Pelajaran Berharga Jusuf Kalla

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Hampir dapat dipastikan, Jusuf Kalla (JK) tidak akan dipilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pendampingnya pada Pilpres 2009. Dalam acara khusus di Puri Cikeas, 19 April 2009, nuansa kalimat yang digunakan SBY menunjukkan tidak ada tanda-tanda akan melanjutkan duet SBY-JK.

Mari kita simak beberapa kalimat penting dalam dialog itu. Koalisi yang akan dibangun bukan atas dasar ideologi melainkan persamaan visi mengenai masa depan bangsa. Di sini tampak, betapa SBY amat takut jika ternyata Golkar tidak bergabung dengan Partai Demokrat, koalisi yang dibangun SBY ditengarai oleh banyak kalangan sebagai koalisi yang bertaburan partai Islam.

Untuk meredam tuduhan itu, maka jauh-jauh hari SBY mengesampingkan faktor ideologi itu. Padahal di mana pun, pemerintahan koalisi selalu bersendi pada kesamaan ideologi, hanya di Indonesia saja yang agak aneh. Pada era Demokrasi Parlementer dan Reformasi kabinet yang dibangun hampir selalu kabinet pelangi.

Kalimat tentang cawapres juga sangat penting untuk disimak. Beberapa butir penting antara lain: SBY hanya ingin didampingi cawapres berakhlaq dan bermoral. Tokoh itu bukan pragmatis dan oportunis.

Ini jelas SBY tidak menyukai tokoh yang berganti pendirian politik. Kalimat berikutnya, tidak ada pembagian kerja antara Presiden dan Wapres seperti dikatakan pengamat politik selama ini tentang SBY dan JK di mana presiden katanya berwenang di bidang politik dan keamanan, sementara wapres di bidang ekonomi.

SBY tidak ingin Wapres dapat melakukan rapat dengan para menteri dan/atau memiliki agenda sendiri. Karena sesuai UUD 1945, Presiden adalah Kepala Negara dan Kepala pemerintahan yang bertanggungjawab penuh atas jalannya pemerintahan negara. Sementara Wapres dan para menteri hanyalah pembantunya. Dengan kata lain, Wapres hanyalah “ban serep” yang tidak boleh menonjol. Kalimat terakhir soal cawapres yang menarik ialah SBY menafikan adanya “dua matahari”.

Dari kalimat itu jelas menunjukkan “penolakan” SBY terhadap gagasan Golkar yang akan mengajukan kembali JK cawapres. Jika demikian adanya, ada baiknya JK meninjau usahanya mendapatkan dukungan DPP dan DPD I Partai Golkar pada Rapimnassus mendatang. Lebih baik suara DPD II juga didengar yang bersikukuh agar JK tetap menjadi capres. Ini sesuai dengan kampanye JK, yaitu “Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut ke Belakang” dan “Jika saya terpilih menjadi Presiden, saya akan lebih cepat, lebih baik dari pendahulu saya.”

JK dan Golkar sepatutnya jangan surut ke belakang. Adalah lebih bermartabat dan terhormat bagi JK dan Golkar untuk berani memajukan JK sebagai capres. Kata-kata JK pasca Rapat Konsultasi DPP dan DPD I serta Rapat Harian DPP Partai Golkar 16-17 April lalu yang mengatakan “kita realistis Golkar hanya memperoleh kurang dari 20% suara dan karena itu tidak akan maju sebagai capres” dan “Golkar akan berkoalisi dengan partai yang akan memenangi pemilu presiden 2009” dianggap konstituen dan tentunya juga SBY bahwa JK dan Golkar plin-plan dan oportunis!

Kalimat “Partai Golkar hanya akan berkoalisi jika itu menguntungkan Partai Golkar dan koalisinya” juga dapat dipandang prasyarat politik yang sulit diterima SBY dan PD.

Dari hasil pertemuan Amien Rais dan SBY akhir pekan lalu serta kalimat di Cikeas itu, jelas SBY menginginkan tokoh yang tidak mengancam eksistensi orang nomor satu. Ini memang gaya Soeharto yang tidak mau ada “matahari kembar,” atau menjurus ke gaya, maaf, otoriter karena tanpa pengimbang di kabinet.

Kalau orang itu berakhlaq dan bermoral politik serta loyal pada SBY, bukan mustahil tokoh yang disebut itu adalah Hatta Radjasa yang kini Mensesneg dan juga kader PAN. Hatta adalah satu dari tiga cawapres atau calon menteri yang diusulkan PAN, dua lainnya adalah Ketua Umum Soetrisno Bachir dan Amien Rais, walau Amien tak mau ikut dalam pertarungan meraih jabatan capres ataupun cawapres.

Daripada dipermalukan SBY dan PD, sebaiknya JK mengurungkan niat menjadi cawapres. Masih ada tiga opsi baginya: pertama, tetap maju sebagai capres bertarung melawan SBY, walau mungkin akan kalah. Kekalahan itu amat terhormat dan demi menjaga martabat diri, keluarga dan partainya.

Kedua, mundur dari politik, kembali ke fitrahnya sebagai pengusaha dan pulang kampung ke Makassar. Makassar adalah pintu dan jendela kemajuan pembangunan kawasan timur Indonesia. Pulang kampung bagi JK kalau kalah juga lebih baik dibandingkan dengan pulang kampung jika SBY kalah, sebab Makassar lebih prospektif secara ekonomi ketimbang Pacitan.

Ketiga, JK dapat memosisikan diri sebagai warga negara biasa yang terhormat jika ia bersama tokoh partai lain memperjuangkan terungkapnya kecurangan Pemilu 2009.

Adalah JK, dan bukan tokoh-tokoh yang bergabung di rumah Megawati, yang pertama kali berani mengatakan “ada indikasi kecurangan dalam pemilu.” Ini sesuai dengan mantera politik JK selama ini, “di mana pun saya bisa mengabdi pada bangsa, tidak harus sebagai wakil presiden atau presiden!”

Sumber: Celah, inilah.com, 20 April 2009

http://www.inilah.com/berita/celah/2009/04/20/100217/pelajaran-berharga-bagi-jusuf-kalla/

0 Responses to “Pelajaran Berharga Jusuf Kalla”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: