidupan bersama di masyarakat, dan tindakan serta lembaga yang tidak demokratis merupakan keprihatinan bersama karena itu harus diselesaikan bersama dan damai.

Perilaku demokratis akan terwujud manakala tidak ada lagi kelompok dan pelaku politik yang berpikir dan menghabiskan waktu, tenaga, dan uang untuk aneka tujuan dengan kekerasan, curang, dan tidak demokratis. Masyarakat tidak mendukung cara-cara itu.

Penghormatan terhadap konstitusi akan terpantulkan saat pemerintah, organisasi-organisasi nonpemerintah, dan anggota masyarakat di seluruh negeri menerima dan terbiasa dengan penyelesaian masalah dan konflik atas dasar aturan dan institusi-institusi tertentu yang ditegakkan dengan dan oleh proses demokratis.

Mengembangkan tiga sikap itu berarti harus mengorbankan ego-politik dari semua pihak yang terlibat urusan politik. Hanya dengan mengorbankan ego-politik, Indonesia akan mempunyai peluang besar untuk memantapkan demokrasinya.

Sumber: Kompas Senin, 3 Agustus 2009

0 Responses to “Demokrasi Belum Terkonsolidasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d bloggers like this: