Membaca Koalisi PDIP dan Partai Demokrat

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
dan Ketua II PP AIPI Periode 2008-2011

UNGKAPAN “dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi, melainkan kepentingan yang abadi” tampaknya berlaku juga dalam politik Indonesia.

Ini juga memperkuat anggapan bahwa politik adalah seni berbagai kemungkinan. Dalam sepekan terakhir, terjadi pendekatan yang serius mengenai kemungkinan akan bergabungnya PDIP ke dalam koalisi yang sedang dibangun Partai Demokrat. Persoalan harga diri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terpaksa dikesampingkan demi terbentuknya bangunan koalisi besar pemerintahan mendatang jika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih kembali pada Pemilu Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009.

Bagi penggagas, pendukung, atau kader PDIP yang prokoalisi baru ini, pendekatan antara PDIP dan Demokrat membuka peluang bagi PDIP untuk masuk ke dalam pemerintahan mendatang. Sebaliknya, bagi mereka yang kontra, koalisi ini merendahkan harga diri Megawati Soekarnoputri dan harkat PDIP yang selama lima tahun terakhir beroposisi terhadap pemerintahan SBY-Kalla. Ini juga menunjukkan betapa elite politik di PDIP sudah mengaku kalah sebelum bertanding.

Dilema Politik
Pilihan PDIP akan masuk dalam koalisi besar bersama Demokrat atau dengan Partai Golkar memang pilihan sulit. Ibarat makan buah simalakama, jika PDIP menjadi bagian dari koalisi besar bersama Demokrat, ini bukan saja menafikan harga diri Ketua Umum PDIP dan harkat partai, melainkan juga dukungan para konstituen partai walau sebagian elite partainya akan bergelimang kekuasaan.

Jika tetap bersiteguh membangun koalisi dengan Partai Golkar-Hanura-Gerindra, ini dapat menjadi bangunan kekuatan partai-partai nasionalis plural walau untuk itu harus siap menjadi oposisi selama lima tahun ke depan (2009–2014). Bagi kalangan yang pragmatis dan realistis, opsi pertama menjadi pilihannya. Sementara bagi mereka yang idealis, opsi kedualah yang terbaik. Pendekatan antara PDIP dan Demokrat disebabkan beberapa faktor. Dari sisi PDIP, pertama, berlaku slogan it’s now or never.

Jika PDIP tidak masuk ke dalam kekuasaan, sulit bagi partai ini untuk meraih kekuasaan di masa depan.Kedua, deklarasi capres dan cawapres Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) mengakibatkan PDIP kehilangan kawan untuk membangun koalisi nasionalis yang besar. PDIP sulit membangun koalisi dengan Partai Gerindra bukan saja karena adanya pencitraan di sebagian masyarakat bahwa sebagian kecil tokoh di Partai Gerindra tersangkut pelanggaran HAM, melainkan juga PDIP dan Partai Gerindra tidak memiliki modal politik kuat untuk mengusung capres dan cawapresnya.

Apalagi ada persoalan di antara kedua partai itu mengenai siapa yang akan menjadi capres dan siapa yang akan menjadi cawapres. Dari sisi Megawati, seorang konstitusionalis yang amat memegang teguh keputusan partai, ia harus menjadi capres, sedangkan Prabowo Subianto menjadi cawapresnya. Sebaliknya, dari sisi Partai Gerindra, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto menjadi capres dan Megawati atau putrinya, Puan Maharani, menjadi cawapres.

Dari sisi Demokrat, berpisahnya Partai Golkar dari koalisi bersama Partai Demokrat menimbulkan kekhawatiran bahwa koalisi Demokrat-PKS-PKB-PPP dan kemungkinan PAN dipandang banyak kalangan, termasuk calon pemilih, koalisi ini sangat sarat dengan ideologi Islam. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi Demokrat dan SBY selain berupaya keras untuk mendekati PDIP agar mau berkoalisi dengannya. Jika PDIP masuk ke dalam koalisi, bukan saja citra Islam akan meluntur, melainkan juga akan terbangun kekuatan mayoritas mutlak di parlemen mendatang.

Di satu sisi, koalisi ini memang akan memperkuat sistem presidensial walau tidak ada jaminan itu mutlak akan terjadi jika kita becermin pada koalisi-koalisi besar sebelumnya di era Reformasi ini. Di sisi lain, terlalu besarnya kekuatan koalisi di parlemen yang segaris dengan eksekutif menimbulkan kekhawatiran akan mandulnya parlemen dalam menjaga sistem checks and balances antara eksekutif dan legislatif.

Lebih jauh lagi, ini dapat menjurus ke masa Orde Baru di mana parlemen hanya “tukang stempel” kebijakan eksekutif.Tidak sedikit orang awam atau bahkan pengamat politik yang memandang bahwa pengajuan hak angket, hak interpelasi atau hak tanya hanya mengganggu kebijakan pemerintah, padahal itu suatu hal yang normal dalam sistem demokrasi. Oposisi juga bukanlah barang haram dalam sistem demokrasi.

Bukan Matematika
Politik tidaklah sama dan sebangun dengan hitung-hitungan matematika meski dalam politik pendekatan angka, ilmu pasti atau kuantitatif juga digunakan. Masuknya PDIP ke dalam koalisi besar bersama Demokrat tidak otomatis memperbesar dukungan rakyat atas pasangan capres dan cawapres yang diajukan koalisi ini, apakah itu pasangan SBY-Boediono, SBY-TK (Taufik Kiemas), SBY-Hatta Rajasa atau SBY-AT (Akbar Tandjung).

Bukan mustahil para pendukung PDIP (atau partai-partai lain yang berkoalisi) justru tidak mendukung pasangan yang diajukan koalisi ini karena kepentingan dan atau pilihan politik mereka terabaikan. Masuknya PDIP ke dalam koalisi juga membuat gerah partai-partai politik yang sudah lebih dulu ingin berkoalisi dengan Demokrat. Bukan saja karena kesempatan mereka untuk mengajukan kadernya sebagai cawapres sirna, melainkan juga karena jatah kursi yang akan mereka peroleh di kabinet menjadi berkurang.

Di saat Demokrat masih sibuk membangun koalisi besar, Partai Golkar dan Partai Hanura justru sudah selangkah di depan membentuk tim sukses pasangan JK-Win. Simpati tampaknya juga semakin bertambah kepada pasangan JK-Win yang jadi underdog dan seolah “terkepung” bangunan koalisi besar yang akan dibentuk Demokrat. Ini kebalikan dari situasi dua pekan sebelumnya. Rakyat pemilih tentu tidak buta politik.Idealisme politik bukanlah pandangan kuno kaum puritan meski untuk mempertahankannya mereka harus berada di luar kekuasaan.(*)

Seputar Indonesia, Selasa, 12 Mei 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/237718/38/

0 Responses to “Membaca Koalisi PDIP dan Partai Demokrat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: