Mengawal Kerja Politik Para Wakil Terpilih

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Diperkirakan sekitar 70 persen anggota DPR hasil Pemilu Legislatif pada 9 April 2009 yang lalu adalah wajah baru. Kecenderungan serupa sangat mungkin terjadi di DPRD propinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia. Mungkinkah kita membayangkan kinerja pemerintahan hasil Pemilu 2009 lebih baik dari sekarang?

Jawabannya, mungkin saja. Apabila kita sepakat bahwa pemilu adalah awal kerja politik lima tahunan setiap polity, baik nasional maupun daerah, maka wajah baru DPR dan DPRD bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan bekerjanya pemerintahan pasca-pemilu. Faktor penting lain yang turut menentukan adalah, apakah kita sebagai warga negara merasa terlibat dan memiliki pemerintahan hasil pemilu atau tidak.

Itu artinya, kerja politik para wakil terpilih di badan-badan legislatif turut ditentukan oleh kepedulian kolektif kita, apa pun bentuknya. Secara hipotetis dapat dikatakan bahwa semakin tinggi keterlibatan warga negara dalam mengawal kerja politik anggota parlemen, maka semakin besar pula peluang terciptanya pemerintahan yang partisipatif, transparan, dan akuntabel. Begitu pula sebaliknya.

Kosong-melompong
Sudah menjadi rahasia umum bahwa para elite politik cenderung berlaku baik menjelang dan di sekitar pemilu. Mereka yang sebelumnya “berjarak” dengan publik, tiba-tiba menjadi begitu familiar dengan masyarakat. Melalui penampilan yang lebih santun dan senyum sumringah yang tak pernah lepas dari bibir, mereka bahkan sering tampil sebagai “sinterklas” yang membagi-bagikan berbagai hadiah, mulai uang tunai, semen hingga pasir untuk perbaikan masjid, dan sembako untuk warga miskin.

Namun tatkala pemilu usai dan kursi-kursi empuk parlemen telah berada di tangan, para wakil rakyat kembali menjadi “mahluk asing” yang acapkali tak begitu peduli dengan nasib rakyat selaku pemberi mandat. Potret perilaku para anggota parlemen pun jauh dari harapan. Ruang sidang yang kosong-melompong menjadi pemandangan sehari-hari rapat DPR di Senayan, Jakarta. Kamera TV dan media cetak bahkan seringkali memergoki sebagian anggota Dewan yang lebih memilih membaca koran, mengirim dan menerima pesan pendek (sms), ber-facebook-ria, atau bahkan tidur, ketimbang mengikuti secara serius jalannya persidangan.

Kantor-kantor partai yang sangat ramai dan meriah menjelang pemilu, seketika juga kosong-melompong begitu pemilu usai. Ironisnya, secara fisik, gedung-gedung parlemen cenderung didesain berjarak dengan rakyat. Perhatikanlah misalnya Gedung DPR Senayan yang dibentengi pagar kokoh setinggi empat meter. Tidak begitu jelas bagi kita, apakah pagar tinggi tersebut dibangun untuk menghindari anarki para pengunjuk rasa atau sengaja didesain supaya rakyat tidak bisa menyentuh dan menjambangi para wakilnya.

Mendidik Para Wakil
Dalam situasi demikian tidak ada pilihan lain bagi kita, berbagai elemen civil society, kecuali terlibat dan melibatkan diri secara intens dalam mengawal kerja politik parlemen. Artinya, bangsa ini bagaimana pun harus “mendidik” para wakil terpilih agar lebih bertanggung jawab melaksanakan mandat sebagai wakil rakyat. Terlalu besar ongkos politik yang harus ditanggung bangsa ini jika demokrasi yang direbut dengan darah para aktivis hanya berhenti sebagai pesta pemilu belaka.

Sangat jelas bahwa masa depan demokrasi dan negeri ini tidak semata-mata terletak di tangan para politisi partai, kaum birokrat di pemerintahan, dan para wakil terpilih di parlemen. Bahkan mungkin terlalu berisiko bagi kita jika membiarkan nasib bangsa ini hanya diserahkan pada mereka yang miskin ide dan imajinasi serta tidak kreatif dalam mengelola perubahan, namun sarat dengan kepentingan pribadi serta kelompok.

Pengalaman 10 tahun terakhir memperlihatkan bahwa masa lima tahun di antara dua pemilu cenderung disalahgunakan oleh sebagian wakil terpilih sebagai “panen raya” dalam arti yang sebenar-benarnya. Betapa tidak, berbagai usulan atau perubahan kebijakan di parlemen, begitu pula seleksi pejabat publik yang menjadi otoritas DPR, justru menjadi ladang suap dan korupsi yang memalukan kita semua. Kasus pengalihan status hutan lindung di sejumlah daerah, perubahan undang-undang tentang Bank Indonesia, proses seleksi Deputi Gubernur Senior BI, adalah beberapa contoh saja di antaranya.

Penumpang Gelap
Komitmen berbagai elemen civil society dalam mengawal demokrasi dan masa depan negeri ini jelas tidak perlu diragukan. Transisi politik dari rejim otoriter Soeharto ke sistem demokrasi pada 1998-1999 bahkan tidak mungkin dijelaskan tanpa peran dan keterlibatan kalangan LSM, mahasiswa, pers, dan akademisi di dalamnya. Dengan dukungan massa rakyat, elemen civil society tidak hanya menyuarakan suksesi dan demokrasi, melainkan juga skema “reformasi total” yang lebih radikal ketimbang yang pernah dipikirkan para elite politik penumpang gelap reformasi.

Karena itu kerja politik mengawal para wakil terpilih pada khususnya dan demokrasi pada umumnya tidak boleh berhenti bersamaan dengan usainya pesta pemilu. Sebaliknya, kerja politik demikian justru baru akan dimulai kembali saat mereka dilantik dan diambil sumpahnya sebagai wakil rakyat. Dalam kaitan ini kerjasama dan konsolidasi segenap elemen civil society diperlukan agar kerja politik mengawal para wakil terpilih berujung pada terbentuknya pemerintahan yang bersih, adil, dan mensejahterahkan rakyatnya.

Kalau tidak, barangkali hampir tak ada yang diperoleh bangsa ini dari pemilu ke pemilu kecuali pesta lima tahunan para elite politik di satu pihak, dan derita rakyat yang tak kunjung berakhir di pihak lain.

Dimuat di Kompas, 19 Juni 2009

0 Responses to “Mengawal Kerja Politik Para Wakil Terpilih”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: