Persaingan Miskin Visi dan Hilangnya Elite Cendekia

Oleh: Firman Noor, MA
Peneliti P2P LIPI Alumnus ANU, Australia,
serta anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan Ilmu PP AIPI

Pemilu ketiga di era Reformasi kian dekat. Namun, perdebatan-perdebatan politik yang dilakukan para elite dan petinggi partai politik (parpol) masih jarang menyentuh hal-hal yang bersifat fundamental, apalagi futuristik.

Alih-alih disuguhi perang pemikiran yang berkualitas, rakyat justru diberi sajian perang urat syaraf melalui saling balas kritik yang bersifat personal, sederhana, dan nyaris artifisial. Sementara perdebatan mengenai agenda dan program “raksasa” yang bersifat menembus waktu hingga beberapa dekade ke depan menjadi sesuatu yang tercecer dan asing, tergantikan oleh saling serang atau klaim yang demikian miskin visi.

Hilangnya Komunitas Elite Cendekia
Salah satu penyebabnya adalah elite politik saat ini tidak hidup dalam atmosfer yang memaksanya untuk bersikap visioner dan berkomitmen merancang masa depan bangsa secara sungguhsungguh. Kebanyakan dari mereka memandang hal itu bukan suatu yang urgen dan harus diurus dengan sepenuh hati.

Kelompok elite politik saat ini adalah kumpulan orang yang berpikir bagaimana berkuasa dan mempertahankan kekuasaan.Kekuasaan itu pun dianggap sebagai tujuan dan bukan sekadar alat. Dalam kondisi itu, perdebatan di antara mereka menjadi demikian diwarnai bahasa saling menjatuhkan, tidak berkekuatan mengubah, cenderung lari dari persoalan, dan tentu saja sama sekali tidak menggugah.

Situasi ini jelas merupakan kemunduran jika dibandingkan dengan karakter elite bangsa di awal terbentuknya negara ini. Di masa itu, elite politik disadarkan untuk berpikir dan berprilaku sebagai pemimpin yang mencerahkan.

Sebagaimana yang dikatakan Bung Hatta bahwa generasi di zamannya adalah orang-orang yang digerakkan oleh sebuah misi untuk memimpin bangsa ini untuk tidak saja dapat terbebas dari penjajahan, tetapi juga mampu berdiri sejajar dengan masyarakat dunia.

Atas dasar komitmen itu, mereka secara naluriah berlombalomba melengkapi diri dengan perangkat pengetahuan dan kearifan yang dapat dijadikan pegangan dalam menuntaskan misi suci itu. Salah satunya tecermin dari kemampuan berbahasa asing yang di atas rata-rata dan demikian fasihnya mereka untuk mengevaluasi dan memaknai kehidupan berbangsa berdasarkan kaidah-kaidah filosofis dan teoretis yang tengah berkembang di masa itu.

Kebanyakan elite politik bangsa pun berkecenderungan menjadi ideolog sekaligus politisi atau dalam bahasa Plato sebagai the philosopher kings. Dengan kebiasaan berpikir cendekia dan dilingkupi persaingan ideologis yang matang, tidak mengherankan jika perbincangan ataupun perdebatan para bapak bangsa bersifat melampaui zamannya.

Tidak mengherankan bila seorang Hatta misalnya bahkan sebelum Indonesia merdeka telah melihat potensi kehancuran kolonialisme dan bangkitnya Indonesia seiring dengan berjayanya kaum Asia yang diawali oleh bangsabangsa di Asia Timur.

Atau yang paling monumental adalah preambul konstitusi kita yang menjadi nadi pengikat eksistensi sekaligus penjuru bangsa. Sulit dimungkiri, Pembukaan UUD 1945 itu merekam visi pemikiran para bapak bangsa yang demikian otentik, modern, dan tampak akan selalu relevan hingga masa-masa yang jauh ke depan.

Tidak itu saja, karakter cendekia penuh visi yang bernas juga mengakibatkan pergaulan elite politik tidak seperti katak dalam tempurung. Beberapa elite politik bangsa kita saat itu adalah pemimpin kaliber regional, bahkan internasional. Ide-ide pemikirannya memengaruhi tidak saja bangsa Indonesia, tetapi juga masyarakat di banyak negara yang baru merdeka saat itu.

Sejarah memperlihatkan bagaimana misalnya ketokohan Natsir terasakan hingga Timur Tengah dan Jepang. Jejak Syahrir dapat dilihat hingga ke India dan pelosok Asia. Soekarno menjadi singa podium di PBB yang menginspirasi banyak orang mulai dari Cina hingga Etiopia.

Dengan kepercayaan diri yang tinggi dan komitmen elitenya yang demikian kuat,bangsa ini pun kemudian seolah didaulat untuk menjadi pemimpin bangsa-bangsa di kawasan Asia dan Afrika yang baru merdeka.

Mengapa?
Fenomena sedemikian tentu saja tidak muncul dalam kondisi vakum.Harus diakui sistem politik kita hingga kini masih memberikan peluang bagi munculnya kandidat yang bergizi dan elitis ketimbang bervisi dan populis.

Pintu masuk dari ini semua adalah kondisi parpol sebagai sebuah institusi penting dan absah dalam mencetak pemimpin bangsa saat ini yang belum memberikan ruang yang lapang bagi munculnya figurfigur visioner.

Dengan kuatnya oligarki di dalam partai, banyak tokoh muda dan kritis justru terjerembab dan ikut arus ketimbang memberikan pencerahan bagi partai (Lane, 2002).Desain parpol yang direduksi hanya menjadi “alat merebut jabatan” ditambah dengan masih lemahnya SDM dan kuatnya budaya patron-clientmaupun elitisme telah menjadikan lingkup internal partai lebih difokuskan pada soal-soal bagaimana berkuasa, tapi tidak untuk pengembangan wacana yang bersifat jauh ke depan.

Situasi sedemikian makin diperburuk dengan kenyataan bahwa proses penyeleksian calon elite bangsa yang demikian tertutup. Proses seleksi yang melibatkan banyak kalangan (semacam konvensi) pun semakin ditinggalkan. Dalam kondisi di mana pertarungan terbuka yang akan memancing objektivitas itu dihindari, perang gagasan yang cerdas seputar agenda, program, dan visi menjadi tidak terlalu penting.

Karena pertarungan politik tertutup lebih menyaratkan kemampuan menjaga “harmoni” antarelite politik dan jajaran pengurus di bawahnya, terutama melalui adanya kedekatan personal dan jaminan finansial.

Adanya kondisi ini membuat parpol yang seharusnya menjadi media pencerahan dan pendidikan politik bangsa benar-benar hanya menjadi pertarungan kaum elite miskin visi yang cenderung berpikir sederhana tetapi populer dan bergizi.

Di sisi lain masyarakat saat ini sejatinya tidak pula memaksa pemimpin untuk malu berpikir dan berbuat sederhana. Kebanyakan mereka berdiam diri dan bersifat menunggu.Keputusasaan mereka dalam dunia politik hanya diekspresikan dalam bentuk golput yang semakin merangkak naik.

Sementara mereka yang masih aktif dan percaya dalam berpolitik cenderung tidak banyak menuntut adanya perubahan dalam perilaku dan pemikiran orang-orang yang dipercayai. Pun dalam beberapa kasus, khususnya dalam konteks kepemimpinan nasional, terlihat bahwa karisma dan soal-soal artifisial tetap memegang peranan dalam menuntut masyarakat menentukan pilihannya.

Adapun program politik dan tindakan politik rasional meski berkecenderungan meningkat belum sepenuhnya menguasai tingkah laku politik masyarakat. Situasi kehidupan politik inilah yang dimanfaatkan sebagian besar kalangan elite untuk tetap “tampil apa adanya”.(*)

Sumber: Seputar Indonesia, Rabu, 01 April 2009

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/225717/

0 Responses to “Persaingan Miskin Visi dan Hilangnya Elite Cendekia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Joint at Milist AIPI

Publikasi-Publikasi AIPI
















Jejak Pengunjung

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: