Pencalonan Kalla dan Medan Permainan yang Berubah

Oleh: Prof. Dr. Bahtiar Effendy
Pengamat Politik UIN Jakarta dan Dewan Pengawas PP AIPI
Periode 2008-2011

Bayangkan jika duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) –Jusuf Kalla benar-benar terjadi. Hampir dapat dipastikan banyak pihak yang akan senang.

Mayoritas pemilih bakal bungah semringah. Pelaku dunia usaha akan merasa nyaman. Tak terkecuali para pollster karena kerja saintifik mereka akan sekali lagi terbukti. Pangkal dari ini semua adalah anggapan bahwa pasangan SBYKalla potensial memenangi pemilihan presiden, bahkan mungkin dengan mudah.

Hampir tak ada calon capres-cawapres lain yang mampu menandingi popularitas dan elektabilitas SBY-Kalla. Berbagai hasil polling mengisyaratkan hal ini. Kemenangan SBY-Kalla dipersepsikan sebagai jaminan bagi kontinuitas pemerintahan dan/ atau stabilitas kebijakan.

Akan tetapi, banyak pula yang berpendapat bahwa jika SBYKalla maju sebagai pasangan capres- cawapres, pemilihan presiden Juli mendatang diduga menjadi peristiwa politik yang kurang menarik, miskin gereget. Pemilihan presiden dipandang semata-mata sebagai sesuatu yang rutin, bukan sebagai mekanisme pergantian kepemimpinan (elite circulation) yang penuh dengan political sparks dan element of surprise.

Oleh karena itu, muncul kekhawatiran bahwa kegairahan masyarakat dalam memberikan suara mereka bakal turun. Penilaian seperti ini bukan didasarkan oleh rasa keberatan terhadap pasangan SBY-Kalla, tetapi lebih oleh pandangan bahwa siapa yang akan keluar sebagai pemenang merupakan sesuatu yang tidak sulit untuk ditebak.

*** Putusan Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) Partai Golkar 23 April lalu membuyarkan angan-angan di atas. Rapat yang menghasilkan putusan bahwa Kalla dimajukan sebagai calon presiden dari Partai Golkar menutup kemungkinan SBY-Kalla berpasangan (lagi) sebagai capres-cawapres.

Tentu, ini bukan keputusan politik mendadak. Sebagaimana diketahui banyak pihak, sikap politik ini muncul sebagai akibat dari kegagalan negosiasi dua partai, Partai Demokrat dan Partai Golkar. Bagi kalangan di luar Partai Demokrat dan Partai Golkar, putusan ini menimbulkan dampak yang berbeda.

Banyak pihak, terutama para pimpinan partai yang mempunyai kecenderungan untuk tidak menjalin komunikasi atau bergabung dengan Partai Demokrat, merasa menemukan peluang baru. Para pengamat juga merasa adanya kegairahan baru. Pisahnya Kalla dari SBY di satu pihak dan munculnya Kalla sebagai capres di pihak lain telah membuat medan permainan (playing field) dinamis dan melebar.

Ini terbukti setidaknya dengan munculnya upaya-upaya koalisi baru. Jika semula, ketika usaha untuk memasangkan lagi SBY-Kalla masih berlangsung, banyak pihak menduga bahwa pemilihan presiden hanya akan diikuti oleh dua calon: SBY dan Megawati. Pasangan SBY-Kalla akan membentuk koalisi besar:

Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Kebangkitan Bangsa, ditambah dengan sejumlah partai yang tidak lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Meskipun belum pasti, terbuka kemungkinan Partai Amanat Nasional akan bergabung dengan apa yang oleh Anas Urbaningrum disebut sebagai “koalisi jembatan emas”(the golden bridge coalition).

Di pihak lain, Megawati akan membangun koalisi dengan unsur-unsur utama PDIP, Gerindra, Hanura, dan Partai Persatuan Pembangunan. Tidak tertutup kemungkinan, partai-partai yang tidak lolos parliamentary threshold, khususnya mereka yang kecewa dengan pelaksanaan pemilu, bakal memperkuat kelompok ini. Dengan munculnya Kalla sebagai capres, medan permainan (playing field) berubah.

Awalnya memang ada usaha hanya menciptakan satu koalisi besar untuk mengimbangi SBY. Hal ini tampak ketika Kalla kembali menjalin komunikasi politik dengan Megawati. Banyak pihak menilai ini bukan proyek politik yang mudah. Bahkan, banyak yang memperkirakan bahwa agenda politik ini cenderung gagal.

Alasan utamanya terletak pada kenyataan bahwa baik Kalla maupun Megawati samasama ingin menjadi capres. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Partai Golkar maupun PDIP, upaya ini tampaknya tidak akan diteruskan.

Megawati bakal menjadi capres dengan dukungan sejumlah partai seperti disebut di atas. Sementara itu Partai Golkar akan mencari jalannya sendiri untuk merealisasikan apa yang sudah menjadi putusan rapimnasus.

*** Tidak mudah bagi Partai Golkar untuk mengamankan putusan politiknya. Partai ini tidak mungkin berjalan sendirian karena perolehan suaranya (sekitar 14%) tidak memenuhi syarat untuk mencalonkan presiden (20% kursi atau 25% suara). Mencari partai-partai lain untuk diajak bergabung juga bukan perkara mudah. Sebab, kendati tidak ada yang mutlak dalam politik, bangunan koalisi relatif sudah terbangun.

Ada kabar, konon Partai Hanura potensial untuk bergabung dengan Partai Golkar. Wiranto, Ketua Partai Hanura, merupakan salah seorang yang aktif menjalin komunikasi dengan Megawati. Adanya isyarat dari PDIP bahwa Megawati mungkin bakal mengajak Prabowo Subianto,Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, sebagai cawapres bisa menjadi pendorong Wiranto untuk bergabung dengan Partai Golkar.

Dengan perolehan Hanura sekitar 4%, ditambah dengan partai- partai kecil yang bersedia, persyaratan pencalonan akan terpenuhi. Demikianlah, jika apa yang telah diutarakan di atas merupakan kenyataan yang sebenarnya, pemilu presiden akan diikuti oleh tiga kontestan: SBY, Megawati, dan Kalla. Dengan tiga calon presiden, pemilihan bisa berlangsung satu putaran.

Bila hal itu terjadi, bukan mustahil SBY keluar sebagai pemenang. Tentu pandangan ini mengacu pada hasil-hasil polling yang selalu menampilkan SBY sebagai tokoh dengan tingkat popularitas dan elektabilitas tertinggi. Akan tetapi, jika tiap kandidat tidak ada yang mendapat dukungan 50% lebih, putaran kedua harus dilakukan, dengan diikuti oleh dua peraih suara terbesar.

Dalam skenario demikian, sekali lagi, SBY diperhitungkan menjadi salah seorang yang ikut dalam pemilihan tahap kedua. Jika pemilihan presiden mengharuskan putaran kedua, konfigurasi medan permainan juga berubah. Sulit dipastikan ke mana dukungan capres yang tidak masuk dalam putaran kedua bakal diarahkan.

Semangat dan pengaruh sikap pragmatis potensial untuk mendorong pihak yang telah kalah untuk bergabung dengan pihak yang paling besar perolehan suaranya. Lagi-lagi jika hasil polling dijadikan ukuran, ini berarti bahwa dukungan dari pihak yang perolehan suaranya paling sedikit pada putaran pertama akan diberikan pada SBY.

Tidak mustahil hal ini akan memberi dorongan psikologis bagi SBY untuk memenangkan pemilihan presiden. Akan tetapi, jika pragmatisme dan oportunisme politik tidak terlalu diperhitungkan, dan sebaliknya keinginan untuk mendapatkan pimpinan baru yang menjadi perhatian, ada kemungkinan endorsement politik dari pihak yang memperoleh suara terkecil diberikan kepada pihak yang memperoleh suara nomor dua, yang diduga bukan SBY.

Sama dengan cara berpikir di atas, hal ini akan menjadi dukungan psikologis yang sangat penting untuk memenangkan pemilihan presiden. Meskipun berbeda, hal ini sedikit memiliki kemiripan dengan fenomena pemilihan Gubernur DKI. Bergabungnya kekuatan-kekuatan politik non-PKS menjadi faktor penting bagi kemenangan Fauzi Bowo atas Adang Dorojatun.

Apa yang diutarakan hanyalah salah satu dari sekian banyak pandangan politik yang bisa dikemukakan. Meski bersifat subjektif dan mungkin spekulatif dalam artian bisa saja tidak menjadi kenyataan, hal tersebut didasarkan atas informasi- informasi yang terus berkembang. Satu hal yang pasti adalah bahwa analisis di atas tidak mungkin dibuat jika SBY berpasangan dengan Kalla.

Lebih dari itu, lepasnya posisi cawapres bagi Kalla ikut membuat tiap pihak memerlukan waktu lebih panjang untuk mengumumkan siapa yang akan menjadi pasangan-pasangan mereka di dalam pemilihan presiden nanti.(*)

Seputar Indonesia, Selasa, 28 April 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/233638/

0 Responses to “Pencalonan Kalla dan Medan Permainan yang Berubah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: