Peta Baru Koalisi Pilpres

Oleh: Prof. Dr. Syamsuddin Haris
Profesor Riset Ilmu Politik LIPI dan Sekjen PP AIPI

Kekalahan telak Partai Golkar atas Partai Demokrat dalam pemilu legislatif tampaknya akan mengubah sikap partai beringin menghadapi pemilu presiden (pilpres) mendatang.

Tanda-tanda bahwa Golkar hendak merapat kembali ke kubu calon presiden (capres) Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin jelas. Apa dampaknya bagi peta koalisi Pilpres 2009? Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Khusus Golkar yang digelar pada akhir April 2009 ini akan memastikan apakah Golkar mengajukan capres sendiri, berkoalisi kembali dengan Demokrat dan Presiden SBY atau bergabung dengan Megawati. Namun dengan perolehan suara sekitar 14–15% pemilu legislatif, Golkar tampaknya tidak cukup percaya diri untuk mengusung capres sendiri.

Apalagi Ketua Umum PDIP Megawati mulai merancang koalisi baru di luar skenario Golden Triangle (Golkar- PDIP-PPP) seperti digagaskan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali. Di sisi lain, kemenangan Demokrat juga mendorong partai-partai menengah seperti PKS dan PKB lebih merapat ke SBY ketimbang ke Kalla. Dalam waktu dekat PAN kemungkinan besar juga akan turut bergabung dengan Demokrat dan SBY daripada berkoalisi dengan PDIP dan Golkar.

Peta Baru Koalisi
Konsekuensi logis dari pergeseran aliansi antarpartai pascapemilu legislatif itu adalah kemungkinan semakin mengentalnya dua kubu capres, yakni SBY dan pasangannya serta Megawati dengan pasangannya.

Meski belum jelas siapa calon wakil presiden (cawapres) kedua kubu, peta koalisi antarpartai tampaknya semakin jelas. Seperti dikemukakan Ketua Dewan Pertimbangan PDIP Taufik Kiemas, Partai Gerindra pimpinan Probowo Subianto dan Partai Hanura pimpinan Wiranto tampaknya cenderung memilih Megawati ketimbang SBY. Namun, persoalannya, akumulasi suara PDIP (14–15%), Gerindra (4–5%), dan Hanura (3–4%) belum mencukupi untuk memenuhi persyaratan UU Pilpres, yakni minimum 25% perolehan suara secara nasional atau 20% kursi DPR.

Namun PDIP masih membutuhkan tambahan dukungan dari salah satu partai agar dapat mengajukan Megawati sebagai capres. Satu-satunya parpol yang kemungkinan akan “ditendang” oleh SBY dari koalisi yang akan dibentuknya adalah PPP. Manuver politik Suryadharma yang antara lain menggagaskan koalisi Golden Triangle bisa menjadi kendala keinginan partai Kakbah berlabuh kembali dengan SBY.

Oleh karena itu, koalisi PDIP, Gerindra, Hanura yang mengusung capres Megawati kemungkinan besar akan berhadapan dengan koalisi Demokrat, PKS, PKB, dan PAN yang mengusung capres SBY. Dalam peta koalisi seperti ini, Golkar sangat mungkin lebih memilih SBY ketimbang Megawati. Upaya Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla berkomunikasi intensif dengan SBY dua hari yang lalu mengindikasikan hal itu.

Bumerang bagi Kalla
Skenario SBY untuk menunda meminang Golkar hingga pemilu legislatif berlangsung tampaknya cukup berhasil.Pernyataan publik Kalla akan kesediaannya menjadi capres kini menjadi bumerang bagi Golkar pada umumnya dan saudagar Bugis tersebut pada khususnya.

Perolehan suara Golkar yang merosot sangat signifikan dalam pemilu legislatif menjadi sumber gugatan elite politik partai beringin lain terhadap Kalla. Dalam posisi sebagai peraih suara kedua atau ketiga pemilu legislatif,Golkar kini tidak lagi menentukan arah koalisi. Sebaliknya, Kalla justru tampak panik ketika PKS, PKB, dan PAN semakin merapat ke SBY dan Gerinda serta Hanura mengindikasikan bergabung dengan Megawati. Daripada ditinggalkan kereta SBY, Kalla pun segera meluncur ke Cikeas, Bogor, Senin malam yang lalu.

Satu-satunya partai yang lolos parliamentary threshold yang belum jelas posisi politiknya adalah PPP. Jika Golkar (14–15% suara legislatif) hanya mengandalkan dukungan PPP (5–6%), jelas tidak cukup untuk mengusung pasangan capres seperti diamanatkan UU Pilpres. Maka tidak ada pilihan lain bagi Golkar kecuali bergabung kembali dengan SBY. Pertanyaan besarnya, apabila SBY menerima kembali Golkar, apakah jenderal kelahiran Pacitan tersebut masih memercayai Kalla sebagai cawapres?

Pilpres Tidak Menarik
Konsekuensi peta baru koalisi capres tersebut adalah berlangsungnya satu putaran pilpres sehingga pada awal Agustus 2009 bangsa kita telah memiliki presiden terpilih, lebih awal dua setengah bulan dibandingkan Pemilu 2004.

Presiden SBY hampir pasti akan berhadapan kembali dengan Megawati dalam posisi berbeda dibandingkan Pilpres 2004 putaran kedua. Jika pada pilpres putaran kedua 2004 Megawati dalam posisi incumbent, kini status incumbentberada di tangan SBY. Oleh karena itu, Pilpres 2009 sebenarnya tidak begitu menarik karena capresnya merupakan “daur ulang” pilpres putaran kedua 2004.

Juga hampir bisa dipastikan bahwa SBY akan memenangi kembali pertarungan Pilpres 2009 dan kubu Megawati kembali menjadi kekuatan oposisi di DPR. Pertanyaan tersisa tinggallah, siapa yang akan dipinang SBY sebagai cawapres untuk menghadang Megawati yang mungkin memilih Prabowo Subianto sebagai cawapresnya? Saya menduga Presiden SBY tengah berpikir keras soal ini.

Namun saya juga tidak yakin bahwa bapak mertua Annisa Pohan ini akan memilih Kalla atau Hidayat Nur Wahid. Oleh karena itu, dua di antara kemungkinan yang akan dipilih SBY adalah, pertama, mencari tokoh Golkar di luar Kalla yang memiliki tingkat elektabilitas relatif tinggi. Paling kurang ada dua nama yang mungkin menjadi pertimbangan SBY, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Akbar Tandjung.

Namun mengingat riak-riak konflik yang pernah terjadi antara Sultan dan SBY berkenaan dengan status keistimewaan Yogyakarta dan keinginan Sultan menjadi capres ketimbang cawapres, peluangnya bisa direbut Akbar Tandjung. Kedua, SBY memilih tokoh nonpartai seperti Pelaksana Tugas Menko Perekonomian Sri Mulyani. Namun pilihan atas Sri berisiko karena SBY memperhitungkan resistensi partai-partai di satu pihak dan kebutuhan dukungan politik DPR di lain pihak.

Oleh karena itu, cawapres pendamping SBY tampaknya akan turut ditentukan hasil Rapat Konsultasi Nasional DPD Golkar tadi malam serta Rapimnas Khusus Golkar yang akan digelar pada 23 April 2009. Siapa pun yang memperoleh mandat Golkar berpeluang mendampingi SBY pada periode 2009–2014 mendatang.(*)

Seputar Indonesia, Jumat,17 April 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/230585/

0 Responses to “Peta Baru Koalisi Pilpres”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: