Kampanye Boleh Panas, Hati Tetap Dingin

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

PEMILU presiden (pilpres) tinggal sembilan hari lagi. Mendekati masa akhir kampanye, terasa betapa suhu politik memanas. Masing-masing pasangan mencoba untuk mendapatkan kredit dari isu yang mereka lontarkan, seraya berupaya mendiskreditkan pasangan lain.

Berbagai isu pun dilontarkan oleh masing-masing pasangan, dari soal agama, badan hukum pendidikan (BHP), tenaga kerja lepas, independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sampai ke soal pembangunan pembangkit tenaga listrik berkapasitas 10.000 megawatt (MW). Gaya lama bentuk “kebulatan tekad” pun berkumandang dari seantero negeri mendukung masing-masing pasangan capres-cawapres.

Penulis sekali lagi mengingatkan agar jangan terjadi “Gajah sama gajah bertarung, pelanduk mati di tengahnya.”Kampanye para calon presiden dan tim suksesnya boleh saja memanas, namun hati rakyat harus tetap dingin.

Para pendukung masing-masing pasangan capres-cawapres jangan sampai menjadi pendukung mati yang terbakar hatinya dan kemudian membuat keonaran, karena hal itu hanya akan merugikan mereka sendiri dan keluarganya, selain memberi citra negatif bagi pelaksanaan Pilpres 2009 itu sendiri.

Biarlah para elite politik bertarung untuk meraih dukungan, namun rakyat harus tetap tenang.Lihat, dengar,dan kajilah berbagi isu yang mereka lontarkan, kemudian simpulkan apakah isu-isu politik yang para elite lontarkan itu benar atau tidak. Hanya dengan itu rakyat menjadi dewasa dalam memutuskan pilihan.

Isu Politik
Salah satu isu yang menyeruak di akhir pekan lalu adalah soal selebaran yang menuduh Herawati, istri cawapres Boediono, beragama Katolik. Selebaran itu beredar saat Jusuf Kalla (JK) melakukan kampanye di Medan, Sumatera Utara. Anggota tim kampanye SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng, menuduh JK bertanggung jawab atas selebaran negatif tersebut dan mengharuskan JK untuk meminta maaf.

Namun apa lacur, ternyata polisi menyatakan bahwa penyebar selebaran gelap itu adalah anggota partainya SBY sendiri (The Jakarta Post, 29/6). Menurut Tempo Interaktif (27/6), penyebar pamflet gelap itu adalah Adi, orang suruhan Wahab Dalimunthe, anggota tim sukses SBY-Boediono.

Ini menunjukkan betapa tim sukses SBY-Boediono ingin mengulang kesuksesan gaya kampanye Pilpres 2004 yang menjadikan SBY sebagai orang yang perlu dikasihani karena diperlakukan sewenang-wenang. Kampanye yang panas juga terkait isu independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Garagara SBY menyatakan “KPK jangan menjadi superbody” dan adanya permintaan presiden kepada BPKP agar KPK diaudit, menimbulkan polemik yang cukup panas bukan saja antara KPK dan BPKP, melainkan juga di antara pasangan capres-cawapres. Mereka yang mendukung independensi KPK menolak BPKP melakukan audit terhadap KPK, karena setiap tahun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mendapatkan laporan rinci mengenai keuangan KPK.

Dalam kasus ini Megawati Soekarnoputri sekali lagi menegaskan bahwa KPK yang didirikan pada 2003 di masa pemerintahannya, harus tetap independen dan didukung penuh oleh pasangan Mega-Prabowo. Isu panas lainnya soal siapa Boediono.

Dalam kampanye di Balikpapan, Kalimantan Timur, capres JK menyatakan bahwa Boediono ketika menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian pernah dimarahi JK gara-gara Boediono menolak membiayai proyek pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW di berbagai daerah terpencil. Boediono pula yang kemudian meminta persetujuan Wapres JK untuk menyetujui pemberian garansi 100% kepada perbankan.

Menurut JK, jika yang terakhir ini dikabulkan, dapat menghabiskan uang rakyat lebih dari Rp200 triliun dan akan menimbulkan kasus BLBI jilid kedua. Daripada uang itu untuk menalangi utang para pemilik bank bermasalah, lebih baik digunakan untuk pembangunan prasarana yang berguna bagi rakyat banyak, termasuk pembangkit tenaga listrik.

Ini pula yang kemudian menimbulkan kesan bahwa Boediono saat itu bukan ketua Panitia Percepatan Pembangunan Prasarana Infrastruktur (P4I), melainkan ketua Panitia Perlambatan Pembangunan Prasarana Infrastruktur.

Dukungan SBY kepada Boediono bahwa ia bertanggung jawab atas keputusan yang dikritik JK tersebut bisa menimbulkan dua hal. Sisi positifnya, SBY sebagai pemimpin mengambil alih tanggung jawab anak buahnya, tapi sisi negatifnya, SBY terkesan mendukung bailout terhadap bank-bank bermasalah yang berarti juga lebih pro orang kaya ketimbang rakyat banyak.

Tujuan Jangan Menghalalkan Cara
Ajakan capres Megawati Soekarnoputri agar semua pihak terus menegakkan demokrasi, merupakan seruan yang amat simpatik. Keinginan menang dalam pemilihan umum, termasuk pemilu presiden- wakil presiden, memang tidak boleh mengorbankan demokrasi.

Cara-cara menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, seperti yang diajarkan oleh sastrawan dan filsuf Italia, Niccolo Machiavelli, bukanlah suatu yang patut dilakukan.Kampanye memang membutuhkan strategi dan taktik politik. Namun, jika itu dilakukan tanpa moral, demokrasi akan rusak dan kemenangan dalam pemilu menjadi suatu yang tak berharga.

Ini berlaku bukan hanya bagi salah satu pasangan yang diberitakan paling sering melanggar fatsun politik dan aturan kampanye, melainkan juga bagi dua pasangan lain. Alangkah manisnya jika salah satu dari tiga pasangan itu menang dengan cara-cara yang jujur dan bermoral, bukan dengan menghalalkan segala cara.(*)

Seputar Indonesia, Selasa, 30 Juni 2009

0 Responses to “Kampanye Boleh Panas, Hati Tetap Dingin”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: