Mengurai Plus Minus Tiga Capres- Cawapres

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

SABTU (16/5), lengkap sudah tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) didaftarkan oleh partaipartai pendukungnya.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono didukung Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan 18 partai yang tidak lolos parliamentary threshold.

Pasangan Jusuf Kalla (JK)-Wiranto didukung Partai Golkar, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan satu partai yang tidak lolos parliamentary threshold. Adapun pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan tujuh partai yang tidak lolos parliamentary threshold.

Dua hari kemarin (Minggu-Senin), semua pasangan telah melakukan pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, untuk menilai apakah mereka sehat jasmani dan rohani untuk memangku tugas berat kelak sebagai pemimpin bangsa.

Ketiga pasangan itu tentu memiliki keunggulan (plus) dan kelemahan (minus) masing-masing. Tanpa berpretensi apa pun, penulis mencoba menguraikan plus-minus ketiga pasangan capres-cawapres tersebut dari berbagai sisi. Dari sisi jumlah dan persentase perolehan suara serta kursi di DPR hasil Pemilu Legislatif 2009, tampak nyata pasangan SBY-Boediono amat jauh unggul dibandingkan JK-Wiranto yang berada di posisi kedua dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto di posisi ketiga.

Namun, seperti sudah penulis ungkapkan dalam artikel minggu lalu, politik bukanlah matematika meski politik membutuhkan bantuan angka-angka atau hitung-hitungan matematika. Belum tentu pasangan yang didukung partai-partai politik yang memiliki jumlah suara dan kursi yang besar di DPR hasil pemilu legislatif sudah pasti akan menjadi pemenang pada pemilu presiden.

Sejarah Pemilu Presiden 2004 sudah membuktikan, walaupun Partai Golkar dan PDIP berkoalisi mendukung pasangan Megawati-Hasyim Muzadi, ternyata dapat dikalahkan oleh pasangan SBY-JK. Dari sisi brand image yang dilontarkan, pasangan SBY-Boediono awalnya memilih SBY-Berbudi, JK-Wiranto menjadi JK-Win, dan Megawati-Prabowo menjadi Mega- Pro.

Politik memang suatu yang menyenangkan (interesting) dan sekaligus menghibur (amusing). Brand image tiap pasangan pun tak luput dari plesetan politik yang menyenangkan dan menghibur tanpa harus membuat pasangan-pasangan itu marah. Saat pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono dideklarasikan di Sabuga, Bandung, pada Jumat (15/5), ada dua plesetan politik yang muncul dari keisengan masyarakat politik, yaitu “SBY-No” dan “No-No” (diambil dari dua huruf terakhir nama kedua tokoh itu).

Brand image yang dilontarkan saat deklarasi itu ialah “SBY-Berbudi”. Itu pun tak lepas dari berbagai pertanyaan. Kata “Berbudi” bukanlah kata yang dapat berdiri sendiri,“ berbudi” harus ada pasangan katanya, apakah “Berbudi Luhur”, “Berbudi Baik”, atau bahkan “Berbudi Buruk.

”Ada pula pesan singkat yang masuk ke ponsel penulis dengan kalimat “dalam bahasa Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumatera Selatan, kata “berbudi” artinya “berbohong”. Jadi, SBY-Berbudi dapat berarti “SBY-Berbohong”. Belakangan, brand image pasangan ini diubah menjadi SBY-Boediono. Slogan “Mega-Pro” juga diplesetkan sebagai brand image dari satu seri sepeda motor yang ada di Indonesia. Mega-Pro juga dipertanyakan apakah Mega-Pro Rakyat, Mega-Pro Penjualan Aset Negara, atau Mega-Pro Wong Cilik.

Slogan JK-Win yang bombastis dengan kalimat “Lebih Cepat Lebih Baik” juga dipandang kurang menarik para pemilih perempuan karena itu mengandung makna, maaf, ejakulasi dini. Kaum perempuan menginginkan “Lebih Lama Lebih Baik!”

Dari sisi kebijakan ekonomi, hingga saat ini baru pasangan SBY-Boediono yang sudah mengungkapkannya secara ringkas saat Boediono berpidato pada deklarasi pasangan itu. Pasangan ini sangat percaya pada mekanisme pasar walau pasar harus diatur pula oleh pemerintah. Ini untuk menepis anggapan bahwa Boediono adalah penganut neoliberal.

Tidak sedikit orang yang salah mengartikan neoliberal (neolib) sebagai bangkitnya kembali liberalisme. Padahal, neolib adalah aliran ekonomi yang ingin memperbaiki pendekatan liberalisme ekonomi dengan memasukkan unsur-unsur etika di dalam kebijakan, implementasi atau permainan ekonomi di lapangan.

Persoalannya, siapa atau berapa persen rakyat Indonesia yang menjadi pelaku pasar finansial di Indonesia? Kebanyakan dari mereka adalah kaum berpunya (the haves) yang jumlahnya tak lebih dari 1%. Mereka yang berada di sektor ekonomi riil justru terabaikan dan bagaimana pula nasib 99% rakyat Indonesia yang tidak bermain di pasar finansial (the have not)?

Bangunan ekonomi kerakyatan yang ingin dibentuk pasangan Mega-Pro juga masih belum jelas. Apa bentuk ekonomi berdikari di tengah arus globalisasi ekonomi, apakah itu pengejawantahan dari menutup pasar Indonesia dari pelaku ekonomi asing, ataukah itu kelanjutan “ekonomi benteng”gagasan begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo (ayah Prabowo Subianto) pada 1950-an atau ekonomi Pancasila gagasan Prof. Mubyarto?

Bangunan ekonomi yang akan dibentuk pasangan JK-Win juga belum jelas konsepnya, termasuk bagaimana memeratakan pembangunan pembangkit listrik agar ada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Dari sisi politik luar negeri juga belum jelas ke mana arah politik luar negeri Indonesia yang bukan lagi “mendayung di antara dua karang” seperti dilontarkan Bung Hatta pada awal era Perang Dingin, melainkan “berlayar di antara banyak karang/rintangan” yang dikonsepkan oleh SBY pada awal pemerintahannya.
Apakah ASEAN akan tetap menjadi corner stone (batu sendi) politik luar negeri RI atau kita sudah akan menjadi pemain di wilayah Asia Pasifik atau bahkan mondial? Bagaimana pula pandangan kita mengenai kawasan Eropa Utara dan Timur Tengah? Politik luar negeri memang sesuatu yang elitis yang sulit dipahami khalayak awam.

Namun sepak terjang politik luar negeri kita akan menentukan bukan saja arah, melainkan juga tujuan akhir dari pelaksanaannya. Singapura yang bukan negara Islam adalah negara yang memiliki perhatian besar dalam upayanya menarik dana atau berkolaborasi dengan negara-negara Timur Tengah. Singapura adalah negara tempat dialog ekonomi ASEAN-Timur Tengah berlangsung.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong juga amat terkesan pada ekonomi syariah yang ternyata mampu bertahan di tengah krisis ekonomi dunia. Persoalan Timur Tengah bukan hanya persoalan Palestina yang selalu diusung PKS. Palestina juga bukan soal agama, melainkan soal kemerdekaan.

AS di bawah Presiden Barack Obama kini juga sudah mengemukakan adanya dua negara merdeka, Israel dan Palestina. Bagaimana pula pandangan Indonesia soal ditahannya kembali tokoh demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi? Dari sisi pelanggaran HAM di masa lalu,Wiranto dan Prabowo selalu menjadi sasaran tembak para pegiat HAM.

Pertanyaannya, adakah jenderal TNI AD era Soeharto yang terlepas dari pelanggaran HAM atau bersih dari “politik ketakutan” yang represif pada masa lalu? Bagaimana pula dengan persoalan daftar pemilih tetap (DPT) yang suka atau tidak suka menimbulkan pandangan bahwa SBY sebagai presiden adalah orang yang juga ikut bertanggung jawab atas “pelanggaran HAM” yang terkait dengan demokrasi di mana sekitar 20 juta orang kehilangan hak-hak politiknya sebagai warga negara pada Pemilu Legislatif April 2009 lalu?

Soal DPT ini juga masih diragukan apakah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pemerintah serius untuk menanganinya? Jangan-jangan pemutakhiran DPT itu berjalan tak normal seperti pemilu legislatif lalu. Ini berbahaya bagi citra pemilu luber dan jurdil itu sendiri.

Tiga pasangan capres/cawapres memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Semua kembali kepada para pemilih, apakah dapat memilih sesuai dengan hati nurani dan pikiran yang jernih ataukah terpengaruh oleh politik pencitraan atau juga politik uang yang bukan mustahil akan terjadi kembali? (*)

Seputar Indonesia, Selasa, 19 Mei 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/239693/38/

1 Response to “Mengurai Plus Minus Tiga Capres- Cawapres”


  1. 1 ADE June 19, 2009 at 10:38 am

    KAYAK NYA ISI TULISAN SANG PROFESOR LIPI INI NGGAK BERIMBANG…..TULISANNYA LEBIH BERAT KE SBY, DAN MENYISIHKAN CALON LAIN……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: