Menagih Program Konkret Capres-Cawapres

Oleh: Dr. Lili Romli
Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI

Pada Rabu malam kemarin, 10 Juni 2009, KPU menggelar deklarasi kampanye damai tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di Menara Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Deklarasi kampanye damai ini sekaligus menandai dimulainya musim kampanye terbuka (rapat umum) pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) yang dimulai 11 Juni 2009. Masa kampanye pilpres nonrapat umum sebenarnya sudah dimulai tanggal 2 Juni 2009. Kampanye pilpres ini nanti akan berakhir 4 Juli 2009, tiga hari sebelum pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009.

Kampanye merupakan salah satu peristiwa penting dalam pelaksanaan pemilu, termasuk di dalamnya pilpres. Sebagai bagian dari tahapan pilpres, kampanye merupakan ajang penting bagi pasangan capres dan cawapres untuk menawarkan program-programnya kepada masyarakat pemilih (konstituen). Melalui kampanye, rakyat dapat mengetahui tentang program yang diusung tiap kandidat.

Melalui kampanye, pemilih akan melihat diferensiasi program dari tiap kompetitor untuk menarik simpati dan dukungan pemilih. Dengan kampanye, rakyat ingin mengetahui bagaimana mengatasi persoalan bangsa dan negara ini yang tetap masih terpuruk dan tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Kampanye juga merupakan wahana bagi pendidikan politik bagi rakyat. Kampanye merupakan proses transformasi tentang nilainilai politik yang ditawarkan kepada masyarakat.Dengan kampanye, rakyat dapat belajar bagaimana berpolitik secara santun, bermoral, dan beretika.

Melalui kampanye, rakyat mendapat pembelajaran tentang menghormati aturan main yang telah ditentukan. Pendek kata, kampanye merupakan proses pembelajaran untuk pendewasaan dalam berpolitik. Namun, persoalannya, sudahkah dalam kampanye pilpres yang telah berjalan ini kita memperoleh gambaran jelas tentang program-program yang ditawarkan? Sudahkah kita mendapat pendidikan politik dari berjalannya kampanye selama ini? Jawabannya singkat: belum!

Perang Jargon dan Wacana
Bila kita mencermati kampanye yang berjalan selama ini, program-program yang disodorkan oleh tiap pasangan capres dan cawapres belum konkret, masih bersifat general. Belum ada terobosan secara detail dari tiap pasangan capres dan cawapres untuk mengatasi persoalan bangsa dan negara.

Mereka cenderung masih terjebak dalam jargon dan slogan. Celakanya, jargon dan slogan itu lalu yang ditonjolkan dan diulang-ulang. Rakyat tiap hari bahkan tiap jam melalui iklan dijejali jargon-jargon dan slogan-slogan dari tiap pasangan capres dan cawapres. Akhirnya kita menyaksikan perang jargon dan slogan, bukan perang program dari tiap pasangan capres.

Tiap pasangan capres dan cawapres juga cenderung masih terjebak dalam perang wacana. Baru-baru ini misalnya kita disuguhi sajian tentang kasus Prita Mulyasari dan Siti Hajar. Tiap kandidat berebut bicara tentang kedua kasus tersebut, mereka tampak mencoba mencari akar persoalan.

Seharusnya yang dibicarakan adalah persoalan substansi mengapa kasus itu terjadi dan bagaimana mengatasi persoalan itu agar nanti tidak terulang kembali. Dengan demikian, yang muncul dalam kampanye adalah perang wacana, bukan substansi.

Seremonial dan Simbolik
Kampanye yang dilakukan selama ini juga cenderung terjebak pada sifat seremonial dan simbolik. Pasangan capres dan cawapres berlomba-lomba datang ke pasar-pasar tradisional untuk menunjukkan bahwa mereka peduli kepada rakyat kebanyakan.

Mereka juga datang ke tempat-tempat kumuh untuk menunjukkan bahwa mereka peduli dan prihatin atas kondisi yang ada. Namun sayangnya, mereka datang dan mengunjungi tempat-tempat tersebut bukan untuk mengkaji tentang faktor-faktor mengapa pasar tradisional semakin terpuruk dan menelisik mengapa sebagian besar rakyat kita masih terpinggirkan, nasibnya tidak kunjung berubah meski zaman sudah berubah.

Lalu bagaimana untuk mengatasi persoalan tersebut dan apa solusi yang ditawarkan untuk mengatasi persoalan itu? Bila kita amati, tampaknya kehadiran mereka ke tempat-tempat tersebut sekadar “upacara” keprihatinan dan kepedulian, sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka prihatin dan peduli.

Mereka menunjukkan kepada khalayak ramai tentang sikap peduli dan keprihatinan tersebut melalui layar televisi atau berita di koran-koran. Bila kampanye pilpres cenderung terjebak dalam jargon, slogan, sekadar wacana, atau seremonial dan simbolik, kampanye menjadi tidak memiliki makna apa-apa yang terdistorsi dan mencederai hakikat kampanye.

Akhirnya kampanye tidak memberikan pendidikan politik, tidak memberikan pembelajaran dan kecerdasan bagi rakyat. Alih-alih memberikan pendidikan politik, yang terjadi malah sebaliknya, bisa jadi berupa pembodohan politik. Dengan demikian sungguh memprihatinkan: fungsi kampanye menjadi muspra, kehilangan makna substantifnya.

Debat Capres
Kita masih dapat berharap dalam waktu sisa kampanye ini yang sebagian diisi dengan debat capres dan cawapres. Ada lima tema yang diajukan KPU dalam debat capres dan cawapres nanti. Kelima hal itu adalah “Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih”, “Menegakkan Supremasi Hukum”, “Mengentaskan Masyarakat dari Kemiskinan dan Pengangguran”, “ Negara Kesatuan Republik Indonesia, Demokrasi, dan Otonomi Daerah”, “Pembangunan Jati Diri Bangsa”, dan “Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia”.

Dari lima tema itu, tiga untuk debat antarcapres dan dua untuk debat antarcawapres. Kelima tema debat capres dan cawapres itu memang terlalu luas dan masih bersifat umum. Meski yang ditawarkan merupakan persoalan penting yang dihadapi bangsa,tema-tema itu seperti tema dalam seminar atau diskusi. Tampaknya KPU juga terkena penyakit yang sama dengan kampanye pasangan capres dan cawapres.

Untuk itu kita berharap pada debat capres dan cawapres nanti, tiap pasangan tidak terjebak dalam jargon, slogan, dan wacana lagi. Dari tiap tema, mereka mengambil skala prioritas terkait dengan masalah-masalah mendesak yang tengah dihadapi bangsa ini.

Kita juga berharap para moderator debat bisa mengarahkannya ke hal-hal yang detail dan konkret tentang sikap dan kebijakan tiap kandidat. Debat capres dan cawapres jangan sampai bersifat formalitas dan seremonial. Semoga!(*)

Seputar Indonesia, Senin, 15 Juni 2009

0 Responses to “Menagih Program Konkret Capres-Cawapres”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: