Dilema SBY

Oleh: Dede Mariana
Dosen FISIP dan Pascasarjana Unpad dan Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Bandung

Hampir dua minggu terakhir pemberitaan media cetak dan elektronik diramaikan wacana dan teka-teki soal siapa yang akan dipilih SBY untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden (cawapres) di dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) Juli 2009. Berbagai analisis dan spekulasi bermunculan ikhwal figur cawapres yang paling mendekati lima kriteria yang diajukan SBY beberapa waktu yang lalu. Di samping lima kriteria, ada tambahan prasyarat lainnya, yakni memiliki chemistry yang bagus, yang bisa membuat nyaman bekerja di dalam menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan. Siapa orang nya dan dari mana orang itu berasal, Partai Demokrat menyerahkan sepenuhnya kepada SBY untuk memutuskannya meski secara formal partai juga membentuk tim.

Sebagai antisipasi diperlukannya dukungan DPR di dalam pembuatan dan implementasi kebijakan pemerintah pascapemilu presiden, seandainya pasangan SBY memenangi pilpres, digalanglah upaya mengusung pasangan SBY oleh beberapa partai politik yang dianggap dapat bekerja sama di DPR dan di dalam kabinet yang akan dibentuk kelak. Langkah inilah sejatinya yang mengundang analisis dan spekulasi tentang siapa cawapres yang paling cocok sesuai kriteria untuk mendampingi SBY seandainya diambil dari partai politik.

Merebaklah wacana koalisi antara Partai Demokrat dan PKS, PAN, dan PKB. Hal wajar, bila ketiga parpol mitra koalisi PD berharap ada kadernya jadi cawapres mendampingi SBY. Ada dua nama yang dinominasikan, yakni Hidayat Nur Wahid dari PKS dan Hatta Rajasa dari PAN. Namun, wajar pula bila SBY memiliki penilaian subjektif terhadap calon-calon yang diajukan parpol mitra koalisi, misalnya menyangkut kemungkinan konflik kepentingan dan kemungkinan kecemburuan antarparpol mitra koalisi seandainya dipilih salah satu dari calon yang diajukan.

Kekhawatiran tersebut seharusnya tidak perlu terjadi, seandainya SBY dan timnya secara terbuka kepada publik dan parpol mitra koalisi. Misalnya, argumen bahwa pemerintahan yang ingin dibangun pascapilpres adalah sistem presidensial yang kuat, namun dikontrol DPR secara berimbang (check and balances). Sayang argumen ini tidak terlalu mengemuka kepada publik daripada soal bagi-bagi kekuasaan antarparpol pengusung.

Spekulasi kemungkinan SBY memilih figur nonparpol sebagai cawapres akhirnya mengemuka. Dari sejumlah nama yang disebut, mengerucut kepada Boediono, yang saat ini menjabat Gubernur Bank Indonesia. Boediono dianggap figur netral dari kalangan teknokrat. Lagi-lagi spekulasi dan analisis latar belakang dipilihnya Boediono, tampaknya lebih kepada pertimbangan kenyamanan bekerja karena dapat bebas dari conflict of interest, kemampuan koordinasi dalam menjalankan pemerintahan, dan kemungkinan efektivitas pemerintahan pascapilpres.

Dalam konteks ini, SBY sebagai figur dianggap menjadi faktor penentu utama di luar tawaran program dan mesin politik. Tentu sikap ini harus diwaspadai karena opini belum tentu sesuai dengan fakta pilpres nanti. Memang fakta objektifnya, elite politik di luar SBY telah gagal di dalam menilai berbagai kelemahan incumbent untuk meningkatkan citra mereka dan akhirnya memengaruhi pilihan politik di dalam pilpres nanti. Misalnya, bahwa fakta kondisi ekonomi rata-rata rumah tangga masyarakat yang relatif memburuk, langkanya lapangan kerja, dan gelombang pemutusan hubungan kerja akhir-akhir ini sebenarnya akibat buruknya kinerja pemerintahan yang sedang berjalan.

Sebaliknya, kubu SBY dan Partai Demokrat, tampaknya dapat meminimalkan kekurangan pemerintahannya dan memaksimalkan capaian kinerjanya yang pas-pasan tersebut dengan bantuan konsultan media di dalam pencitraan kepada publik. Inkonsistensi publik pemilih dan keterbatasan akses publik terhadap berbagai informasi yang sebenarnya tentang kinerja pemerintahan incumbent merupakan faktor lain yang membantu pencitraan SBY jadi lebih baik.

Tentu kelemahan-kelemahan kinerja pemerintahan saat ini, sebenarnya masih dapat didalami para penantang SBY. Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang sudah lebih dahulu mendeklarasikan sebagai pasangan capres-cawapres masih ada waktu untuk melakukan upaya-upaya maksimalisasi informasi kepada publik tentang kinerja pemerintahan SBY.

Memang bagi pemilih kritis berbasis ideologi, terutama ideologi ekonomi neoliberal, memilih JK-Wiranto atau SBY-Boediono adalah sama saja. Tinggal pilihannya, mana di antara keduanya yang bisa memberi manfaat lebih besar bagi kemakmuran rakyat. Misalnya, komitmen pemberantasan KKN, penyelesaian utang luar negeri, strategi pengelolaan BUMN yang lebih baik, dan berorientasi kepada kepentingan perekonomian nasional, serta skema-skema program ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Munculnya pasangan capres/cawapres lain, umpamanya Megawati-Prabowo, bisa jadi alternatif lain.

Deklarasi Partai Demokrat tentang pasangan capres/cawapres yang akan diusungnya akan dilakukan Jumat (15/5) ini di Bandung. Siapa pun akhirnya yang dipilih SBY, Boediono, Hidayat Nurwahid, ataukah Hatta Rajasa, paling tidak keduanya harus bersiap-siap menjadi negarawan yang tidak lagi hanya memikirkan kepentingan partai politiknya masing-masing, namun lebih mementingkan dan memikirkan bangsa secara keseluruhan dan mampu memberi harapan kepada publik bahwa kehadiran mereka seandainya terpilih benar-benar dapat memberi harapan terciptanya kehidupan bangsa lebih baik. Semoga.***

http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade tail&id=75269

0 Responses to “Dilema SBY”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: