Menakar Kekuatan Capres dan Cawapres

Oleh: Dr. Lili Romli
Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI

Pemilihan presiden dan wakil presiden 8 Juli 2009 nanti dipastikan diikuti oleh tiga pasang calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), yaitu M Jusuf Kalla-Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Soebianto. Dari ketiga pasang capres-cawapres, masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan. Tulisan singkat ini mencoba memaparkannya.

JK-Wiranto
Pasangan ini secara institusional didukung oleh dua partai politik, yaitu Partai Golkar dan Hanura, serta beberapa partai kecil. Pasangan yang mengusung tema “lebih cepat lebih baik” ini memiliki beberapa kekuatan yang bisa jadi menjadi bahan pertimbangan publik untuk menjatuhkan pilihan dalam pilpres nanti.

Pasangan ini mencoba merepresentasikan Jawa dan luar Jawa di mana Wiranto mewakili unsur Jawa, sedangkan JK sebagai representasi luar Jawa. Persoalannya apakah Jawa dan luar Jawa ini kemudian masih memiliki magnet yang kuat untuk menjadi daya tarik dan pertimbangan para pemilih? Partai Golkar sebagai partai lama dengan infrastruktur yang kuat bisa menjadi mesin politik yang kuat bagi pasangan ini. Struktur partai yang sudah mapan sampai ke desa-desa bisa menjadi kekuatan yang besar untuk menggerakkan dan memobilisasi massa untuk mendukung pasangan ini.

Namun persoalan yang dihadapi adalah adanya perpecahan di internal Partai Golkar itu sendiri. Alih-alih saling bahu-membahu, mereka memberikan dukungan ke pasangan lain. Hal ini nyata kita lihat di mana sebagian elite Golkar memberikan dukungan terhadap pasangan lain. Beberapa pengurus DPD I dan DPD II juga tidak solid dalam mendukung JK-Wiranto. Perpaduan antara praktisi ekonomi dan praktisi politikus militer dapat juga menjadi bahan kampanye bagi pasangan ini.

Dengan menunjukkan bukti peran JK selama menjadi wakil presiden mendampingi Presiden SBY dalam kebijakan ekonomi dan di balik kesuksesan pemerintahan sekarang, hal itu dapat menjadi daya tarik buat publik, dengan catatan bila tim pasangan ini bisa meyakinkan publik. Kepemimpinan Wiranto yang dikenal tegas dan berani dapat melengkapi kepemimpinan JK yang cepat dan tanggap. Kendala yang dihadapi pasangan ini adalah faktor figur dengan tingkat popularitas dan elektabilitas relatif rendah. Meski JK merupakan wapres, ternyata elektabilitasnya masih rendah. Posisi Wiranto sebagai cawapres juga mendapat tantangan dari kalangan aktivis HAM terkait dengan masa lalunya.

SBY-Boediono
Pasangan ini didukung oleh 23 partai politik, terdiri atas lima parpol di parlemen (Partai Demokrat, PKS, PPP, PAN, dan PKB) serta 18 parpol nonparlemen (PBB, PBR, PDS, PKPI, PKPB, PPRN, PDP, PPPI, Partai Republikan, Patriot, PNBKI, PPI, Pelopor, PKDI, PIS, PPIB, dan PPDI). Dengan demikian, pasangan ini memegang rekor terbanyak dalam jumlah dukungan.

Bila semua partai yang mendukung tersebut bergerak, kekuatan pasangan ini akan berlipat ganda. Di antara para kandidat yang menjadi capres, capres SBY memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi sehingga tidak aneh bila kemudian banyak orang mengatakan bahwa SBY dipasangkan dengan siapa pun akan tetap menang. Di sini figur SBY sebagai kata kuncinya. Oleh karena itu, ketika dipasangkan dengan Boediono, sosok SBY yang tetap ditonjolkan.

Perhatikan slogan yang diusung: SBY-Berbudi, bukan SBY-Boediono. Kritik yang muncul terhadap pasangan ini adalah kurang memperhatikan unsur Jawa dan luar Jawa. Namun bagi pasangan ini,untuk merepresentasikan Jawa dan luar Jawa bukan terletak pada figur capres dan cawapres, tetapi pada kebijakan dan concern politiknya. Ini terlihat dari simbolisasi pada waktu deklarasi di mana pembaca deklarasi berasal dari luar Jawa, yaitu Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi, dan pembaca doanya berasal dari Sulawesi Selatan.

Sementara sosok Boediono, yang dianggap sebagai ekonom neoliberalisme, bisa menjadi amunisi bagi kompetitor untuk menyerang pasangan ini. Beberapa partai pendukung koalisi sempat berang dan mengancam akan keluar dari koalisi. Menangkis berbagai kritikan tersebut, Boediono menekankan pada saat pidato deklarasi pasangan ini bahwa dia akan tetap memperhatikan ekonomi kerakyatan.

Mega–Prabowo
Pasangan Mega-Prabowo diusung oleh sembilan partai politik. Dua partai politik di parlemen (PDIP dan Gerindra) dan tujuh partai nonparlemen (PNI Marhaen, PKP, Partai Buruh, Partai Merdeka, Partai Kedaulatan, PSI, dan PPNUI). Basis politik kedua pasangan ini adalah kalangan grass root. Megawati mempunyai massa loyal kalangan wong cilik.

Begitu juga dengan Prabowo yang concern terhadap ekonomi kerakyatan.Programprogram yang bersifat populis bisa menjadi daya tarik bagi publik yang mayoritas masih terhempas dengan kemiskinan. Bila program-program yang ditawarkan diterima oleh publik, pasangan ini bisa menjadi kuda hitam. Majunya Megawati sebagai capres bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi titik lemah. Kekuatannya, majunya Mega merupakan bentuk komitmen dan kesungguhan yang besar untuk tetap membela wong cilik.

Namun, hal itu bisa menjadi titik lemah bila ada yang beranggapan bahwa dia masih “penasaran” ingin menjadi presiden kembali. Kendala lain adalah berkait dengan sosok Prabowo yang banyak ditentang oleh kalangan pegiat HAM berkaitan dengan masa lalunya.

Melipatgandakan Dukungan
Mengacu pada survei-survei yang dilakukan berbagai lembaga, prediksi yang akan keluar sebagai pemenang dalam pilpres adalah pasangan SBY-Boediono. Survei terakhir yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), misalnya, memprediksi bahwa pasangan ini akan memenangi pertarungan tersebut meski pasangan cawapresnya bukan berasal dari luar Jawa.

Bila prediksi ini terbukti, dengan demikian faktor Jawa-luar Jawa menjadi tidak relevan dan hanya sebatas mitos. Bisa saja prediksi itu berubah manakala pasangan JK-Wiranto atau Mega-Prabowo berhasil melipatgandakan dukungannya. Jika slogan JK-Wiranto “lebih cepat lebih baik” atau tema kampanye Mega-Prabowo yang menginginkan perubahan dengan ekonomi kerakyatan diterima dan diyakini oleh publik akan membawa perubahan lebih baik, bukan tidak mungkin kondisinya akan berbalik. Banyak faktor yang mendorong pasangan pilpres dapat keluar sebagai pemenang.

Dalam pemilihan langsung, faktor figur memegang peran sentral. Namun, tidak cukup hanya figur, perlu ada faktor-faktor lain seperti faktor political marketing, pencitraan, mesin politik, modal, dan jaringan. Bila faktor-faktor ini dimiliki oleh para kandidat, peluang menang akan terbuka lebar. Pemilihan langsung memang tidak seperti hitung-hitungan dalam matematika yang semuanya serbapasti.

Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi di tengah-tengah pemilih yang masih cair dan swing voters yang relatif tinggi. Dengan kondisi seperti itu, semua pasangan memiliki peluang yang sama untuk keluar sebagai pemenang. Kemungkinan kompetisi pilpres akan berjalan sengit. Tiap kandidat akan menerapkan strategi masing-masing untuk berusaha mencari simpati dan dukungan pemilih. Dalam konteks itu, kita berharap, kompetisi berjalan fair dan demokratis. Semoga! (*)

Seputar Indonesia, Senin, 18 Mei 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/239180/

0 Responses to “Menakar Kekuatan Capres dan Cawapres”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: