Distorsi Praktik Demokrasi Kita

Oleh: Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Seorang wartawan senior sebuah majalah berita mingguan yang menjadi calon anggota legislatif dari sebuah partai politik, Rabu (1/4), mengatakan betapa miris hatinya karena praktik demokrasi di lapangan telah mengalami distorsi.

Dalam praktiknya di Indonesia, teori mengenai demokrasi yang kita baca amat berbeda. Pada hari yang sama, The Jakarta Post membuat judul yang amat mencolok, We’ll give you our votes, but what do we get in return (Kami akan memberikan suara kami untukmu, tapi apa yang kami dapatkan sebagai imbalannya). Politik uang (money politics) tampaknya sudah menjadi ”the name of the game” (aturan main) Pemilu 2009, jauh lebih buruk dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya pada era demokrasi ini.

Satu dekade reformasi politik yang membawa negeri kita kembali ke era demokrasi konstitusional tampaknya bukan membawa kita ke alam kematangan berdemokrasi, tetapi justru membuat negeri ini terjerembab ke dalam praktik demokrasi transaksional yang amat buruk. Pada tataran akar rumput, sebagian pemilih mengharapkan imbalan dari suara yang mereka berikan kepada partai politik atau individu caleg pada pemilu legislatif ini. Sebaliknya, elite partai atau sebagian caleg juga mempraktikkan politik bagi-bagi uang, barang, atau bahkan bahan-bahan pokok.

Sementara itu, pada tataran elite politik yang lebih tinggi, bukan program atau platform partai yang mereka tawarkan, melainkan sibuk dengan politik dagang sapi, bahasa kerennya, horse trading politics, untuk membangun koalisi politik pascapemilu legislatif atau menjelang pemilu presiden/wakil presiden langsung pada 8 Juli 2009 yang mungkin juga akan kian intens jika harus masuk putaran kedua pilpres pada September 2009.

Esensi demokrasi
Demokrasi memang bukan sistem politik yang sempurna, tetapi belum ada sistem lain yang lebih baik daripada demokrasi. Melalui demokrasi, secara teratur dan damai pada kurun waktu tertentu, rakyat dapat ikut berpartisipasi langsung untuk menentukan siapa yang akan menjadi wakil mereka di lembaga- lembaga legislatif dan pimpinan eksekutif. Pilihan itu didasari pada pertimbangan rasional, bukan emosional ataupun irasional. Pilihan partai sepatutnya didasari pada program/platform partai itu yang akan membawa mereka pada situasi yang lebih baik.

Pilihan pada orang juga didasari pada program-programnya dan bagaimana cara ia menjalankan pemerintahannya agar program-programnya terlaksana dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan bukan mimpi atau janji-janji muluk yang membuai atau memabukkan pemilih. Rekam jejak elite politik, kapabilitasnya dalam memimpin atau mengarahkan rakyat, juga menjadi bagian dari pertimbangan para pemilih.

Selain itu, para pemilih juga aktif secara terus-menerus berpartisipasi politik di antara dua pemilu, baik dalam melakukan tuntutan dan dukungan, berupa pengajuan petisi, demonstrasi, maupun masukan-masukan kepada parlemen dan pemerintah mengenai apa yang sebaiknya para elite politik lakukan. Jika rakyat pemilih tidak puas dengan kinerja para elite politik yang dipilihnya, mereka dapat memilih untuk tidak memilihnya kembali pada pemilu berikutnya.

Distorsi
Dalam praktiknya, pemilu ketiga pascaruntuhnya sistem otoriterisme ini justru semakin menampakkan berbagai distorsi. Bukan program yang diharapkan sebagian pemilih, melainkan imbalan uang. Bukan praktik-praktik berpolitik yang elegan yang ditunjukkan para elite politik, melainkan justru berbagai praktik kecurangan yang mereka tonjolkan.

Contohnya cukup banyak, dari soal pembuatan daftar pemilih tetap yang digelembungkan, masih adanya tarikan agar TNI dan Polri berpraktik politik, intimidasi politik yang dilakukan para aktivis Partai Aceh terhadap partai-partai lokal dan nasional di Nanggroe Aceh Darussalam atau ”penembakan misterius” terhadap aktivis Partai Aceh, tuntutan caleg dari delapan suku di Kaimana, Papua Barat, agar hanya orang asli Kaimana yang berhak maju sebagai caleg atau calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, dan sebagainya.

Rekrutmen politik juga belum menunjukkan perbaikan berarti jika tidak dapat dikatakan justru mengalami kemunduran. Harapan perempuan agar persentase kursi mereka di legislatif semakin membaik justru jauh panggang dari api. Partai-partai memilih caleg bukan atas dasar pertimbangan keahlian, tetapi sebagian didasari pada kapabilitas keuangan dan apakah mereka merupakan ”big man” di daerahnya. Jangan heran kalau premanisme politik tumbuh bak jamur di musim hujan.

Rekrutmen dan sosialisasi politik terhadap calon presiden juga belum memuaskan. Alih-alih memegang janji politiknya, PKS, misalnya, yang semula menggebu-gebu mengampanyekan para kadernya dan berteriak mengusung ”calon presiden di bawah 50 tahun”, kini justru hanya siap menawarkan dua kader buat jadi cawapres mendampingi SBY.

Para elite muda partai bukannya menggalang kekuatan untuk menunjukkan kemampuan mereka memimpin negeri ini, tetapi malah berlomba merebut jabatan cawapres. Ini bukan didasari pada realitas politik, tetapi lebih pada pragmatisme politik untuk merebut kekuasaan. Kekuasaan yang didapat juga bukan untuk kemajuan bangsa atau meningkatkan martabat bangsa, tetapi untuk kekuasaan pribadi atau kelompoknya sendiri.

Jika ini terus berlanjut pada Pemilu 2014 atau pilkada-pilkada mendatang, demokrasi Indonesia benar-benar sedang koma dan menuju mati suri. Sayang, perjuangan mahasiswa, organisasi masyarakat madani, kelompok menengah, dan kalangan tentara moderat pada 1998 untuk mereformasi politik Indonesia menuju demokrasi hanya berakhir dengan praktik ”demokrasi kaum penjahat”.

Quo vadis demokrasi kita.

Kompas, Selasa, 7 April 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/07/04423524/distorsi.praktik.demokrasi.kita

0 Responses to “Distorsi Praktik Demokrasi Kita”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: