Tak Bersama Kita Pun Bisa

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum. Kini giliran segenap anak negeri mencermati, mengenali, menimbang, dan akhirnya memilih yang terbaik di antara mereka. Adakah harapan baru bagi Indonesia lima tahun ke depan?

Secara matematis koalisi partai politik pendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono jauh lebih besar dibandingkan Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati-Prabowo. Selain didukung lima parpol lolos parliamentary threshold (PT) 2,5 persen (PD, PKB, PKS, PAN, PPP), Yudhoyono-Budiono turut didukung pula oleh 18 partai gurem gagal PT. Sedangkan Kalla-Wiranto dan Mega-Prabowo masing-masing didukung oleh dua parpol basis politik capres dan cawapres, Golkar-Hanura serta PDI Perjuangan-Gerindra.

Akan tetapi politik bukan matematika. Seperti terjadi pada Pilpres 2004 putaran kedua, koalisi besar pendukung Megawati-Hasyim Muzadi dikalahkan secara telak oleh Yudhoyono-Kalla yang diusung partai-partai kecil. Fenomena yang sama bisa saja terjadi pada Pilpres 2009 mendatang.

Menghitung Kalla
Meskipun berbagai survei mengkonfirmasi tingkat elektabilitas Yudhoyono–dipasangkan dengan siapa pun—relatif tinggi, bukan berarti tidak ada peluang bagi Kalla-Wiranto dan Mega-Prabowo. Fakta bahwa Partai Demokrat –yang dikibarkan identik dengan sosok Yudhoyono—hanya mampu meraih 20,5 persen suara dalam pemilu legislatif, jelas mengindikasikan masih cukup lebarnya peluang para pesaing Yudhoyono. Pertanyaannya, apakah kedua pasangan capres-cawapres yang tak diunggulkan ini mampu mengemas janji-janji perubahan yang lebih baik dan realistik dibandingkan Yudhoyono-Budiono.

Rekam jejak Kalla sebagai saudagar yang lugas, tangkas, cepat dan responsif cukup menjanjikan kemampuan merumuskan agenda perubahan yang lebih baik dan terukur ketimbang Yudhoyono. Sulit dipungkiri bahwa sosok Kalla adalah seorang administrator yang lebih mengenali persoalan dibandingkan Yudhoyono yang sangat priyayi, lamban, tertib, dan penuh upacara. Persoalannya, apakah cara Kalla dan model kepemimpinan yang melekat pada diri saudagar Bugis ini bisa diterima oleh mayoritas anak negeri yang populasi terbesarnya terkonsentrasi di Jawa?

Mungkin di sinilah tantangan terbesar Kalla. Yakni kemampuan meyakinkan publik bahwa ke depan bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar pandai menjaga citra dan mematut diri, melainkan juga tangkas dan cerdas mengelola persoalan negeri. Pekerjaan rumah Kalla lainnya adalah kemampuan menjernihkan secara publik tuduhan pelanggaran HAM yang acapkali dialamatkan kepada sosok Wiranto

Menimbang Megawati
Di samping harus “membersihkan” nama Prabowo yang diduga terlibat dalam penculikan para aktivis HAM periode 1997-1998, beban berat Megawati dalam menantang kembali Yudhoyono adalah mengemas citra publik bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan ini bukan sekadar anak biologis Soekarno. Itu artinya, Megawati perlu lebih serius merumuskan paket perubahan yang visioner dari sekadar orientasi janji “sembako murah”.

Keterbatasan kemampuan Megawati dalam mengartikulasikan ideologi Soekarno perlu dicarikan jalan keluarnya agar tidak tergagap menghadapi ketangkasan Kalla dalam merespons isu-isu strategis dan kepiawaian Yudhoyono mengklaim keberhasilan pemerintahannya. Jika benar Megawati-Prabowo hendak mengusung solusi ekonomi kerakyatan misalnya, harus ada kepastian bahwa agenda besar tersebut tidak terperangkap sebagai jargon kosong yang tidak terukur.

Oleh karena itu tantangan terbesar Megawati bukan semata-mata menyaingi popularitas Yudhoyono dan mengimbangi ketangkasan Kalla, melainkan juga mentransformasikan diri sebagai anak ideologis Soekarno. Pikiran-pikiran brilian Soekarno tentang demokrasi ekonomi misalnya, perlu diaktualisasikan kembali sebagai bagian dari paket solusi ekonomi kerakyatan yang ditawarkan Megawati-Prabowo.

Pertaruhan Kehormatan
Terlepas dari kekurangan yang melekat pada setiap pasangan capres dan cawapres, pertarungan Pilpres 2009 bisa jadi lebih menarik dibandingkan Pilpres 2004. Betapa tidak, setiap capres dan cawapres memendam “balas dendam” politik satu sama lain. Yudhoyono dan Kalla yang semula berduet kini justru berduel merebut RI-1. Sementara itu capres daur ulang pilpres putaran kedua 2004, Megawati dan Yudhoyono, adalah “musuh bebuyutan” yang hendak membuktikan popularitas masing-masing.

Sedangkan Kalla dan Megawati yang sempat bersama-sama sejumlah elite politik lain mendeklarasikan koalisi besar parlemen, juga saling bersaing merebut kepercayaan anak negeri. Tak kalah menarik adalah cawapres Wiranto dan Prabowo yang pernah berseteru hebat pasca-lengsernya Soeharto, berebut simpati di tengah kampanye masif para aktivis menolak para pelaku pelanggaran HAM berat.

Karena itu Pilpres 2009 bukan semata-mata pertarungan merebut posisi politik tertinggi negeri ini, melainkan juga pertaruhan kehormatan antara Yudhoyono-Kalla-Megawati. Sebagai pertaruhan kehormatan, maka ukurannya bukan semata-mata menang atau kalah. Yang tak kalah penting bagi ketiga orang capres tersebut adalah menunjukan secara publik bahwa “tak bersama kita pun bisa”.

Semoga saja nasib dan masa depan negeri ini turut melatari pertaruhan kehormatan itu. Kalau tidak, maka tak ada lagi yang patut diriwayatkan dari pemilu kecuali karut-marut para elite politik saling memperdayai di antara mereka.

Dimuat di Kompas, 18 Mei 2009.

0 Responses to “Tak Bersama Kita Pun Bisa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: