Kampanye yang Memanas

Oleh: Prof. Dr. Maswadi Rauf
Dosen dan Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP UI
dan Dewan Penasehat PP AIPI

Kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 telah memasuki Minggu kedua. Sejauh ini kelihatannya belum ada hal buruk yang terjadi di dalam masyarakat sebagai akibat dari kampanye tersebut.

Artinya, kampanye pilpres sejauh ini tidak menimbulkan keresahan masyarakat akibat adanya tindakan kekerasan dan tawuran antarpendukung pasangan yang bersaing. Dilihat dari kacamata masyarakat, kampanye pilpres kali ini menyejukkan masyarakat karena persaingan yang memanas di antara pasangan tidak ikut dirasakan oleh masyarakat.

Memang begitulah seharusnya aktivitas dalam berdemokrasi (seperti halnya kampanye) berlangsung. Tentu saja masyarakat mengharapkan kampanye Pilpres 2009 akan berlangsung terus seperti itu sampai berakhirnya masa kampanye. Tidak dapat dihindarkan bahwa kampanye pilpres menimbulkan suasana panas di antara pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dan para kader partai yang menjadi pendukung mereka karena persaingan yang semakin menajam.

Saling sindir dan melontarkan kritik sudah dilakukan oleh pasangan-pasangan yang bersaing. Meskipun ada beberapa tokoh yang kurang senang dengan persaingan yang terjadi, pasangan capres dan cawapres masih menunjukkan perilaku yang wajar.

Mereka masih bertindak wajar dalam melontarkan kritik. Oleh karena itu, perilaku dalam kampanye masih dapat diterima, meskipun ada sejumlah orang yang menjadi pendukung pasangan-pasangan tersebut yang merasa tidak enak karena dikritik.

Persaingan dan Kritik
Persaingan dalam kampanye tidak dapat dilepaskan dari kritik. Persaingan tidak saja dilakukan dengan menunjukkan kelebihan- kelebihan program dan kinerja diri sendiri, tetapi juga menunjukkan kelemahan-kelemahan program dan kinerja pasangan lain yang bersaing dalam pilpres.

Dalam menilai program dan kinerja pasangan lain tentu saja tidak dapat dihindari kritik. Kritik harus dilakukan dengan beberapa ketentuan. Pertama, kritik tidak boleh menyinggung masalah pribadi. Kritik haruslah ditujukan pada program yang disampaikan dan kinerja yang sudah ditunjukkan oleh para calon selama ini.

Jadi kritik terkait dengan kebijakan dan pandangan yang bersifat publik.Kelihatannya bangsa Indonesia belum bisa menerima kritik meskipun hal itu ditujukan pada program dan kinerja pasangan capres–cawapres. Kedua, bahasa yang digunakan. Kritik tentu saja tidak layak disampaikan dengan menggunakan kata-kata kasar dan menghina.

Bila hal itu dilakukan, kritik telah berubah menjadi penghinaan dan perlakuan yang tidak menyenangkan yang merupakan tindakan melanggar hukum. Karena kritik adalah salah satu unsur penting dalam demokrasi, tentu saja kritik tidaklah sama dengan tindakan melanggar hukum. Oleh karena itu para politisi harus mampu membedakan antara kritik dan tindakan melanggar hukum.

Dari perkembangan kampanye selama ini terlihat bahwa kritik yang dilontarkan dalam berbagai kegiatan kampanye masih dapat ditoleransi. Kelihatannya tokoh-tokoh politik yang terkena kritik harus lebih membuka diri terhadap kritik sehingga tidak gampang tersinggung oleh kritik-kritik yang dilontarkan.

Terlepas dari masalah jadwal, monolog yang dilakukan pada waktu deklarasi damai minggu lalu seharusnya tidak perlu menimbulkan kegusaran pihakpihak yang merasa terkena kritik karena masih berada dalam batasbatas kewajaran.

Masa Kampanye
Masalah lain yang selalu muncul dalam setiap kampanye adalah masalah masa kampanye. Tidak dapat disangkal bahwa ketiga pasangan capres-cawapres telah melakukan kampanye sebelum masa kampanye yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal ini menimbulkan istilah “mencuri start” dalam kampanye, artinya melakukan kampanye sebelum kampanye dimulai secara resmi.

Namun KPU tidak bisa berbuat apa-apa dengan alasan pasangan capres-cawapres tersebut berkampanye sebelum mereka diresmikan sebagai capres-cawapres. Oleh karena itu masa kampanye perlu dikaji ulang.Yang hanya boleh dilakukan dalam masa kampanye adalah rapat umum,sedangkan yang lainnya (seperti berkunjung ke berbagai tokoh dan organisasi massa, berbicara di depan umum, dan beriklan di media massa yang menganjurkan memilih pasangan bersangkutan) dapat dilakukan di luar masa kampanye.

Penyelenggaraan rapat umum perlu diatur secara khusus sehingga hanya dapat dilakukan selama masa kampanye untuk menghindari keresahan masyarakat. Rapat umum melibatkan massa dalam jumlah besar yang dapat dengan mudah menimbulkan kerusuhan sosial dan gangguan keamanan.Yang juga hanya bisa dilakukan dalam masa kampanye adalah pemasangan alat peraga seperti spanduk, bendera, pamflet, dan sejenisnya.

Dengan pengaturan seperti itu, setiap calon dapat melakukan kampanye kapan saja. Memang benar pendapat yang mengatakan bahwa kampanye dilakukan pada masa antara dua pemilu. Dengan demikian KPU tidak lagi repot dengan tuduhan “mencuri” kampanye dan tuntutan untuk menindak calon yang beriklan di luar masa kampanye.

Karakteristik Kampanye Pilpres
Pengalaman dua kali mengadakan pilpres menunjukkan bahwa partai politik pendukung pasangan capres-cawapres tidak terlibat secara intensif dalam kampanye. Hal ini berbeda dengan pemilu legislatif yang lebih banyak melibatkan partai politik meskipun peranan partai politik semakin berkurang dengan adanya ketentuan pemenang kursi atas dasar suara terbanyak yang digunakan dalam Pilpres 2009.

Oleh karena itu pasangan capres dan cawapres harus terjun langsung dalam kampanye. Bila tidak, kampanye dirasakan kurang meriah.Jadi kampanye pilpres sudah pasti menguras tenaga para capres dan cawapres,padahal semua mereka sudah berusia hampir 60 tahun atau di atas 60 tahun. Diharapkan mereka semua bisa tetap segar bugar setelah berakhirnya masa kampanye.

Oleh karena itu mereka semua perlu menjaga kesehatan dengan menahan diri dalam kampanye dan melibatkan lebih banyak kader-kader partai pendukung dalam kampanye. Karakteristik yang juga muncul dari masa kampanye adalah terbentuknya polarisasi dalam kampanye, yakni kubu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono di satu pihak dan kubu Jusuf Kalla (JK)- Wiranto dan Megawati (Mega)-Prabowo di lain pihak.

Secara alamiah ternyata kubu JK-Wiranto lebih mudah bersatu dengan Mega-Prabowo sehingga kubu SBY-Boediono dikerubuti oleh kedua pasangan lainnya.Kritik-kritik kubu JK-Wiranto hanya ditujukan pada kubu SBY-Boediono. Demikian juga halnya dengan kritik-kritik yang disampaikan oleh kubu Megawati-Prabowo.

Belum pernah terdengar adanya kritik dari JK-Wiranto kepada Mega-Prabowo atau sebaliknya. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena pengelompokan (realignment) sepertiitu adalahhal yang wajar dalam dunia politik yang demokratis. Pengelompokan itu terjadi secara alamiah tergantung pada isu-isu dan perkembangan politik.

Malah banyak yang menduga bahwa bila pilpres harus dilakukan dua tahap dan SBY-Boediono adalah salah satu pemenang tahap pertama, JK-Wiranto dan Mega- Prabowo akan bersatu pada tahap kedua untuk melawan SBY-Boediono. Apa pun yang terjadi, rakyat Indonesia dan elite politik harus menerimanya.Yang penting adalah bahwa Pilpres 2009 tidak menimbulkan gangguan ketenangan dan ketenteraman masyarakat.(*)

Seputar Indonesia, Rabu, 17 Juni 2009

0 Responses to “Kampanye yang Memanas”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: