Menimbang Langkah Politik JK Selanjutnya

Oleh: Firman Noor , MA
Peneliti Pusat Kajian Politik UI, Alumnus ANU Australia,
serta anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan Ilmu PP AIPI

Hasil pemilu legislatif memang belum dapat dipastikan. Begitu pula dengan waktu penetapan hasilnya yang masih lama. Namun, berdasarkan hasil perhitungan cepat beberapa lembaga survei papan atas nasional, terlihat adanya kecenderungan yang sama mengenai posisi tiga besar.

Dari hasil penghitungan cepat itu Partai Demokrat menempati posisi teratas dengan kisaran 19–21%. Sementara posisi kedua saling susul antara Partai Golkar dan PDIP dengan kisaran suara 14–15%. Hal yang menarik adalah data perhitungan tersebut telah mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia Timur, tempat yang selama ini dikenal sebagai lumbung suara Partai Golkar. Dengan demikian, kemungkinan bahwa posisi partai ini akan bertahan pada posisi kedua (atau malah ketiga) terbuka lebar.

Situasi ini jelas berimplikasi bagi posisi Jusuf Kalla (JK) dalam upayanya maju sebaga iorang nomor satu di negeri ini. Hal ini mengingat hasil pemilu legislatif jelas menentukan tidak saja dalam hal komposisi keanggotaan badan legislatif, tetapi juga dalam konteks tawar menawar politik pada pemilihan presiden. Hasil Pemilu 2009 yang jauh dari prediksi kalangan dekat JK jelas telah menyulitkan kiprah politik sang Wapres.

Karena itu, tidak berlebihan jika keputusan mantap untuk ”bercerai” dengan SBY pra-Pemilu 2009 dirasa terlalu prematur dan bahkan merupakan blunder politik seorang JK. Terlepas dari itu, dalam kondisi yang tidak terlalu menguntungkan ini, langkah politik apa yang kemungkinan akan diambil JK, jelas merupakan hal yang menarik untuk dikaji.

Tiga Skenario
Skenario pertama adalah tetap melanjutkan hasil keputusan kolektif Partai Golkar yang secara jelas menyilakan JK untuk bertarung dalam merebut kursi kepresidenan. ”Skenario kepalang basah” ini merupakan langkah berani yang layak ditempuh bagi JK untuk menunjukkan komitmennya sebagai seseorang yang berniat baik dalam membuat perubahan melalui ”tangannya sendiri”.

Dalam upayanya ini, JK jelas harus memanaskan mesin politiknya sedini mungkin sembari menjajaki secara taktis berbagai peluang koalisi dengan partai-partai gurem, termasuk terus membina hubungan baik dengan berbagai partai menengah. Di atas kertas, skenario paling heroik ini memiliki kemungkinan berhasil yang relatif minim.

Hal ini mengingat figur JK sendiri yang secara objektif harus diakui kurang menjual di mata khalayak untuk duduk dalam posisi presiden dan kenyataan pula bahwa kantong-kantong riil suara Golkar di Indonesia Timur secara umum hanya menyumbang sekitar 20% suara saja dari total suara.

Di sisi lain tawaran untuk berkoalisi mungkin akan mendapatkan respons bagi sebagian partai, tetapi secara umum jelas tidak mudah mengingat beberapa partai menengah seperti PKS, PAN, dan PKB telah mulai menunjukkan komitmennya untuk terus melanjutkan hubungan harmonisnya dengan SBY. Ceritanya mungkin akan lebih baik jika JK mampu meyakinkan Megawati untuk menjadi wapres.

Namun hal ini jelas memerlukan satu syarat mutlak, yakni suara PDIP berada di bawah Partai Golkar, dan tim lobi JK memang benar-benar andal hingga mampu meyakinkan Megawati bahwa keberadaannya dalam posisi RI-2 tidak akan sia-sia bagi karier politik Mega dan bagi PDIP di kemudian hari. Namun jika hal yang terjadi adalah sebaliknya, suara PDIP lebih besar ketimbang Golkar, tentu langkah lobi ini akan sulit di-lakukan atau justru akan mengarah pada dua skenario berikutnya.

Skenario kedua adalah melanjutkan dan memperluas koalisi dengan PDIP serta partai menengah dan gurem lain dalam koalisi golden triangle dengan menempatkan dirinya tetap sebagai wakil presiden. Skenario ”segitiga emas plus” ini merupakan langkah yang cukup realistis diambil JK, terutama jika Golkar hanya meraih posisi ketiga. Dalam skenario ini kemungkinan untuk tetap eksis dalam pucuk pimpinan negeri ini dan mendapatkan posisi-posisi strategis pemerintahan lebih terbuka dan lebih baik ketimbang JK maju sebagai capres.

Untuk mewujudkannya, Golkar, PDIP, dan partai-partai pendukung harus bekerja ekstrarapi dan disiplin, terutama dalam melakukan pendekatan baik kepada elite maupun akar rumput. Meski demikian, dengan menimbang preseden Pemilu 2004 berupa kokohnya figur SBY sebagai sosok presiden dan di sisi lain tidak terlalu menjualnya figur Megawati di mata rakyat kemungkinan keberhasilan koalisi ini tetap tidak besar.

Di sisi lain, kemungkinan Megawati beralih ”ke lain hati” cukup terbuka mengingat berdasarkan hasil beberapa survei posisi JK sebagai wapres hanya kuat manakala berpasangan dengan SBY. Kemungkinan Megawati tergoda untuk membuat komitmen dengan Sri Sultan, Akbar Tanjung, atau Prabowo bukan tidak mungkin terjadi pada menit-menit akhir. Skenario ketiga adalah skenario ”kembalinya si anak hilang”. Skenario ini adalah yang paling pragmatis, tetapi dengan kemungkinan meraih keberhasilan paling besar (jika itu berarti kembali menduduki posisi penting di negeri ini).

Hal ini mengingat bahwa SBY diprediksi banyak kalangan akan meraih kemenangan dalam pilpres tahun ini. Kemenangan Partai Demokrat yang cukup spektakuler sejatinya adalah kemenangan SBY. Sementara tidak ada figur tandingan yang dapat menjadi lawan serius baginya. Skenario ini tetap mungkin dijalankan JK mengingat karakter SBY yang tidak kaku dan menganut konsep ”harga mati”.

Karakter ini berbeda misalnya dengan Megawati atau Gus Dur yang sulit memaafkan kesalahan seseorang dengan tulus. Apalagi jika JK mampu meyakinkan presiden bahwa apa yang dia lakukan adalah sekadar dorongan internal dan sesungguhnya tidak memenuhi syarat mengingat Golkar sendiri baru akan benar-benar bicara soal presiden pascapemilu legislatif.

Namun, jelas, dalam konteks kenegarawanan, langkah ini tidak populis dan cenderung memalukan. Strategi ini jelas akan makin memperkuat karakter pragmatis Golkar yang selama ini lekat dengan imej partai yang ”hobi” berkuasa dan ingin selalu berada dalam pusaran kekuasaan, apa pun harganya.

Akhir yang Tidak Manis
Dari ketiga skenario di atas, jelas tak ada satu pun yang benar-benar mengenakkan bagi seorang JK. Secara umum dapat dikatakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi adalah kalah, tetapi dengan cara terhormat atau tetap menjadi bagian kekuasaan, tetapi menanggung malu yang tidak akan mudah dilupakan, terutama oleh sejarah.

Akhir yang tidak manis ini jelas memberikan pelajaran berharga bagi siapa pun untuk, pertama, tetap berhati-hati dalam menentukan pilihan-pilihan politik yang belum dapat dibuktikan secara empiris. Kedua, mengimbangi pendekatan elitis yang terlalu yakin pada skenario dari sudut pandang figur dan tokoh politik di pusaran kekuasaan dengan sebuah observasi komprehensif dalam melihat kenyataan yang benar-benar ada di lapangan.

Ketiga, tidak mengunci mati pintu-pintu kerja sama dengan berbagai pihak, baik langsung maupun tidak, sehingga kanal-kanal politik yang memungkinkan peluang untuk dapat duduk dalam posisi tinggi dengan terhormat tetap terbuka.

Kasus blunder politik ini memperlihatkan bagaimana skenario elitis yang terlalu optimistis dan percaya diri yang berlebihan dalam dunia politik dapat berakibat fatal bagi masa depan politik seseorang, bahkan untuk orang besar sekaliber JK sekalipun.(*)

Sumber: Seputar Indonesia: Senin, 13 April 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/229346/

0 Responses to “Menimbang Langkah Politik JK Selanjutnya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: