Kampanye yang Kurang Bermutu

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

AKTIVITAS pasangan calon presiden- calon wakil presiden (capres cawapres) dapat saja beragam,tapi gaya kampanye mereka terasa monoton dan tidak bermutu. Menyindir, mencontek, melarang penggunaan agama dalam kampanye, serta menyatakan diri paling hebat, adalah empat poin kunci, yang amat menonjol pada masa kampanye Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 ini.

Pasangan nomor urut 1, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dalam kepercayaan etnis Tionghoa melambangkan matahari yang memiliki ego, jiwa kepemimpinan, dan pionir. Entah kebetulan atau mitos, pasangan ini banyak memunculkan gagasan, seperti pemberian komputer kepada institusi pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA sampai ke universitas; penghapusan outsourcing dalam sistem perburuhan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi dua digit melalui penciptaan lapangan kerja di sektor pertanian; dan peninjauan kembali Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) agar anak-anak orang miskin dapat kuliah di universitas-universitas negeri.

Berbagai gagasan pionir dan brilian itu sering disindir sebagai menciptakan mimpi yang sulit menjadi kenyataan.Padahal, untuk mencapai “bintang-bintang di langit” (pencapaian yang amat tinggi) tidak ada salahnya diawali dengan mimpi.Tanpa mimpi, mana mungkin kebangkitan nasional digagas para dokter Jawa pada 20 Mei 1908, atau Sumpah Pemuda bergema pada 28 Oktober 1928— yang membawa Indonesia bersatu dan merdeka menjadi kenyataan.

Pasangan nomor urut 2, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, dipandang melambangkan bulan yang gelap, pengatur, teliti, tekun, dan temperamental. Lagi lagi entah suatu kebetulan atau hanya ilusi rasi bintang semata, SBY dan sebagian tim relawan atau tim suksesnya tidak jarang temperamental dalam menyikapi kampanye dua pasangan lain.

Lihat saja bagaimana SBY selalu mengatakan agar berkampanye dengan santun, jangan menggunakan jargon jargon agama, etnik atau yang termasuk dalam kategori suku-agamaras- antargolongan (SARA), tapi justru SBY, tim sukses dan kalangan internal koalisinya sendiri, yang kerap tidak santun, menggunakan jargon agama, menyindir pasangan lain dengan kampanye keluarga yang harmonis serta melontarkan isu SARA terhadap tim pasangan lain.

Keluarga harmonis dan penuh teladan sesungguhnya dapat dilihat apakah dalam keluarga itu gagasan demokrasi berkembang dan apakah anak-anaknya tumbuh sebagai anak mandiri, yang tidak tergantung pada nama besar orang tuanya. SBY juga suka mengatur agar pasangan lain jangan bicara masalah Ambalat hanya untuk membangkitkan heroisme rakyat. Padahal isu politik luar negeri dan pertahanan Negara adalah isu yang juga seksi pada pemilu presiden kali ini.

Sesuai dengan nomor urut 3, yang melambangkan Venus yang penuh cinta kasih, artistik, romantis dan penuh pengertian, secara kebetulan capres Jusuf Kalla dan pasangannya, Wiranto, amat menonjolkan seni sebagai bagian kampanyenya. Tengok misalnya bagaimana pasangan ini diantar dengan kesenian Tanjidor dan barongsai ala Betawi saat akan menuju Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mengambil nomor urut pasangan capres dan cawapres pada 30 Mei lalu. Aneh tapi nyata, pasangan ini mendapatkan nomor urut 3.

Capres Jusuf Kalla juga suka mengajak pendukungnya untuk menonton pertunjukan musik, baca puisi,dan film. Sesuatu yang artistik dan romantis. Suatu yang membosankan adalah ketiga pasangan dapat dikatakan melontarkan kampanye yang monoton soal isu ekonomi, pendidikan, kebudayaan serta kesejahteraan sosial. Contek-mencontek gaya kampanye juga menjadi hal biasa.

Semua pasangan selalu bicara memperjuangkan rakyat kecil, mungkin karena angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia masih tinggi. Herannya, jika satu pasangan bicara ekonomi kerakyatan, ada pasangan lain yang juga bicara ekonomi kerakyatan, dengan embel-embel lebih konkret gagasannya. Kalau ada cawapres yang naik getek atau rakit bambu di Kali Code,Yogyakarta, lainnya naik sepeda di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, yang katanya sudah menjadi kebiasaannya dan bukan untuk kampanye politik.

Pertarungan Gagasan
Kampanye politik sejatinya adalah pelontaran gagasan-gagasan yang jernih dan substansial, bukan semata-mata pengungkapan citra pribadi dan keharmonisan keluarga sang calon pemimpin bangsa. Jika kita menengok ke belakang, PM Pierre Trudeau—yang memerintah Kanada puluhan tahun lalu—adalah kepala pemerintahan yang sukses walau ia bercerai/ ditinggal pergi istrinya.

Dalam kampanye, gagasan gagasan ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, kesejahteraan sosial, budaya harus dipertarungkan agar rakyat pemilih menjadi semakin cerdas dan tidak lagi dibodohi oleh para elite politik. Gagasan sistem ekonomi neolib atau ekonomi kerakyatan bukanlah suatu yang tabu untuk dipertarungkan. Ia juga bukan kampanye negatif terhadap satu pasangan tertentu, melainkan suatu pencarian alternatif sistem ekonomi lain yang mungkin dapat diterapkan di Indonesia.

Tengok pertarungan gagasan pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) antara Barack Obama dan John McCain saat kampanye pemilu presiden di AS akhir 2008 lalu yang amat mengesankan. Lihatlah bagaimana John Howard dan Kevin Rudd bertarung soal gagasan ekonomi, termasuk sistem perpajakan dan jaminan sosial, saat kampanye pemilu federal di Australia akhir 2007 lalu.

Suatu anomali politik juga terjadi di Australia saat itu ketika PM John Howard yang sukses dengan kebijakan ekonominya, ternyata dapat dikalahkan oleh Kevin Rudd yang baru saja mengambil alih posisi ketua Partai Buruh Australia. Sebaliknya, anomali politik juga kini terjadi di benua Eropa saat partai-partai yang berhaluan sosialis/ kiri ternyata dikalahkan oleh partai-partai kanan di tengah gagalnya sistem ekonomi kapitalis.

Partai Buruh Inggris kini juga sedang menghadapi persoalan internal dan citra yang amat buruk sebagai akibat dari kebijakan ekonomi mereka yang gagal total serta persoalan penghamburan uang rakyat untuk kepentingan pribadi sebagian anggota parlemen dari Partai Buruh (dan Partai Konservatif). Ini berarti, partai-partai sosialis di Eropa Barat tidak mampu memainkan isu ekonomi secara baik. Gagasan-gagasan itu tidak cukup diungkapkan dengan slogan “Lanjutkan!”,“Lebih Cepat, Lebih Baik”, atau “Perubahan” semata, melainkan bagaimana gagasan gagasan itu nantinya diimplementasikan dalam kebijakan nyata pemerintahan mendatang.

Melalui pertarungan gagasan yang jernih dan bernas, kualitas kampanye Pilpres 2009 akan semakin bermutu, rakyat pun semakin mendapatkan pendidikan politik yang baik. Pilihan rakyat pun akan ditentukan oleh gagasan-gagasan mana yang baik bagi masa depan negeri yang kita cintai ini. Jika tidak, kampanye pilpres hanya dipenuhi oleh ejekan, sindiran, atau klaim politik yang tidak bermutu dan membosankan.(*)

Seputar Indonesia, Selasa 9 Juni 2009

0 Responses to “Kampanye yang Kurang Bermutu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: